My Prewedding Story [H – 59]

Jum’at (19/02) kiriman surat dari si mas sudah saya terima. Tapi belum tersentuh hingga hari ini. Hehe.. baru akan saya lanjutin besok.

Minggu (21/02) saya habiskan untuk survei dari salon ke salon. Tadinya pengen rias dari Kediri, tapi saya nggak seberapa paham. Nah, karena Bapak asli Jombang, jadi ya banyak saudara yang bisa dimintai info tentang salon disana.

Kenapa nggak dari Kertosono? Ceritanya panjang, intinya beberapa teman ibuk sudah menawarkan diri merias saya. Nah, kalau pilih Bu A, nanti nggak enak sama Bu B, milih Bu B nggak enak sama Bu C, dan seterusnya. Iya, kalau cuma 3, ini 6! Ibuk dulu perias juga, jadi teman periasnya banyak. Setiap ditanya, ibuk bilang, “nanti yang merias, teman bapaknya kalau nggak temannya Tutus.”πŸ˜€

5 salon dikunjungi dan entah karena apa saya cocok dengan yang terakhir : Lily Salon. Hehe. Semua yang saya pengen langsung diterima dengan baik. Untuk rias memang saya agak rewel. Sebenarnya pun, pas nikah juga saya pengen dirias ibuk, tapi alat riasnya nggak ada. Nah, kalau dihitung- hitung malah jadi lebih mahal dan nggak efisien. Ibuk kan nanti yang diurusi banyak, tamunya juga, intinya nggak praktis lah.

Tidak hanya memenuhi yang saya pengen, keinginan ibuk dan ibuk mertua juga :

pasang kuade. Dari dulu, saya nggak mau duduk di pajang di kuade. Malu. Tapi, bagaimana lagi? Manut saja laah. Hehe. Sesuai dengan yang ibuk rencanakan, kuadenya dari gabus dan bunga hidup. Belum tahu pastinya sih, tapi yang dipamerin di album kelihatan bagus.πŸ™‚

Sedari ibuk mulai merias, punya cita- cita anaknya kalau menikah pakai adat jawa. Dan.. lagi- lagi salon Lily menyanggupi. Jadi agak ngubah sedikit susunan acara. Akadnya dengan baju eropa muslim, sorenya solo putri. Hehe. Tadinya kan mau dilangsungin nggak pake ganti baju.

image

Bajunya masih kegedean, nanti di-pas-in lagi.

Dokumentasi juga ikut dari salon. Itu sudah foto dan video. Bonusnya juga nambah untuk rias ibuk dan besannya. Duh.. saya nggak tahu caranya ngitung, yang jelas itu masih sesuai dengan anggaran.

Selesai dari salon, pengen ke Mayar (toko roti terenak versi saya) tapi ternyata tutup. Lanjut ke Budhe yang handle masalah konsumsi. Ini agak rumit. Saya pengen sederhana, Budhe bilang prasmanan saja. Ini belum dapat titik temunya. Hehe. Agak susah berdebat dengan beliau. ‘Wis ta, uangmu tak pegange. Nanti kalau kurang, budhe sing nambahi. Prasmanan ae lah, wingi aku bar borongan 700 undangan 9 menu cukup 15 juta.’ Undangan saya nggak sebanyak itu.

Belakangan ini, saya merasa hari berlari terlalu cepat. Kebalikan dengan kekasih.πŸ˜€ Hehe. Saya deg- deg an sekali. Bagaimana saya akan melanjutkan hidup nanti. Ahh.. pasrah saja. Jalani dulu. Bismillah, semoga semuanya dilancarkan.

*post terjadwal tentang persiapan pernikahan. Sengaja di publish setiap hari setelah hari H.πŸ™‚

14 thoughts on “My Prewedding Story [H – 59]

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s