Pada suatu hari..

“B?”

“Iya?”

“Aku ingat satu Sabtu.”

“Sabtu kapan?” Ia masih mengutak atik komputer di hadapannya.

“Sabtu itu..” aku sengaja menggantung kalimat. Ia menoleh, menatapku untuk mendengarkan lanjutan cerita. Lalu, seolah mataku meminta, ia mematikan komputernya. Kami saling melempar senyuman.

“Sabtu itu, aku keluar sama temanku tanpa handphone. Sewaktu pulang, aku berharap ada, setidaknya, seseorang yang mencariku saat handphone kunyalakan. Tapi tidak ada.”

“Terus?”

“Aku mengirim pesan ke kamu, B. Entah untuk alasan apa.”

“Iyaa.. terus?”

“Kamu bilang sedang keluar, padahal sudah larut malam. Kukira itu pasti penting, karena biasanya kamu akan bilang keluar kemana dan dengan siapa untuk keperluan apa. Kamu memang begitu, meski waktu itu kita berteman saja.”

“Aku masih belum ingat, T.”

“Minggu, pagi- pagi sekali teleponku berbunyi.” Matanya menyelidik,

aku tertawa. “Dari siapa lagi kalau bukan kamu, yang teleponnya nggak lihat- lihat waktu.” Kami tertawa.

“Teruskan, T.”

“Kamu bercerita semalam pulang larut hingga jam 1 pagi untuk menghibur seorang yang patah hati.”

“Ohh.. ya. Aku nggak mungkin lupa, kalau itu. Aku seperti badut atau barangkali pelawak kehilangan lelucon di depannya. Terus?”

“Malamnya, kita masih mengobrol di telepon. Dan keesokan harinya aku menghilang.”

“Aku lupa..”

“Aku ingat. Waktu itu aku terbangun pagi hari dan kepikiran tentangmu.” Ia tersenyum. “Tidak, aku belum jatuh cinta ke kamu, B. Jangan berpikiran begitu.

Waktu itu, menurutku ini kesempatan baik untukmu mendapatkan hatinya. Dan sebaiknya, kita tidak terlalu dekat. Yyaa.. itu tidak baik.”

“Terus?”

“Pesanmu masuk dalam jumlah banyak, yang kesemuanya hanya kubaca. Panggilan teleponmu semula kuacuhkan, sampai aku merasa kasihan. Hehehe.” Ia diam, tatapannya berkata, tidak ada yang lucu, T.

“Kamu bertanya berulang- ulang, aku kenapa. Kubilang, tidak ada apa- apa. Kamu bertanya lagi, kamu marah aku keluar sama X sampai hampir pagi kemarin. Aku kaget harus jawab apa. Kamu ingat?”

“Iyya, sedikit.”

“Tapi aku tidak marah, B. Tapi aku juga tidak bilang alasannya.”

Ia tersenyum, “kenapa tiba- tiba ingat itu?”

“Berarti, B, jodoh itu bukan harus plan A kita. Siapa sangka, orang yang tak hindari, tak cuekin, sampai akhirnya jadi musuh bebuyutan. Lalu, saking sering saling mengolok, entah bagaimana, bisa jadi teman terbaik untuk bercerita. Dan hebatnya lagi kini justru menjadi tempatku menjatuhkan hati.”

“Aku juga begitu, T. Perempuan yang kuajak keluar banyak. Tak terhitung yang kudekati dan kesemuanya bisa dibilang menarik.” Ia mengambil nafas. “Aku tidak bilang, kamu tidak menarik, T. Jangan menatapku begitu.” Ia mencubit ujung hidungku.

“Kamu ingat malam pas menginap di rumah temanmu, B? Barangkali itu pertama kali aku tidur nyenyak setelah berbulan- bulan. Yaa, aku merasa lega, cintaku memiliki rumahnya.”

“Iyya.. itu juga kali pertama aku yakin. Meski banyak perempuan yang kudekati, hanya satu yang setiap kali pesannya kuterima, kubaca dengan perasaan senang.”

Kami bertatapan lama, sebelum akhirnya ia menarikku dalam pelukan.

3 thoughts on “Pada suatu hari..

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s