Dari Pantai ke Pantai #2

Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Damas. Pantai ini agak susah ditemukan. Barangkali karena tidak terlalu terkenal dan belum tersentuh pembangunan. Tidak ada petunjuk apapun, berkali- kali tanya ke penduduk sekitar. Untungnya, menuju Pantai Damas melewati perkampungan- perkampungan, meskipun jalannya tidak bisa dibilang mulus.

Hamparan pasir sejauh mata memandang penuh dengan sampah, sedih. Mungkin karena tidak disediakan tong sampah untuk wisatawan yang datang. Atau barangkali warga sekitar yang membuang sampah disana. Atau bisa jadi karena terbawa dari lautan.. ahh.

Karena belum dibangun dan belum sah menjadi tempat wisata mengakibatkan pantai ini belum dikelola dengan baik. Sehingga tugas merawat kebersihan menjadi tanggung jawab pengunjung dan masyarakat sekitar. Sayangnya, tanggung jawab itu terabaikan.😦

jxzk2xqfgr-img_1449

sampahnya sengaja nggak difotoπŸ˜€

Kami tidak lama di Pantai Damas, karena sudah mendapat wejangan dari teman Bapak, yang pernah menempuh perjalanan serupa, untuk keluar dari Pantai Damas sebelum jam 1 agar sampai di Pantai Taman tidak terlalu malam.

GPS menunjukkan perjalanan dari Tulungagung ke Pacitan sejauh 100++ km (saya lupa tepatnya).Β  Asumsinya, seperti menempuh Kertosono – Surabaya dan itu bukan hal sulit. Namun, yang tidak kami perhitungkan adalah medannya! Jalan Trenggalek – Pacitan ini bagai roller coaster dengan lintasan tak hingga panjangnya.

1 jam pertama memasuki jalanan berliku, saya masih tahan. Jam- jam berikutnya mulai mual dan pusing tak keruan. Selesai makan, saya pindah belakang untuk tidur. Nggak berapa lama, adik saya pun nyerah, pengen istirahat. Sopir dipegang Bapak. Nah, disinilah mabuk saya menuju level tertinggi.

Bapak belum pengalaman nyetir dengan jalan naik turun dan melewati belokan tajam. Ditambah beliau sedang capek dan terburu- buru untuk segera ketemu ujungnya jalan. Akibatnya, seringkali ngebut, kemudian ngerem mendadak, dan seterusnya yang bikin mimpi buruk dan saya terjaga dengan perut teraduk- aduk.

Berhenti saat adzan Maghrib di salah satu warung yang menghadap PLTU. Saya bahkan sudah nggak kuat duduk. Dek Fifi malah sudah mun*ah. Mak dan Bunda yang biasanya kuat, juga pusing parah. Dek Afam tidak tahu apa- apa, dianya tidur kecapekan. Dapat protes seluruh penumpang, Dek Afam mengalah dan melanjutkan sisa perjalanan.πŸ˜€ Bapak senyum- senyum sambil nyeruput kopi, “ya refleksnya beda, Mbak, kalau sudah tua dan masih muda.”

jxzk2xqfgr-img_1474

awalnya, saya kir itu mercusuar, sampai ada petunjuk jalan yang bilang itu PLTU, hoho

Saat jalanan sudah mulai turun, saya berharap segera sampai kota. Nyatanya, ketemu lagi jalan naik. Begitu seterusnya.Penduduk sekitar bilang, “kira- kira satu jam lagi, Mbak.” Satu jam kemudian, saat ketemu warga dan tanya, “masih jauh, mungkin setengah jam.” Setengah jam kemudian pun masih belum sampai! Oh karena ini, saya dan adek punya julukan untuk Pacitan : kota seribu satu kelokan. (menggantikan tagline Pacitan 1001 Goa).

Terakhir yang saya ingat, melihat pemandangan kota pacitan dari atas gunung di sebelah kiri mobil. Lalu tiba- tiba kepala pusing sekali dan tidak sadar. Bangun pas sudah sampai hotel, yang bahkan saya lupa namanya. Itupun, habis mandi kepala masih nyut- nyutan, nggak kepikir laper, lanjut tidur lagi.πŸ˜€ Tengah malam, kedinginan dan kelaparan. Beruntung, ayam goreng bekal pagi tadi masih ada. Itu yang saya santap dengan lahap.

Paginya badan terasa segar sekali. Baru menyadari, kamar di lantai 2 ini terletak di tengah persawahan, menghadap gunung. Kamar nyaman itu dibandrol 350 ribu per malam yang fasilitasnya : AC, kamar mandi dengan air hangat, dan sarapan. Menurut saya sih, kemahalan. Hehe. Di Surabaya, saya pernah dapat 250 ribu dengan fasilitas serupa.πŸ˜€

Di lobi hotel ada peta wisata Pacitan, saya masih belum menyerah untuk mencari Pantai Taman yang kabarnya tidak jauh dari situ. Sayangnya, saat lihat di peta, ternyata arahnya berlawanan dengan tujuan utama : Klayar. Yang artinya, kami akan menyusuri kembali 1001 kelokan.

Nah, kami memutuskan dengan mengambil suara terbanyak.

Bersambung…

21 thoughts on “Dari Pantai ke Pantai #2

  1. Dari kecil selalu ingin jalan jalan ke pantai, saya tinggal di daerah pegunungan di Magelang, melihat pemandangan laut biru bahkan sunrise dari laut itu sungguh mengagumkan.

    Saking pengennya, screen saver di laptop suka saya ganti dengan gambar laut atau ikan di laut.

    Alhamdulillah, waktu saya diberi kesempatan ke Mentawai saya jadi sering main di pantai, bahkan sesekali kunjungan ke pulau yang ada disana.

    Btw, liburannya asyik banget mbak… Gak sabar nunggu cerbungnya… ☺

    • wah. asyiknya! tempat saya tinggal jauh dari gunung dan pantai (jauh juga dari gedung- gedung tinggi, bioskop, dan mall).πŸ˜€ Jadi selagi ada waktu, memang disempatkan ke pantai. (karena kalau ke gunung, dingin. dan saya alergi😦 )
      kepulauan mentawai? waah! semoga ada waktu dan rejeki bisa kesana.πŸ™‚
      siaapp.. segera! Masih proses penulisan, lagipula foto- fotonya kebawa adek di Timika. jadi masih nunggu dianya sempat buat ngemailin. hehe

  2. Saya pikir wisata pantai ini harus lebih digalakkan. Wilayah Indonesia yang begitu banyak pantai harus lebih unggul dalam wisata pantai. Menurut saya begitu lho,πŸ™‚
    salam

    • wah, maaf mas komennya nyasar di spam. nggak tahu kenapa.😦
      setuju mas! wisatanya digalakkan, pengunjung dan pengelolanya juga diedukasi supaya nggak berlibihan eksplorenya.😦 kalau berlebihan malah jadinya kayak pasar dan nggak bisa menikmati kedamaian pantai. *halah

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s