kerja keras tak akan khianat #2

Hari- hari belakangan ini yang jadi diskusi panjang sampai dini hari di rumah adalah kemajuan signifikan pola bermain Dek Fifi. Sudah sering saya tulis, adek bungsu saya punya bakat dan memang diarahkan menjadi atlet oleh orang tua. Dia pertama kali pegang raket pas TK, melihat pukulan dan caranya bermain, seketika Bapak bilang, “ini loh, akhirnya ada anakku yang bisa bulutangkis.” Bapak dulu pemain bulutangkis dan kecewa karena saya lebih tertarik beladiri (karate), sementara Dek Afam sepakbola.

Dulu, ekonomi keluarga pas- pasan sehingga saya dan Dek Afam sekolah sudah cukup, nggak perlulah ikut kejuaraan beragam. Nah, Dek Fifi ini mungkin memang sudah disiapkan Tuhan untuk hadir saat orangtua mampu untuk mendukung potensinya. Beragam turnamen di pelosok Jawa Timur sudah pernah diikuti, meski bisa dibilang semuanya gagal.

juara

tapi belum juara 1

Mendapati banyak kegagalan, Dek Fifi pernah putus asa hingga enam bulan di 2015 dia gantung raket. Saya memahami posisinya waktu itu, diombang- ambingkan klub tempat bermain, dijegal lawan sana sini, untuk anak seumuran dia bukan perkara mudah. Singkat cerita, sudah 3 kali adek ganti PB.

PB yang terakhir, nasibnya pun serupa. Dia batal mengikuti seleksi kejuaran kabupaten karena kepala PB ingin anak didiknya, yang lebih diandalkan – dan selalu kalah lawan adek saya, menang. Setiap pulang latihan, bahkan adek nangis dan cerita kalau diperlakukan tidak adil. Namun, tidak ada jalan lain selain bertahan.

Saya beberapa kali menunggui latihannya. Saat bermain, semua hal yang dia lakukan, entah salah dan benar, tidak pernah ditegur. Berbanding terbalik dengan lawan mainnya yang selalu dikasih nasehat ini itu. Dianggap nggak ada sama pelatih, kan sakit ya? ~apalagi sama gebetan. #heyyaa

Bulan lalu, puncaknya, Dek Fifi tidak didaftarkan semacam kartu identitas atlet skala nasional. Alasan pelatihnya adalah adek saya tidak memiliki potensi. Selalu absen dan makin lama kualitas permainannya menurun. Nah, akhirnya keputusan dibuat, Dek Fifi mengundurkan diri dari klub setelah setahun lamanya.

Tidak tega melihat adek bersedih, segera dibawa ke salah satu PB di Kediri. Disana, meskipun kalah dengan semua anak yang seumuran (lebih muda malah), pulang selalu dengan perasaan senang. Lingkungan baru membuat semangatnya tumbuh kian besar.

Semingu berselang, ketemu dengan salah satu pelatih yang langsung nyeletuk, “ini anak permainannya langka. Cerdik tapi fisiknya lemah.” Nah, Pak G inilah yang nglatih privat adek sebulan ini.

Waktu berbincang, Pak G bilang, “Fifi ini Mbak, tekniknya kelas tinggi tapi dasarnya nggak ada. Pukulannya mematikan, tapi kuda- kudanya nggak kokoh,Β  ini aneh. Nah kalau bangunan, ibaratnya keramikan bagus tapi pondasinya kropos. ”πŸ˜€

Seminggu 7 hari, jadwal latihannya di PB dan privat adalah 8 kali. Kebayang? Betapa kerasnya Dek Fifi menjalani kehidupan. Hehe. Belum lagi sekolah dan les pelajarannya karena dia sudah kelas 6. Sering saya melihat betapa kerennya anak ini. Jatuh bangun berkali- kali dan selalu bangkit lagi.

Ohh.. yang sebulan lalu selalu kalah, bertahap semuanya sudah dibalap. Dan yang terberat, jawaranya PB yang seusianya, sudah dikalahkan kemarin.πŸ™‚ Masih bilang adek saya tidak punya potensi?

 

Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik ~Gajah, Tulus

 

Ini jadi pelajaran untuk saya sebagai pendidik. Setiap anak dilahirkan hebat, jadi jangan pernah disepelekan. Kegagalannya jadi cerminan kekeliruan pola didikan kita. Pernah lihat “Taare Zameen Par”? Bagaimana seorang murid dengan keterbatasannya berakhir hebat karena asuhan guru yang tepat.πŸ™‚ Kalau belum, segera tonton!

susi

“Mbak, aku bar poto bareng Susi Susanti. Aku bilang ke orangnya, beberapa tahun lagi tak gantiin (jadi jawara)!”

(Yang pertama bisa dilihat disini.)

15 thoughts on “kerja keras tak akan khianat #2

  1. Waah Adik mba Affi tahan banting ya, saluut gue. Semangat ya dek Fifi ! Udah bisa ngalahin lawan2nya apalagi sdh ketemu Susi Susanti, penerus ini. Hahaha amin.

  2. Juara tiga udah luarbiasa, bukan gagal. Tp setuju, dgn rangkulan yg tepat, potensi bisa digali. Fifi semangat ya, bulutangkis mmg harus konsisten, dan fisik harus kuat terus. Semangat Fifi, saya tunggu kamu tampil mewakili Indonesia suatu hari nanti, sprti Susi S.!πŸ™‚

  3. Wiih, gambar terakhir baru ngeh, ternyata itu Mbak Susi Susanti. Waaah, Dek Fifi hebat yaaa…. Ceilehh, semoga semangatnya selalu berkobar.

    Betul juga, anak2 itu tumbuh dengan hebat tapi di bidang yang berbeda-beda. dan kt sebagai pendidik harus memahami kondisi tersebut. Rata2 cuma condongin ke akademiknya saja, padhal bukan cm itu yang harus diliat. Semangat, Mbak TUtusss…!!! Salam sama Dek Fifinyaa…

  4. Udah enak baca2nya, kok ya kesandung di kalimat gebetan itu. hmmmm…. my feeling!

    Good luck dek Fifi, semoga bisa meraih cita-cita nya ya! Doa blogger2 di sini menyertai kamu : )))))

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s