Dek Afam dan Dek Fifi

Saya sulung dari 3 bersaudara. Nama kami bersaudara yang disingkat adalah nama dari blog ini. Tuaffi : Tutus Afam Fifi. Hoho. Awalnya inisial ini aneh tapi lama- lama bagus juga. Ya nggak sih? *jawabiya!😀

Selisih umur saya dan Dek Afam tidak seberapa jauh, 3 tahun. Kami melewati masa kecil bersama. Anehnya, saya tidak punya memori kami pernah bertengkar sewaktu kecil. Mungkin memang karena kami benar- benar tidak pernah bertengkar.

Sewaktu tumbuh dewasa, seringnya kami cekcok hanya di mulut saja. Nggak pernah sampai masuk hati dan mengendap lama. Meskipun komunikasi tidak intens tapi kami tetap dekat.🙂 Dekat di hati saja karena raganya jelas terpisah jauh Kertosono – Timika.

Dua hadiah yang sampai sekarang terkenang dari Dek Afam. Pertama adalah nyanyian selamat ulang tahun yang saya ceritakan disini. Berikutnya adalah laptop terbaru yang dibelikannya sewaktu gajian pertama. Wow! Dia tahu laptop saya hilang dan komputer di rumah lemot. Saya takjub karena itu bukan laptop biasa! Laptop yang saya impikan : touch screen, ditambah lagi keyboardnya bisa dipisah dari layar.😀

Adek bungsu saya masih kelas 6 SD. Barangkali karena dia atlet bulutangkis, dia jadi cerdas di bidang akademik. Apa hubungannya? Sebuah studi di Swedia menemukan bahwa berlari menaikkan aktivitas neuron yang terlibat dalam proses belajar dan kemampuan mengingat. (Sumber)

Saya sering melihat Dek Fifi latihan lalu kembali mengingat : dulu pas seumur dia saya ngapain? Hehehe. Cuman bisa main masak- masakan di belakang rumah. Sementara Dek Fifi sudah pertandingan dimana- mana. Pernah dapat medali juara meskipun sering kalahnya.😀 Tapi.. kekalahan berarti kemenangan yang tertunda kan?

Selain cerdas akademik, Dek Fifi kadang seperti orangtua yang terjebak di tubuh bocah cilik. Perasaannya gampang tersentuh dan mudah sekali iba. Misalnya saja : suatu kali kami pulang kulakan, tiba- tiba adek minta berhenti di tengah jalan. Minta uang Bapak, lalu buka pintu dan turun menuju pak tua (tua sekali) yang duduk di atas becaknya. Sampai- sampai, pak tua tadi ikut menghampiri kami dan menyampaikan terimakasih banyak. Sepanjang jalan adek gomel panjang lebar, “lah anaknya pada kemana? Bapaknya sudah tua disuruh becak.”

Ia adalah yang paling peduli sama semua orang di rumah. Mak saya bingung karena sendoknya banyak yang hilang. Tahu- tahu, Dek Fifi keluar dan pulang bawa sendok selusin. Begitu juga sewaktu kran dispenser rusak, pisau sudah tumpul, batrei jam habis, gantungan baju rusak, dan lain sebagainya.😀 Dek Merta, yang pegang uang di tempat jualan buah, diberi pesan ibuk, “kalau Dek Fifi minta uang, dikasih aja.” Kenapa? Karena tahu pasti uangnya dibuat belanja kebutuhan sepele-tapi penting-yang terlupakan semacam itu.

Saya beruntung sekali berada di keluarga ini. Mempunya dua adek yang membanggakan, yang terbaik, yang dengan apapun tidak akan rela saya tukar.🙂 Saya tidak pernah berbuat baik kepada siapa- siapa, tapi Tuhan begitu baik sama saya.

img_9817

tiga tahun lalu

Day 14 of 30 days blog challenge ~ Do You Have Siblings? Talk About Them

6 thoughts on “Dek Afam dan Dek Fifi

  1. jadi teringat sama adek dan kakak hehe. Aku pun tiga bersaudara cuma anak tengah dan perempuan semua. Kami bertiga terpisah Bandung – London – Jakarta. Semoga segera bisa ngumpul2 lagi sekeluarga

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s