Dear, diary..

“Jangan lama- lama ya.” Kalimat itu keluar begitu saja. Mataku mengatup. Dan tanganku rapat mengunci mulut, jangan sampai ada kalimat kekanakan semacam itu lagi.

Di seberang telepon, ia tertawa, “iyaa iyaa.. sebentar kok.” Seolah sedang menenangkan anak- anak. Masih dalam pejam, aku mendengarkan. Seperti sedang menyelam di matanya. Atau sedang melihat ia tersenyum dengan pipi yang terkadang berlubang.

Belum genap semalam kami benar- benar saling menatap. Namun, kau tahu, jarak dan waktu begitu kejam. Mereka berlarian, menarik belahan jiwa ke ratusan kilometer jauhnya dari tempatku berpijak.

Tak lama, telepon kembali berdering. “Halo halo halo haloo..”

Aku mendengar ia tersenyum, “halo,” jawabnya. “Ada cerita?”

Tak ada,



tidak ada cerita apa- apa. Tapi itu tidak penting, toh akhirnya ia mulai berkisah. Tentang segala hal, yang beberapa dari itu (atau bisa dibilang semuanya) sudah pernah ia ceritakan.🙂

Pikiranku melayang- layang, sejak kapan suara seseorang bisa demikian menenangkan? Sejak kapan dia mengubah diri menjadi candu? Dan aku merasa tak pernah cukup.

Kau tahu, sejak dulu teman datang dan pergi di perjalananku. Aku tak takut sendirian dan kesepian. Merasa ditinggalkan juga sudah ku-akrabi dari lama. Iyaa.. kini kau mengerti, apa yang membuatku sekeras ini.

Namun, dia berbeda. Dia membuatku merasa..

Merasa seperti..

Aku takut kehilangan.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s