Sengkuni

Sedih menggantung di langit- langit rumah lebih dari sebulan ini. Dulu, dibahas sembari lalu. Kini, mewujud dan kian mengganggu.

Pertama- tama.. ini penting untuk diketahui : Bapak dan ibuk saya PKL. Menjajakan buah di tepian jalan.🙂

Seingat saya, awal Desember lalu, semua PKL dikumpulkan dan diberi pengarahan bahwa mereka sangat mengganggu. Selain berbahaya untuk pengguna jalan, juga untuk penjualnya sendiri. Setelah basa basi yang berbusa- busa, PKL dilarang.

Seandainya ada relokasinya tentu saja orang tua saya setuju. Tapi, mereka tidak diberi pilihan lain. Alhasil, seperti yang sudah- sudah – ini bukan kali pertama. Penyuluhan itu mungkin untuk
formalitas saja, menghambur- hamburkan menggenapkan anggaran.

Masalah bapak ibuk belum selesai. Lepas dari kandang singa, masuk ke kandang buaya. Mungkin itu istilah yang tepat. Hahaha..

Tepian jalan tempat berjualan berada tepat di seberang rumah seseorang sebut saja X, dipisah oleh kali kecil. Tanpa pemberitahuan apa- apa, secara halus mereka diusir. Bagaimana cara yang halus itu? X membangun jembatan yang kalau bapak ibuk tetap berjualan disitu berarti akan menutup jembatannya.

Beberapa hari yang lalu, suami si X bermanis muka berkata : ini hanya sementara saja sampai semennya kering nanti kalau jembatannya sudah jadi, tetap disitu nggak apa- apa. Hari ini? Lain. Besok bapak dan ibuk harus angkat kaki. Itupun disampaikan oleh orang lain, X dan suaminya tidak bisa ditemui. Barangkali malu sendiri.

Bagaimana tidak malu? Selama kesusahan, cuma bapak ibuk saya yang rela membantu. Dan kini, demikian teganya.😀 memang, manusia.

Kalau di posisi X, bisa jadi saya juga begitu. Sangat bisa jadi.🙂

Iya, suami tidak berpenghasilan dan istri hanya menunggu komisi dari jasa ekspedisi. Anak pertama pengangguran dan sakit- sakitan. Anak kedua di perantauan dan tak pernah pulang. Kehidupannya begitu- begitu saja.

Sementara orang yang bekerja di seberang rumahnya. Dalam 7 tahun, lima motor dan mobil kebeli. Membangun rumah besar dan kecukupan. Anak pertama punya penghasilan, sedang yang kedua PNS di Papua yang sering mengirim uang. Praktis, adalah kehidupan yang diinginkan semua orang.🙂 jadi, wajar jika ada yang iri dan buta hati.

Tak terhitung berapa banyak sengkuni di sekitar si X. Memprofokasi bahwa orang yang mengais rejeki di seberang rumahnya mempunyai dua kios yang keduanya dijaga keponakan merangkap karyawan. Kehilangan satu tak akan jadi soal. Mereka menghitung- hitung keuntungan bapak saya : goblok- goblokan ae loh lek bendino kulakan blah blah blah blah kalikan untungnya blah blah blah, sehari bisa dapat blah blah blah.

Saya mendengar cerita itu dari Bapak dan ketawa. Mereka tidak pernah menghitung berapa kilo yang dibawa setiap pulang karena busuk. Berapa biji semangka atau melon yang rusak karena hujan. Atau, berapa kardus pir, apel, dan kelengkeng bahkan anggur merah yang menumpuk dan rela tidak rela harus dibuang.😀

Saya bilang ke bapak : jangan mengeluh ke orang lain. Yakin, nggak malah dibantu, malah ditertawakan. Hahaha.

Yya sekarang ini makin kelihatan, mana yang teman dan yang bukan. Saya kaget sendiri menyadari bahwa tetangga kanan kiri 7 tahun ini, hanya satu orang yang benar- benar tulus dan simpati.🙂 terimakasih.

Pasti ada hikmah dari semua kejadian ini. Pasti. Semoga bapak dan ibuk diberi kemudahan di segala bidang. Selalu sehat dan bahagia. Semoga..

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s