Dari Pantai Ke Pantai #1

Rabu (19/10) saya liburan lagi. Dek Afam pulang dari Timika sejak Sabtu (15/10) dan seperti biasa, kami pengen mengunjungi lukisan Tuhan. Setelah dua kali ke Pacitan dan belum puas, kami kembali. Hanya saja, kali ini menyusuri pegunungan sepanjang Tulungagung – Trenggalek – Pacitan – Wonogiri.πŸ™‚ Seru? Pasti!

Sengaja dipilih bukan weekend untuk menghindari macet dan ramenya pantai. Sayangnya, gegara itu, suami saya nggak bisa gabung. Lagipula, kemarin si mas sudah ke Jogja dan minggu depan ke Madura, tanpa saya. Jadi yaa impaslah.πŸ˜†

Berangkat dari Kertosono jam 6 pagi menuju selatan ke arah Tulungagung. 3 jam perjalanan, akhirnya tiba di lokasi pertama : Pantai Pasir Putih Karanggongso. Letaknya tidak jauh dari Pantai Prigi, yang sengaja tidak kami kunjungi karena ehhm bau amis ikan.

Karanggongso ini punya ombak yang tidak terlalu besar. Cocok lah kalau dipakai untuk main air dan berenang. Ditemani suarai pantai, kami menyantap bekal yang dengan ajaibnya masih hangat.πŸ˜€ Semilir angin membuat badan pegal, perut kenyang, jadi kepengen tidur. Hoho.

jxzk2xqfgr-img_1342

Banyak kapal- kapal yang disewakan untuk menjelajah beberapa lokasi unik di sekitar pantai, seperti : Watu Dukun, Watu Bentis, Pantai Asmara, Goa Merah, Pantai Kecil, Jembatan Luna Maya, dan 5 lainnya yang tidak saya hafal.πŸ˜€ Biaya untuk mengunjungi semua lokasi diatas dalah 400 ribu. Untuk 6 lokasi dibandrol 150 ribu.

Liburan dengan budget pas- pasan, bikin kami urung naik kapal. Dan, tips untuk menghindari penjaja sewa kapal adalah dengan tegas menolak. Kalau tidak, pasti akan diikuti kemana Anda pergi.πŸ™‚

Berikutnya, sedari lama yang kepengen didatangi adalah wisata Budidaya Mangrove di Pantai Cengkrong. Libur lebaran tahun lalu, demi mencari lokai ini, kami (tambah suami, yang kala itu masih pacar) tersesat hingga 6 jam di jalan tak beraspal tengah hutan dengan perut lapar. Serius!

Sempat tersesat lagi, kembali ke jalan berbatu, saya langsung bilang, “balik aja, dek! Tanya orang.” Iya! Benar, saya trauma kesasar lagi. Hoho. Beruntung ada mas baju merah (saking berkesannya, saya sampai masih ingat wajahnya), menunjukkan jalan. Bahkan, si mas ini rela balik ngampiri kita yang kehilangan jejaknya. Padahal sambil menyunggi bambu loh! Jangan dikira macam bambu runcing, bukan! Bambu yang biasa untuk umbul- umbul pinggir jalan yang panjang dan besar. Baik banget kan ya?

Wisata budidaya Mangrove ini terletak di pinggir jalan di seberang pantai Cengkrong. Sebenarnya tidak susah ditemukan. Hanya saja, pantai Cengkrong terlalu memikat, sehingga tidak terpikir untuk menatap apa yang ada di seberang jalannya. Dan lagi, saya tidak membayangkan kalau mangrove- nya terpisah dengan pantai, meskipun hanya selebar jalan.

Jembatan populer yang sering dijadikan ajang foto itu tidak semegah yang saya lihat di instagram. Jembatannya sempit dan kayunya tidak dihaluskan, sehingga bisa masuk ke tangan (istilahnya : tlusupen). Sampai- sampai ada papan peringatan, “Dilarang meraba pagar jembatan! Berbahaya bisa terkena tlusup.” Saya ketawa sampai sakit perut saat membaca, ‘meraba pagar jembatan’πŸ˜€

Kami datang tidak di waktu yang tepat, matahari di atas kepala. Untungnya, kami bawa payung dari rumah.πŸ™‚ Disana payung kecil disewakan tiga ribu rupiah. Melihat hijaunya hutan dan gunung dikejauhan sangat menyegarkan. Takjub dengan betapa besar Kuasa Tuhan. Ada perahu pula di tengah wisata yang saat itu tidak beroperasi. Mungkin karena bukan hari libur.😦

Duo tukang pijet

Selesai berpetualang, kembali lagi ke gapura depan. Beli jagung untuk makan burung dara. Sensasi saat dara makan di tangan saya, itu luar biasa! Tidak hanya burung, ada beberapa hewan yang dikandangkan juga, seperti : landak, kalkun, monyet, dan lainnya. Sayangnya, kurang terawat kebersihannya.

Sabar sabar.. semua kebagian.

Ohya, kesepakatan dari awal adalah kalau Dek Afam nyetir, saya di depan dan nggak boleh tidur. Nah, saking capeknya, saya sempat tidur di masjid kecil di lokasi wisata. Hehe… Bisa dibilang, itu salah satu tidur ternikmat yang pernah saya alami. *halah

Sebelum keluar Trenggalek, kemi mampir ke Pantai Damas. Kemudian menuju Pacitan ke Pantai Taman yang punya wahanaΒ flying foxΒ terpanjang diΒ Indonesia.

Payungnya bagus dibuat foto. πŸ˜†

Bersambung…

22 thoughts on “Dari Pantai Ke Pantai #1

    • haha.. iya mbak. jembatannya itu loh di instagram keliatan keren- keren. eh pas didatengin biasa banget. hehehe
      itu yang bikin payungnya keren, modelnya mbak. *dikeplak mbak salma.πŸ˜€

  1. Mba lo dari mana emang? Keren deh destinasi yang dikunjungi. Wahaha tsulup tuh maksudnya kayu yg nyelip dijari itu ya. Ngilu gue bayanginnya serem jg. Sudah buanyak korban sptnya jd sampe ditulis gitu. Hihihi

    • Saya dari Kertosono, kecamatan kecil diapit kab Nganjuk – Jombang – Kediri.πŸ˜€
      hahaha.. iya, sepertinya banyak korban raba- raba pagar jembatan.πŸ˜€πŸ˜€

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s