Tahun Baruan #2

Sudah berhenti nyarinya. Senter yang dipake Mas Waras sudah dibalikin ke tempatnya. Ibuk ngepel teras yang banjir karena ikan di kolam mainan kejar- kejaran.

Tiba- tiba Reza bersorak, “loh, ini lo, Yah.” Si burung sembunyi di antara ban motor dan jok sepeda di sebelah Reza dan ayahnya yang benerin kurungan.πŸ˜€ Burungnya langsung lari keluar, pas Reza teriak. Saya bersyukur. Ibuk dan Mas Waras juga. Hehehe.

Sambil menunggu kekasih pulang, ngobrol sama ibuk dan Reza di depan pintu. Berulang kali Reza cerita aksi heroiknya menemukan burung. Dan setiap kalinya, selalu ia bumbui dengan tawa bangga.

Kekasih pulang jam setengah 6. Dia tampak kelelahan.😦 Bagaimana tidak? Waktunya tidur bahkan kurang dari 3 jam.

Singkat cerita,
kita berangkat malam tahun baruan jam setengah 7, sebelum jalanan padat dimana- mana. Kekasih lewat jalan- jalan kecil yang sama sekali asing buat saya, untuk menghindari kemacetan. Tujuan pertama, seperti rencana awal, adalah Stillrod!

Kafe bernuansa London ini kami pilih dengan alasan letaknya yang di pusat kota (sebelah Taman Bungkul) dan sama- sama belum pernah kesana. Tahun baru harus coba segala yang baru. Hahaha..

Saya pesan nasi goreng yang namanya saya lupa, karena susah diingat. Kekasih pesan pasta. Minumnya, kekasih pilih kopi dan saya coba London Eye (semacam lemon dengan soda). Harganya relatif mahal. Dengan budget yang sama, seharusnya kami bisa makan di PH sampai perut meledak.

Soal rasa? Makanan saya sangat memuaskan.πŸ˜€ Kekasih sepertinya nggak terlalu nyaman, karena biasanya dia semangat makan, tapi kali ini agak ogah- ogahan. Pas saya coba pastanya, ternyata berasa seperti varian rice box yang saya hindari : black pepper.

Ohya, pertama, saya kurang begitu enak karena bangku yang kami pilih terlalu tinggi. Kaki saya pegal menggantung, sebab nggak nyampe lantai. Dan sandarannya tegak seperti sedang di kereta Dhoho. Lalu, kami pindah ke sofa di luar. Empuk dan nyaman seperti makan di rumah sendiri.

Tempatnya asik, suasananya seperti di London (meskipun saya belum pernah kesanaπŸ˜† ). Ada salah satu sudut dengan kotak berisi telepon umum berwarna merah menyala yang diatasnya penuh salju. Tempat makan ini juga menjual beragam souvenir. Selain harganya, semuanya saya cocok. Hihihi.

image

Kita foto berdua aja, nggak foto suasana cafenya. Kalau penasaran silakan googling sendiri. Hehehe

Keluar dari Stillrod, masih jam 8, lanjut ke tempat car free night yang katanya ada di seputaran Blauran sampai Bambu runcing.

Eh, pas sampai disana. Tidak ada acara apa- apa. Kami hanya mendapati mobil berbaris, itupun nggak sepadat jalan di sekitaran Taman Bungkul.

…. bersambung

*buru- buru di publish karena kekasih nanya, ‘lanjutannya kapan?’πŸ˜†

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s