pendidikan, pentingkah?

Education is the process of facilitating learning, or the acquisition of knowledge, skills, values, beliefs, and habits. Educational methods include storytelling, discussion, teaching, training, and directed research.

Saya tentor les, bukan guru sekolah, tapi dengan percaya diri mengaku berkecimpung di dunia pendidikan. Iyain aja lah…πŸ™‚

Sering berpikir kalau bimbingan belajar milik saya adalah wujud kegagalan sistem pendidikan formal yang ada. Bagaimana tidak? Untuk apa mengambil kursus tambahan, kalau apa yang disampaikan guru sudah mereka terima dengan baik? 7 jam, bahkan lebih, di sekolah bukan waktu yang singkat. Belum lagi tugas- tugas yang dibawa pulang.

Jawaban yang saya terima dari murid beragam. Misalnya, “gurunya nggak pernah masuk, ada pelatihan. Setiap kali dikasih tugas saja, suruh baca sendiri.” Atau, yang paling sering, “gurunya kalau jelasin nggak enak. Pilih kasih ke yang sudah pintar- pintar. Kalau ditanya malah marah- marah, padahal kan aku masih nggak paham.”Β  Nah..

Jadi teringat, guru SMP saya pernah cerita, “murid sekarang nggak seperti dulu. Anaknya bandel- bandel, ditegur baik- baik nggak mempan, dibentak juga mental aja. Kalau sampai mukul, kuatirnya orangtuanya datang. Jadi ya.. tugas saya yang penting nyampein materi. Didengerin syukur, nggak yasudah. Ngasih tugas, dikerjain ya alhamdulillah, nggak ya pasrah.” Hmm..

Pernah saya mengajar di sekolah swasta dan memangΒ  begitulah fakta di lapangan. Menghadapi tantangan murid yang seperti itu ditambah dengan tuntutan kepala sekolah untuk memberikan nilai diatas kkm, minimal. Lantas apa yang terjadi? Nilai katrolan menjadi solusi.

Tentu saja tidak semua hubungan guru dan murid seperti yang saya tulis diatas. Ada pula, murid yang niat menimba ilmu, guru yang berintegritas, sekolah yang kondusif, dan orangtua yang lebih memahami.

Bagus, kalau murid punya orangtua yang peduli terhadap anaknya. Gerak cepat, pas nilainya terpuruk, cari sebab, dan selesaikan masalahnya dengan masukkan ke bimbingan belajar kenamaan. Kalau terlambat, ya cari relasi guru, minta nilai tambahan dengan sumbang sekolah beberapa rupiah. Kasihan berlipat- lipat, murid yang di sekolah kurang perhatian dan dicap nakal, lalu orang tuanya angkat tangan.

Jika pendidikan begini- begini terus, jangan disalahkan kalau justru yang berpendidikan tinggi malah korupsi, atau orang yang shaleh kini terlibat kasus pelecehan seksual dan penyalahgunaan narkoba. Orang- orang cerdas memilih membodohi orang lain dan yang pengetahuan agamanya luas membenarkan kebejatan.😦 Miris sekali.

Dalam salah satu artikel di rumahfilsafat.com berjudul “tujuh penyakit bangsa” dijelaskan : Di Indonesia paradigma pendidikan tidak lagi berfokus pada pengembangan karakter atau peningkatan kualitas kemanusiaan, namun semata untuk pemuas para kapten bisnis dan pabrik. Pendidikan seni, sastra, dan humaniora ditinggalkan. Yang maju adalah pendidikan yang terorientasi semata pada kepentingan bisnis ataupun agama tertentu.

Ditambah lagi, pendidikan tak ubahnya sebagai penipuan. Sejak kecil, kita diajar untuk mematuhi aturan agama dan hukum. Kita diajarkan patuh buta, supaya mendapatkan pahala atau rahmat, baik di kehidupan ini, maupun di kehidupan nanti. Kita diajarkan untuk hidup seperti kambing dan budak, yakni tak berani berpikir dan tak berani mempertanyakan aturan-aturan yang ada. Akibatnya, ketika ada kesempatan, kita akan segera melanggar semua peraturan yang ada, dan membuat diri serta orang lain menderita.

Padahal, sejatinya, pikiran kritis lebih penting dari kepatuhan. Keberanian dan kemampuan bertanya lebih penting dari kemampuan untuk menjalankan perintah. Pada level yang tertinggi, kita hidup tidak lagi dengan aturan dan hukum yang dipaksakan dari luar oleh masyarakat kita, melainkan dengan intuisi dan nurani kita yang melampaui akal budi itu sendiri. Kita tidak pernah diajarkan tentang hal ini, bukan? (Reza A.A Wattimena)

Sudah ngalor- ngidul, comot- comot karya orang. Nah, jadi apa pendidikan itu penting? Jawabnya, tentu saja iya! Tapi pendidikan tidak melulu sekolah, bimbel, dan angka- angka. Pendidikan juga bukan soal gelar untuk status, pekerjaan, dan pengakuan. Pendidikan jauh lebih luas dari itu.

Dunia tidak menghargai kesempurnaan. Dia sadar bahwa tidak ada hal yang sempurna. Alih- alih, dia lebih menghargai tindakan : ambil keputusan, ambil tindakan, belajar dari kesalahan, ulangi dari langkah pertama lagi.

Di dalam tradisi Filsafat Timur, pendidikan selalu dilihat sebagai kerja sama dari dua aspek yang tak terpisahkan, yakni pengetahuan dan pengalaman. Ketika dua sayap ini ada, barulah pendidikan bisa mendorong orang tidak hanya untuk cerdas, tetapi juga terbang menuju kebijaksanaan. (Dua Sayap Pendidikan)

*Sila main- main ke rumahfilsafat.com ! Saya mencari bahan untuk tema challange ini dan kesasar disana lalu jatuh cinta pada setiap tulisannya.πŸ™‚

Day 9 of 30 days blog challenge ~ How Important You Think Education Is

8 thoughts on “pendidikan, pentingkah?

  1. Nggak ada alasan untuk tidak memfollow blog yg update setiap hari. Ditulis dari kota sebelah. Dengan tema kritis ttg pendidikan oleh orang yg katanya berkecimpung di dunia pendidikan. Satu dua poin menjadi tamahan ide untuk perbaikan pendidikan di negeri ini. Aku orang teknik tapi suka pendidikan. #malahcurhat 😎

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s