suami

Tema tantangan hari ini termasuk ke dalam list : yang paling saya tunggu. Hehehe. Saya pengen nyeritain tentang teman terdekat, siapa lagi kalau bukan suami?

Wanita suka memberi tanda (sudah menjadi naluri wanita). Pria tidak memahami tanda-tanda itu (sudah menjadi naluri pria)

Sejak awal, saya merasa dia bukan orang yang cocok dijadikan kekasih, cocoknya jadi teman. Sekarang pun, kami beberapa kali bertengkar layaknya teman. Saya heran bagaimana demikian cepat untuk terpancing, bermasalah, lalu berbaikan seperti tidak ada apa- apa (saat kami jauh). Kalau dekat, jangan ditanya, kemana- mana berdua sudah persis perangko sama amplopnya. Hihihi

Dengan kekasih, saya baru benar- benar tahu, lelaki nggak peka dan nggak bisa dikode. Punya masalah lalu dipendam dan kesal dalam hati justru bikin ngenes sendiri. Misalnya : kami lama sibuk sampai lupa kapan terakhir bilang sayang. Kalau saya ngambek supaya diperhatikan, pasti tidak berhasil. Daripada dibikin sedih dan kepikiran, mending saya tanya langsung, “Mas, sayang nggak?” Malah jawabannya sering mengejutkan, seperti

ngirim kata ‘sayang’ sampai selayar penuh.πŸ˜€

Kami juga punya semacam password. Kapanpun, dalam keadaan apapun meski kesal atau marah, kalau saya minta password harus diucapin, begitu juga sebaliknya. Apa itu? Kalau password saya : I love you. Milik suami : Mas Bayu Ganteng. :lol:Ini ampuh banget bikin suasana cair.

Untuk urusan perhatian, suami adalah jawaranya. Dia paling nggak bisa kalau lihat saya kesakitan. Pernah, suatu kali saya bantuin ngangkat kursi. Karena kurang hati- hati, kelingking kaki kiri kejepit pas nurunin kursinya. Sakitnya sih nggak seberapa tapi saya teriak gegara kaget. Biyyuh.. si mas bingung. “Nggak apa- apa beneran? Bisa digerakin? Nggak patah kan? Nggak pendarahan di dalam?” Dan masih banyak lagi pertanyaan lain. 10 menit berikutnya juga masih lihatin kaki saya terus, sambil ngasih tahu orang seumah. Padahal cuma kejepit kursi.:/

Dua minggu lalu, supaya si mas nggak kuatir karena kami tinggal jauh- jauhan, saya cuman bilang sakit biasa. Pas sabtu suami tahu kalau itu lumayan parah, pagi- pagi si mas sudah berdiri di belakang saya dan ngasih pelukan. Saya kaget, kok sudah datang? Dia cerita semalam nggak bisa tidur, terus subuh langsung siap- siap dan berangkat ke Kertosono motoran. Ya ampun..πŸ˜€ Si mas bilang, “mas ini nggak cuma suami siaga, kalau perlu sudah penggalang, penegak, dan pandega.” Saya ketawa.

Saya sembuh cepat setelah itu, yyaa.. sebenarnya sembuhnya bisa dipercepat lagi kalau minum obat sejak awal. Kenapa nggak minum? Karena merasa saya hamil. Eh, waktu periksa ternyata negatif.😦 Suami bilang, “kan masih ada bulan- bulan depan, dek. Ya sabar.. “

Si mas juga orang yang gampang iba. Ibuk mertua cerita, tahun lalu selama bulan puasa, suami pulang selalu bawa kerupuk padahal nggak pernah dimakan. Pas ditanya, jawabannya, “Lah, yang jualan mbah- mbah. Sebelahnya laku semua, mbah ini tok nggak ada pembelinya.” Alasan yang sama, kalau pulang tiba- tiba bawa layah dan ulekan, sapu ijuk, dan barang ajaib lainnya.

Kekasih bukan orang yang sempurna, saya juga bukan. Dari kenal sampai sudah menikah, kekasih berubah, demikian pula saya. Kami kompak sebagai teman, kekasih dan pasangan suami istri di setiap waktu. Menyenangkan memiliki teman hidup seperti suami saya.πŸ˜€

Ini hari minggu, si mas di depan sudah selesai ngrawat burung- burungnya. Sekarang, waktunya saya yang merawat suami. *uhhuk

Day 4 of 30 days blog challenge ~ Write About Your Closest Friend

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s