Tahun Baruan #3

Kekasih memutar motor menuju Bambu Runcing, siapa tahu car free night bergeser kesana. Tapi nihil. Sebelumnya, kami sempat ketemu ada keramaian di jalan kecil ke arah Grahadi. Jadi keinget, malam pas perjalanan dari Bungur menuju rumah, memang sedang dibangun panggung besar di Jalan Gubernur Suryo.

Setelah motor rapi parkir, kami jalan mengikuti keramaian. Bertambah mengecewakan saat ternyata tidak ada hiburan apa- apa, selain rombongan yang duduk lesehan di tengah jalan seperti orang kondangan. Musik menggelegar menyanyikan dangdut dari panggung utama.

Bayangan tentang berjajarnya komunitas BMX, papan luncur, dan banyak lainnya, musnah sudah. Kekasih kecewa, “adek nggak beruntung, datangnya pas tahun baru ini.” Saya nggak merasa begitu.šŸ˜€ saya selalu beruntung kalau bisa menghabiskan waktu bersama. #heyyyaaa..

Saya menawarkan ide untuk jalan ke Delta, nonton film jam 9 sampai jam 11, habis itu balik lagi kesitu. Kekasih lebih memilih
nongkrong di PH sambil nungguin jam. Akhirnya kedua pilihan itu dibatalkan, entah karena apa. Hehe.

Kami berjalan dari Grahadi sampai air mancur. Lalu balik lagi dan mampir beli kembang gula.šŸ˜€ ada beberapa warna, kekasih pilih yang putih, itupun minta yang fresh baru dibuat.

Setelahnya, kami ketemu tempat untuk duduk di trotoar sebelah mobil- mobil pejabat diparkir. Sengaja nyari yang terang ben bagus pas difoto. Hihihi.

image

Udah, anggap aja bagus! Ya kan?

Kekasih terakhir maem kembang gula pas SD. Dianya lucu banget maemnya. Sampe gulanya nempel semua di gigi, juga di jari tangan. Saya sampai sakit perut ketawa.šŸ˜€ how lovely he is!

Kebanyakan ngobrol bikin saya haus, tapi harus ditahan. Kenapa? Orang jualan air memang agak jauh dan nggak mungkin lewat di dekat kami karena erhalang mobil. Meninggalkan tempat duduk akan membuat kami kehilangan tempat. Hehe. Saya menawarkan beli air sendiri, tapi ditolak, barangkali kekasih nggak tega. Sama nggak teganya juga kalau dia yang beli air sendiri.

Makin malam, jalanan semakin padat. Trotoar yang tadinya longgar, bertambah sempit. Beberapa orang berjubel di sebelah kanan – kiri – belakang kami. Asap rokok dari belakang, membuat tempat saya duduk jadi nggak nyaman. Akhirnya, memutuskan untuk beranjak pergi.

Air minum di tangan, kami berjalan mendekati panggung, tapi kerumunan begitu padat. Ditambah lagi, angin sama sekali nggak ada. Yaa.. diantara sekumpulan orang sebanyak itu : sumuk dan sesak.

Kami menuju arah sebaliknya. Sama saja. Trotoar penuh. Ada tempat diantara pasangan- pasangan yang berjajar, tapi rasanya terlalu sempit dan tidak nyaman. Kekasih melihat tempat yang kosong, tapi mengurungkan niat untuk duduk disana karena bersebelahan dengan tempat sampah. Hehehe.

Sepanjang yang dilihat, hanya orang- orang berkumpul, entah menunggu apa. Kami nggak mendapat alasan untuk tetap disana. Di beberapa portal online yang tadi sempat kami baca, pemerintah Surabaya memang tidak menggelar pesta tahun baru dengan meriah. Tapi, tiba- tiba kekasih melihat seseorang. Kami memutuskan tetap tinggal.

Siapa dia? Yang jelas bukan mantan.šŸ˜†

… bersambung

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s