My Future Will Be Like …

Duduk disebelah suami. Dikelilingi anak dan cucu, mendengar mereka bercerita. Mungkin sesekali minta dibacain blog ini oleh salah seorang cucu, kemudian saya tertawa karena terkenang sampai kembali lelap.Hehehe, kejauhan ngayalnya, tapi jujur saja itu alasan utama saya menulis di blog ini.

Sewaktu kecil, angan- angan tentang masa depan saya adalah mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi dan setiap hari lembur (untuk gaji tambahan). Bisa sepanjang hari di kantor berhadapan dengan komputer dan banyak orang, lalu pulang malam, adalah hal yang menyenangkan. Saya menabung untuk membeli rumah dekat pantai, agar bisa menghabiskan waktu tua disana.

Ketika dewasa, impian saya perlahan mulai bergeser. Uang bukan segalanya, yang penting adalah manfaatnya, kalau tidak buat orang lain setidaknya untuk diri saya. Kuliah gratis ditambah sokongan biaya hidup selama 4 tahun, membuat bertekad hidup ini bukan lagi milik saya sendiri.

Awal- awal punya bimbingan belajar, pengen semua murid gratis. Tapi, tidak bisa, wong buat hidup saja, uang nggak punya. Akhirnya, memutuskan hanya untuk beberapa murid. Sekarang, semakin banyak yang bisa les gratis. Ajaibnya, justru usaha bimbel saya semakin membesar.😀

Tak usah bertanya bagaimana cara Tuhan bekerja. Lagi- lagi dipaksa percaya, bahwa ketika saya berbuat kebaikan kecil, tangan misterius Tuhan melipat-gandakan.

Kini, saya sudah menikah. Masa depan yang diingikan tidak lagi tentang diri saya, hutang budi pada negara, atau karir. Keinginan pun kian sederhana : terlelap dan bangun setiap pagi di samping suami. Kehidupan pernikahan jarak jauh, meskipun tak buruk, tidak ingin saya alami terlalu lama.

Terkadang merasa iri dengan pasangan lain yang masak bersama sepulang kerja. Atau saling memijat sampai salah satunya tertidur nyenyak. Lalu keesokan harinya saling memuji dan berterimakasih, “masakannya enak. Terimakasih ya, sudah menyiapkan baju kerjaku.” Ditimpali dengan, “terimakasih sudah mencuci piring. Ati- ati berangkat kerjanya.”

Sedang kami, hanya bisa saling bertukar tulisan dan suara digital. Saya haru, pernah sewaktu bersama, ia memegang tangan saya yang akan melakukan aktifitas rumah tangga. Ia minta supaya duduk didepannya, “aku butuh adek disini dengerin ceritaku. Nyuci dan semua- semua aku bisa sendiri besok, pas kita jauhan lagi.”

Suami dan saya saling menguatkan, meskipun tahu sebenarnya kami masing- masing pun meragu. Senantiasa berdoa kepada Tuhan, semoga semua urusan dimudahkan. Usaha di Kertosono sudah terlanjur besar, sayang jika harus ditinggal. Keluarga kecil kamipun tidak layak untuk dikorbankan. Tapi.. . selalu ada pilihan ketiga. Apa itu? Sabar.. nanti pasti indah pada waktunya.

Day 8 of 30 days blog challenge ~ What You Hope Your Future Will Be Like

4 thoughts on “My Future Will Be Like …

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s