Do What You Love

In “I feel strongly,” strongly is an adverb modifying feel. This use of feel means “to be conscious of a specified kind or quality of physical, mental, or emotional state: felt warm and content; feels strongly about the election.”

Tema hari kedua tentang passion terbesar yang sampai kini saya miliki : mengajar. Ingatan pertama saya tentang mengajar adalah awal- awal masuk SD. Rumah belum sepenuhnya jadi, daun pintunya terbuat dari triplek, atau semacamnya, yang bisa ditulisi. Sengaja, saya bawa pulang kapur dari sekolah untuk menulis di pintu dan mengajar boneka- boneka.

Lanjut, SMA mulai ngelesin (mengajar les) di rumah. Murid pertama adalah putri guru les tari saya. Upahnya les tari gratis. Hehe.Itu nggak lama, sampai akhirnya saya keluar les.

Sepanjang kuliah, saya ngelesin juga. Nggak usah ditanya upahnya, hehe. Korbannya adalah tetangga- tetangga kos dan anak- anaknya teman ibuk di Kertosono. Menjelang semester akhir, ikut di salah satu bimbingan belajar di Surabaya, cuman setahun. Sempat pengen punya bimbel sendiri, sudah bagi- bagi brosur tapi tidak ada murid.😀 *suami ngakak guling- guling kalau saya ceritain ini.

Selepas kuliah, saya bingung kerja apa dengan gelar S. Si? Jurusan Fisika (bagi saya) tidak terlalu membanggakan. 4 tahun yang saya sesali, bahkan sampai sekarang.  Saya juga tidak tahu sebenarnya apa yang didapat selama kuliah. Parahnya, keahlian juga tidak ada. Lowongan kerja paling banter jadi pegawai bank. Ehm.. saya tidak bilang itu tidak bagus, hanya saja jika dikaji ulang, kuliah fisika lulus jadi pegawai bank?

Sekali lagi saya tidak bilang itu tidak bagus, sama halnya kalau ada orang yang lihat saya, lalu bilang : “kuliah tinggi, lulus dirumah saja ngelesin. Nggak usah sekolah jauh- jauh juga bisa kalii… Ngajar SD, SMP, SMA, semua orang juga bisa lah, wong ada bukunya.”😀 Dan saya tidak ambil pusing, emang bener kok. Hahaha.

Pernah hampir diterima sebagai admin bagian logistik. Mungkin job- desc nya ngecek barang masuk keluar dan sebagainya terkait gudang. Saya kecewa karena itupun tidak sesuai dengan apa yang saya pelajari . Lalu apa sebenarnya yang sesuai? Entah… Suami bilang, kuliah tidak untuk mencari kerja, pembelajaran itu untuk mengubah cara berpikir dan membentuk kepribadian.

Sambil mencari kerja, saya buka bimbel sendiri di rumah. Muridnya belum sampai 10, masuk hampir setiap hari dengan bayaran tak seberapa. Saya juga ikut salah satu bimbel besar di Kertosono. Sampai akhirnya… disinilah saya.

Ini semester ketiga, murid yang saya punya sudah 100 lebih dikit (semester ini). Tiga semester ini, sudah bisa menggaji pengajar lain. Tapi, ini bukan masalah uang. Setiap kali ngobrol sama orang tua murid dan mendapat pujian, perasaan saya hangat. Keberhasilan (meskipun kecil) murid membuat bahagia tak terkira.

Kadang, saya menengok kembali ke belakang, hal- hal kecil yang dulu dilalui ternyata mengubah saya menjadi begini. Ahh… itu saja ceritanya.

Apapun passion yang kamu punya, tekuni! Asah terus. Siapa tahu, setahun, dua tahun lagi, kamu kehilangan arah dan bingung akan memilih hidup yang bagaimana : melakukan hal yang kamu cintai akan menjadi semacam petunjuk menemukan kebahagiaan. #jaresopo #jareku

Day 2 of 30 days blog challenge ~ Something You Feel Strongly About

 

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s