Short Escape to Batu – Malang #2

Keluar dari Museum Angkut, kami lanjut ke destinasi berikutnya : alun- alun Kota Batu. Diluar dugaan, bianglala yang saya incar untuk dinaiki bersama, tidak beroperasi karena hujan. Tak mengapa, masih ada banyak yang bisa dinikmati.

Kami coba makan sempol. Ini terkenal banget ya? Dimana- mana ada dan itu pertama kali tahu rasanya. Ternyata kanji yang dikepeli (apa ya Bahasa Indonesianya?) lalu ditusuk pake batang bambu dan digoreng. Semacam cireng, tapi beda bentuk.

Makan pentol dan telur puyuh juga, yang letaknya sebelahan.πŸ˜€ Rasanya pun nggak jauh beda dari pentol kebanyakan tapi harganya lebih mahal. Harusnya 5 ribu itu bisa ganjal perut, lah ini nggak.

Hujan balik lagi pas kami didepan 3 warung berjajar dan bingung pilih yang mana antara minum susu, makan ramen, atau nyamil ketan. Akhirnya, pilih yang pertama. Mikirnya nanti masih jajan lagi kalau hujan reda, jadi nggak pengen terlalu kenyang.

Saya pesan Ginger Milk, si mas Banana Milk. Mungkin tersugesti atau memang efeknya jahe, sepanjang di Batu saya sama sekali nggak ngerasa kedinginan, padahal si mas menggigil meski sudah pakai jaket.

20161008_195847

bisa mainin Scrabble sambil nunggu pesanan datang

Ini susu sapi asli dan saya suka tapi karena terlalu panas dan banyak, sisa susunya minta dibungkus saja.πŸ˜€

c360_2016-10-08-19-59-40-989

mau?

Hujan mulai reda dan kami pengen coba sate kelinci. Beruntungnya nggak jauh dari situ ada. Rasanya? Enak! Dagingnya kenyal, beda sama sate ayam. Ini jadi pengalaman pertama si mas coba makan kelinci di sate. Hehe.

Pas makan, eh bianglala-nya nyala! Langsunglah kami ikut menyerbu antrian. Panjang banget! Padahal loketnya belum buka. Iya, bianglala ini nggak gratis tapi bayarnya 3ribu saja per orang. Awalnya si mas mau ke toilet dulu, nah daripada ntar makin panjang antriannya, kami berpisah. #halah

Makin dekat bianglala, saya makin ragu. Takut buat naik, lah tigginya 30 meter. Kebayang? Nanti kalau berhenti di atas, pie? Si mas bilang, “nggak apa-apa, dek. Kan ada akang.”:mrgreen: Penantian 15 menit antri terbayar pas sudah masuk kabin bianglalanya. Wew!

20161008_205650

gelang museum angkut dan sekantung susu masih nyantol di tangan.

Pergerakannya halus sekali, hampir- hampir nggak kerasa. Sepanjang naik, saya lihat samping kanan dan kiri. Subhanallah, bagus banget! Pemandangan lampu kota di bukit sebelah kedip- kedip. Di kota ini bintang tidak lagi berada di langit!

Sepanjang di kabin, ngobrolin ini itu sambil suami pegang tangan saya. Saya bilang, “mas takut ya? Keras banget meganginnya!” Si mas ketawa. Tapi saya tahu, ini bukan pengalaman pertamanya. Pernah sebelumnya dengan mbak entah yang mana.πŸ˜€

Sebelum turun, daripada kepikiran, saya tanya, “Mas, dulu sama mbaknya juga pengangan tangan sepanjang di sini?”

Bersambung…

13 thoughts on “Short Escape to Batu – Malang #2

  1. Waah… Malang memang asyik ya buat liburan.. saya msh ingin kembali ke sana nih..tapi pengennya ntar ke wisata alamnya…
    Eh…dan apa jawaban si mas? *kepoakutπŸ™‚

  2. Aku jadi ke ikutan kepo deh, terus Simas jawab nggak Mbak waktu itu dia pegangan tangan juga? Hahaha

    Memanglah sekarang ini kota Malang tidak membosankan. Bergerak ke Batu sedikit malah lebih banyak lagi destinasi yang bisa dinikmatiπŸ™‚

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s