Dari Pantai ke Pantai #3

Kami memutuskan ke Klayar. Keluar dari hotel, langsung ke jalan menuju Solo. Kata bapak- bapak, “nanti perempatan belok kiri, ada petunjuk jalannya menuju Goa Gong.” Kembali lagi melewati aspal naik turun dengan belokan tajam, tapi karena yang nyopir handal. Saya sehat saja.πŸ˜€

Belum jauh dari kota, adek bilang bensinnya menipis. Nah, daripada nanti kenapa- kenapa di atas gunung. Akhirnya, balik lagi ke arah kota untuk cari pom bensin.Β  Dari sini saya belajar, kalau tidak semua pom terdaftar di google map. Mending tanya orang saja, wong, kata google ada pada jarak 4,5 km. Eh, pas tanya orang, cuman sejauh 1 km. Setelah nemu, mumpung masih di kota, nyari atm, cash menipis, bekal makan sudah habis.

Setelah melewati Goa Gong, jalanan semakin terjal. Belum lagi, ada perbaikan di tengah jalan, yang bikin tanah berserakan. Itu bahaya! Pulangnya, mobil kami hampir tergelincir disini karena tanah ditengah jalan tidak dibersihkan diperparah dengan air hujan. Untuk yang bepergian musim hujan begini, pastikan kendaraan Anda prima.πŸ™‚

 

20161020_094636_1

ini penampakan perbaikan jalannya, bahaya kan?

Semakin dekat dengan Klayar, jalanan sudah beraspal bagus. Dan bagian menurun dari jalan, dimana bisa ngelihat langsung pantainya itu, Masya Allah. Indah sekali! Tuhan menyiapkan tempat seindah ini, yang lokasinya susah dijangkau, diapit gunung- gunug, dan hutan agar makhlukNya melihat betapa besar Kuasa-Nya.

20161020_100509_1

turunan terakhir sebelum benar- benar bisa melihat Klayar.

 

Keindahan Klayar mempesona! Tak heran, banyak sekali yang mengabadikannya dalam berbagai media. Saya pernah membaca, Klayar menelan beberapa korban jiwa. Karena itu, kami tidak bermain- main air disini. Cukuplah, mengenyangkan mata dengan vitamin sea.

Pantainya luas dan banyak tempat untuk berteduh. Tempat duduk ada di papan- papan yang dipaku dengan akar mangrove. Berjajar sepanjang pantai juga tersedia tenda- tenda penjual makanan (yang 90% tutup, karena bukan hari libur) dan tempat duduk semacam gazebo.

Puas berjalan sepanjang pantai, kami naik ke bukit untuk melihat seruling samudra, kena charge 2 ribu per-orang. Entah karena terlalu bising atau apa, saya nggak dengar suara serulingnya. Hehehe. Kalau yang sudah sampai Klayar, wajib untuk berkunjung kesini! Worth it banget!

DCIM100MEDIA

kang pijeeett!πŸ˜€

Bagi yang tidak kepengen jalan, ada motor trail kecil yang bisa ditumpangi. Kalau dibonceng supir cukup untuk 2 orang penumpang, sepuasnya 50 ribu. Tapi, kalau pengen naik sendiri bisa juga! 75 ribu per setengah jam.πŸ™‚

jxzk2xqfgr-img_1526

pemandangan dari atas bukit di Pantai Klayar

Di sebelah Pak Penjaga Bukit, adaΒ  poster besar keseruan naik perahu sepanjang Sungai Maron di Pantai Ngiroboyo (The Hidden Paradise).Sebenarnya, ini bukan salah satu tujuan kami, tapi ya okelah!πŸ™‚ Lagipula, Pantai Taman urung kami kunjungi, jadi anggap saja ini gantinya. Letaknya kurang lebih 5 km dari Klayar.

Jalan menuju Ngiroboyo, hanya cukup untuk satu mobil. Mungkin pada hari libur atau peak season ada yang bagian ngatur masuk keluarnya kendaraan supaya nggak simpangan. Hehe. Karena, selain sempit, kiri kanannya bisa dibilang jurang, meskipun tidak terlalu dalam.πŸ˜€ Jalanan masih tanah dengan paving (atau semen ya?) yang di-pas untuk roda saja, jadi semacam rel kereta, begitu. Sebagiannya bahkan masih berbatu dan kalau hujan, benar- benar tidak bisa dilewati. Pantas sekali kan disebut hidden?

Lalu, bagian mananya bisa dibilang paradise?

jxzk2xqfgr-img_1549_20161026205939755

stop dulu, Dek! mau tak foto bentar.

Bersambung…

18 thoughts on “Dari Pantai ke Pantai #3

  1. Klayar bagus bangettπŸ˜„ Aku udah pernah beberapa kali ke pacitan, soalnya ada pakde jauh di sana, tapi sayangnya belum pernah ke pantainya, goa2nya hampir semua (yang terkenal) udah tusπŸ˜€

  2. Klayarku sekarang sudah tidak sunyi sepi lagi… entah aku jadi bahagia atau sedih, karena aku dan klayar sudah saling mengenal sejak tahun 90-an dulu, ketika aku masih SD, dan saat itu aku langsung jatuh cinta pada klayar sejak pandangan pertama

  3. Sekali ke Klayar akan pengin balik lagi….
    Mungkinkah arah angin ya, sehingga sang seruling suara nggak nyampai atas tebing? saat kami ke sana kemarin lumayan nyaring serulingnya. Mampir di goa Gong kah?

    • wah.. komennya nyasar ke spam.😦
      pesona klayar memang bikin ketagihan. jadi sekali aja nggak cukup.πŸ˜€
      mungkin begitu mbak, karena sama sekali nggak kedengaran. goa gong sudah pernah kami kunjungi 2 tahun lalu mungkin. jadi ini memang dikhususkan pantai. hihihi.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s