Tahun Baruan #5 – end

Butir- butir hujan jatuh tepat setelah kembang api terakhir padam diiring decak kagum dan tepuk tangan. Jalanan mulai ditinggalkan. Kami melangkah menerobos keramaian. Antrian berjalan begitu lambat di jalan sempit, itupun dibagi menjadi dua arah.

Kekasih sempat ingin berteduh, sebelum saya bilang, “yang penting ketemu motor dulu lah, mas.”

Sesampainya parkiran, motor aman, jaket juga aman. Kami berteduh di emperan sebuah bank. Sebenarnya, tidak seberapa deras, hanya saja nekat menerobos jalan pasti membuat kami basah. Apa pasal? Motor bejubel hampir dipastikan kemacetan membuat kami terjebak di bawah hujan.

Pemotor mulai surut. Kami bergegas pulang. Sepanjang jalan, saya merayu kekasih untuk beli maem. Saya tahu, si mas pasti kelaparan. Maem malemnya tadi cuma pasta yang bahkan nggak cukup buat ngganjal perut. Hehe. Dan, meskipun butuh perjuangan, akhirnya berhasil.πŸ˜€ Nasi bebek kesukaan kekasih meluncur bersama kami ke rumah.

Jam 2 tepat. Setelah menemani kekasih maem, saya terlelap.

Paginya, saya terkejut saat melihat jam!
Jam 7 pagi! Saya kesiangan di rumah calon mertua. Itu hal tergila yang pernah ada! Ibuk dan kekasih sudah rapi, ngobrol di ruang tamu.😦 Ibuk bilang, semuanya bangun siang hari ini, tapi tetap saja tidak mengobati perasaan saya. Ahh..

Setelah sarapan, kekasih dan ibuk tidur, kecapekan. Reza dan saya ngobrol. Rumahnya sebelah rumah kekasih, nah, si Reza ini ditinggal ibu bapaknya keluar beli karpet. Hehe. Jadi, lumayanlah ada yang nemenin.

Kami duduk sandaran di kursi tapi saling membelakangi. Reza mirip sekali sama omnya, kalau cerita semangat banget. Panjang lebar kali tinggi, deh. Sesekali saya ketiduran dan nyahut, “iyaa.. terus?” Lalu lanjut tidur lagi. Hahaha.. maafkan tante, ya Za.πŸ˜€

Pas Reza selesai cerita, saya ajak dia main Glow Hockey di hape. Ada Ais juga, keponankan dari mas yang pertama. Main barengan. Seru. Saya gemes pas dua bocah ini manggil tante. Lucu, aneh, tapi nyenengin. Hehe. Ini kali pertama buat saya.

Sebelum Jumatan, dua keponakan sudah dijemput ibu bapaknya. Saya pindah ke kamar ibuk, nglanjutin tidur.

Sepulang kekasih Jumatan, saya sudah siap- siap untuk diantar balik ke Kertosono. Sebenarnya sudah makan siang tapi matanya laper, pengen mampir PH.πŸ˜€ menu pizza terbaru itu bikin saya ketagihan. Haha.

image

Putih- putih seperti caleg PKSπŸ˜€

Jam 3, kami berangkat ke Bungur, jam 4 sudah duduk tenang melaju bersama Mira, setengah 6 sampai di Kertosono.

Dan… meski sedih, usai sudah kemeriahan tahun baru saya.😦

Selama hari- hari dekat dengan kekasih, membuat saya sadar satu hal : ia akan mengusahakan segala cara memenuhi apa yang saya minta. Entah karena saya terlalu memaksa atau barangkali ia tidak pernah benar- benar ingin membuat saya kecewa.πŸ™‚ yyah, saya harus selektif kalau mau minta macam- macam.

Terimakasih banyak banyak banyak banyakk… sayang. Ini perayaan tahun baru terindah yang pernah tak punya. Terimakasiihhh.

I love you.

*Selama penulisan, kekasih paling nggak sabar nungguin kelanjutan setiap ceritanya. Dan saya, tak ingin membuatnya menunggu terlalu lama. Hehe.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s