Amarah

“Kamu tidak tahu bagaimana rasanya,” ia menatap jutaan bintang di langit. Aku juga.

“Ia bilang aku tidak serius memperjuangkannya.” Lalu matanya beralih padaku. “Aku serius. Hanya saja permintaannya terlalu mustahil kukabulkan.”

“Tidak mustahil, kamu hanya tak mau berusaha.”

“Berusaha yang bagaimana? Ia menuntutku melamarnya dalam hitungan minggu. Aku bahkan belum mendapat pekerjaan. Apa yang bisa kukatakan di depan keluarganya?” Ia kembali menatap langit.

“Aku menurunkan semua keinginanku. Ingin menikah di usia 27, sudah kumajukan setahun. Ingin memiliki mobil dulu, telah kuubah jadi motor. Aku meminta waktu lebih lama, akan kuusahakan, T.” Ia melanjutkan.

Aku masih tak tahu harus menjawab apa. Mulutnya kembali terbuka, “siapa yang ingin hubungannya hancur di tahun ke 7? Aku pun tidak. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya.”

“Berhentilah bilang begitu. Aku tahu rasanya.

Hubunganku hancur saat menapaki yang ke 9!” Aku membuang nafas. “Kamu hanya butuh sedikit berusaha. Tapi aku? Aku diminta mengubah masa lalu. Apa menurutmu itu hal yang bisa kupenuhi?”

“Memang, penjahat- penjahat itu hanya mencari alasan melepas kita.” Ia membetulkan tangan untuk menjadi bantal.

“Bagiku, dia bukan penjahat, B.” Amarahku menguap.

“Jangan membelanya, T. Katakan padaku, apa namanya kalau bukan penjahat? Dia tidak memberitahuku kalau sudah dilamar. Ia bahkan masih datang kerumahku dan mengajakku bermesraan! Masih bersikap manis di depan ibuku, dan semuanyaa..” ia berhenti dan terduduk. “Semuanya kepalsuan, T!”

Aku  menatap punggungnya yang naik turun melepas nafas. Suara deburan ombak mempertegas amarahnya.

“Bersabarlah, B.” Pasir menggelitik pipi saat aku menoleh dan meniringkan badan.

“Tidak. Aku marah padanya. Marah. Ia berulang berujar : aku temannya. Tapi, teman yang seperti apa, kalau yang ia lakukan masih sama. Iya, dia mengajakku jalan. Dia memelukku saat kubonceng. Ahh..” Ia berbalik menatapku.

“Waktu itu, aku sempat menyerah dengan mencari kekasih lain. Banyak perempuan kudekati, tapi semuanya buntu, termasuk mendekatimu.” Ia mengambil jeda. “Kukira, mungkin ia jodohku, ia sedang mengujiku. Aku berjuang mendapatkannya, lagi. Tapi apa yang kudapati?” Aku bangkit di sebelahnya.

“Ia membawa segepok undangan di kantorku, T!” Aku menepuk pelan pundaknya. “Satu diberikan untukku sambil meminta maaf. Ditambah dengan sebungkus pentol. Katanya : aku tahu, B, itu kesukaanmu. Maksudnya apa?”

Aku mengangkat bahu, tidak tahu. “Kamu makan?”

“Tidak. Ku tinggalkan dia, tanpa bicara. Di depan ruanganku, kubuang pentolnya.” Aku kembali mengusap punggungnya. “Kubuka undangannya. Disana tertulis tanggal- tanggal penting mereka. 6 Juni bertemu, hanya selisih beberapa hari dari putusku. Oktober lamaran, aku bahkan masih menganggapnya kekasih saat itu.”

“Sabar, B.” Aku menggenggam tangannya.

“Apa salahku, T? Apa ia tidak ingat siapa yang mengantarnya pulang selama kuliah? Siapa yang selalu ada saat ia sakit? Semua perjuanganku selama ini, apa ia tidak mengingatnya? Bukankah 7 tahun tidak singkat, T?” Tatapannya jauh ke seberang lautan.

“Hatiku bertambah hancur saat melihat ibuku bersedih, T. Ia sama marahnya denganku. Aku, yatim yang dibesarkannya, disakiti sedemikian rupa. Kenapa? Ini tidak adil, T!” Dari matanya keluar api menjilat- jilat.

“Aku menganggapnya musnah. Meski kadang sulit, T. Ruangan kerjaku dan semua tentangnya berseliweran di sekelilingku. Ditambah lagi dengan teman- temanku, yang juga temannya, menyalahkanku atas semua yang terjadi.” Genggamannya kian erat.

Aku tersenyum, “kenangan bukan disana, B. Kenangan ada disini.” Kupegang dadanya. “Kalau disini ia sudah tidak ada, kenangan tentangnya juga ikut hilang.”

“Tapi ia datang, T. Tanpa malu ia memintaku menjadi temannya dan merajuk saat aku tak memberi kabar telah melamarmu. Apa artinya?” Hanya debur ombak yang menjawabnya, aku memilih diam.

“Ahh..” ia menggeleng mengusir kenangan. “Seumur hidup, aku membencinya. Aku ingin ia hancur. Aku tidak rela, T!” Lalu sumpah sarapah keluar dari seluruh tubuhnya. Kata- kata saja tak cukup menggambar kebenciannya. Nafasnya terengah, “hanya dengan bersimpuh di depan kaki ibuku, aku akan memaafkannya.”

Kubelai rambutnya. Kemarahan membuat seseorang tampak lemah. Api yang berkobar di matanya padam menyisa bara yang debunya berserak.

Ia meletakkan kepala di pangkuanku. Matanya memejam, lelah. Aku mengecup bibirny pelan, lalu kembali menjatuhkan tubuh di pasir. Cukup malam ini saja masa lalu, luka, juga amarah berhamburan. Biar semuanya hilang terbawa angin ke lautan.

Mata kupejamkan.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s