seperempat abad

Sewaktu kecil, saya memang sering sakit. Kelas 4 SD, tidak terpilih seleksi kelas unggulan hanya karena alasan itu. Bagaimana jika waktu itu saya terima saja hal tersebut? Bukannya malah pulang, menangis, dan minta ibu agar membujuk guru supaya memberikan ijin saya mendapat kesempatan seleksi ~ yang pada akhirnya saya lolos.

Bagaimana jika saya lebih memilih SMA di Kertosono, bukannya ke Kediri? Toh, banyak juga sejawat yang lebih sukses saat sekolah di SMA kecamatan ini.

Bagaimana jika saya tidak pernah memilih jurusan Fisika di formulir masuk PTN? Mungkin akan tetap gigih berjuang menjadi dokter. Mungkin juga saya malah menyerah dan beralih ke jurusan yang entah.

Bagaimana jika dalam kesepian dan terabaikan itu, saya tidak bertemu suami? Ini yang sering saya bayangkan. Apa jadinya hidup saya? Apa akan sebaik sekarang? Siapa yang tahu.

what if we stopped saying “what if” and started saying “let’s

Ohya, hari ini ulang tahun saya ke 25. Sudah seperempat abad hidup dan saya bersyukur untuk semuanya. Kebahagiaan saya rasanya nggak pernah habis. Alhamdulillah.🙂 Tuhan Maha Asyik.

Bisa diduga, doa yang paling banyak adalah : segera diberi momongan. Meski malu- malu, tentui saja saya amini dalam hati.🙂 Semoga semua doa baik kembali pada yang mendoakan.

Sudah dulu tulisannya. Saya mau istirahat. Suara sudah benar- benar habis. Hohoho. Selamat malam dunia.

google-n-me

Day  20 of 30 days blog challenge ~Something You Always Think “What IF?” About

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s