hadapi dengan senyuman

Alhamdulillah…πŸ™‚

Hari ini beban kepala saya ilang 20 persen. Hehe.. UN SMA akhirnya selesai juga. Ini yang beberapa bulan menyita perhatian saya.

80 persen sisanya apa? Bapak saya. Ceritanya panjang, bisa di skip sampai tanda bintang berikutnya, hehe..

*
Selasa (22/3) bapak kesakitan di bagian kaki dari pagi, padahal hari itu juga sedang ada hajat di rumah bebarengan dengan kejuaraan Dek Fifi dan USEK murid kelas 12 saya. Pikiran terpecah- pecah dan otomatis bapak bukan prioritas utama. Kenapa? Karena ini bukan kali pertama, memang sejak lama kaki bapak sakit tapi ini yang terparah.

Agak siang, bapak dibawa pijat. Ajaibnya, bisa sembuh total dan hampir- hampir sama sekali nggak merasa punya kaki. Hehe. Sorenya, bapak juga diperiksain ke medis yang hasilnya adalah asam uratnya tinggi. Nah, itu alasan kenapa kaki bapak sakit tidak tertahan.

Setelahnya, bapak masih bisa nyetir sendiri kulakan ke Kediri. Masih ngobrol sama saya, bercanda sambil nutupin kios buah. Sampai.. kejadian fatal itu tiba. Bapak nerima sekardus manggis, yang kurang lebih 12 kilo dari ibuk, padahal posisinya masih belum siap. Seketika bapak jatuh. Jam sudah menunjuk pukul 11 malam, segera bapak dibawa pulang dan saya lanjur beres- beres kios.

Satu jam berikutnya,
beempat dengan ibuk dan teman bapak, kami berangkat ke tukang pijat yang sama. Setiap kali dipijat bagian kaki, sakit pindah ke punggung dan sebaliknya.

Tukang pijat bilang, “ini bukan sakit biasa, Pak. Saya nggak mau suudzon sama orang, tapi ya lebih baik njenengan waspada.” Yyah.. ini juga bukan pertama kali dapat peringatan bahwa ada yang sedang menggunakan kekuatan gaib untuk mengganggu usaha bapak.

Setelah 3 jam dipijat dan 3 kali mencoba berdiri (meski gagal), kami menyerah. Sepulangnya, melihat bapak digotong dan kesakitan, membuat hancur perasaan saya. Sepanjang jalan, saya hanya diam sambil mengusap air mata.

Waktu berjalan lambat, jam 4 pagi, kami sepakat membawa bapak ke Jombang. Bersyukur semuanya lancar, bapak mendapat perawatan yang baik. Didampingi 3 dokter, masing- masing spesialis saraf, tulang, dan fisioterapi.

Diagnosisnya : murni kecetit. Bantalan antara tulang ada yang terjepit, beruntungnya belum pecah, sehingga ada kemungkinan sembuh.πŸ™‚ Rabu (30/03) malam, bapak sudah kembali ke rumah bersama kami.

Saya masih ingat betul, setiap malam selesai ngajar jam 8, bantuin beres- beres kios sampai jam 9. Lanjut motoran ke Jombang, kadang sendirian, cuma buat cerita ke Bapak apa yang sudah terjadi seharian. Hehe. Sehabis Subuh, balik ke Kertosono lagi. Istirahat sebentar, setengah 8 bantuin buka kios lalu kulakan ke Kediri (sama sopir), pulang, dan ngajar lagi.πŸ˜€

Proses penyembuhan bapak belum signifikan tapi ada perkembangan. Dulu, hanya bisa tidur miring sambil memeluk lutut, sekarang sudah bisa tidur telentang.πŸ™‚ bisa miring kiri kanan dan duduk sebentaaarr (paling lama 2 menit).

Semua aktifitas bapak otomatis butuh bantuan, yang paling pribadi sekalipun. Kadang saya mendapati bapak memejam dan menangis, terutama saat setelah minta tolong dibantuin buang air. Dan, yyah.. apa yang bisa saya lakukan selain mengajaknya berbincang agar segera lupa.

Pernah suatu kali, bapak sambil menutup mata bilang, “mbak, Bapak tak di rumah belakang nggih pas saman menikah.”

Saya sedih, tapi jangan sampai terlihat, “ya disini to, saman dibelakang loh sama siapa. Kalau pengen minum sama maem gimana? Optimis bapak, ndang sembuh. Nggak usah dipikir, saman mau maem apa sekarang? Tak ambilin roti ya.” Langsung ke kamar mandi dan nangis sepuasnya.πŸ˜€
*

Saya tidak hendak mengeluh dengan keadaan kami sekarang, malah bersyukur bapak masih ada harapan bisa beraktifitas normal lagi. Tak mengapa menunggu 5 atau 7 bulan bahkan setahunpun. Saya dan semua keluarga optimis.πŸ™‚

Dua hari lalu, terapi pertama dari jatah 16 terapi sesi seminggu 3 kali. Bapak pulang dengan wajah berseri, “bapak optimis mbak, bisa sehat lagi setelah 5 pertemuan.” Saya mengaminkan. Katanya, kesembuhan itu berasal dari diri sendiri, bapak optimis begini rasanya saya semakin yakin beban ini tidak lama kami pikul.

Wew.. panjang yaa.. hehe. Ohya, pernikahan kurang xx hari dan sama sekali tidak terlintas di kepala saya tentang persiapannya sejak bapak sakit. Bahkan undangan belum pesan. Semoga Tuhan mempermudah jalannya dan yang lebih penting : semoga bapak segera sembuh.πŸ™‚ amin.

Saya masih menyimpan wejangan Bapak : Tuhan tidak pernah tidur, apalagi sengaja tutup mata.

2 thoughts on “hadapi dengan senyuman

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s