Abu Nawas dan Ujian Nasional

Abu Nawas mondar-mandir di halaman depan rumahnya. Sebentar dikiri sebentar di kanan. Sebentar berdiri, sebentar jongkok. Tetangga pun mulai berdatangan, aneh melihat tingkah Abu Nawas.

“Ngapain daritadi mondar mandir begitu, Abu?” Tanya seorang tetangga.

“Aku mencari kunci pusakaku.”

“Terakhir kamu ingat, kuncinya dimana?”

“Sepertinya jatuh didalam kamar.” Abu Nawas masih sibuk mencari.

“Jatuh di kamar kok nyarinya disini?” tetangganya melongo sambil menahan sedikit emosi.

“Karena di sini lebih terang oleh cahaya bulan.”

***

Saya membaca cerita tentang Abu Nawas ini di salah satu buku les Bahasa Inggris sewaktu masih sekolah dasar. Kala itu, cerita Abu Nawas tampak tidak masuk akal. Nggak ada lucunya, bisa dibilang bodoh malah. Nah, sekarang saat memikirkan tentang kurikulum 2013 dan gonta- gantinya tata cara Ujian Nasional, rasanya cerita itu tepat mewakili.

Sewaktu saya sekolah dulu, UN mempuyai 2 tipe soal. Bertambahnya tahun, tipe soal juga semakin bertambah. Supaya apa? Menghindari kecurangan! Iya, pemerintah tahu kecurangan dimana- mana, meliputi : siswa didiknya, oknum pendidik, hingga oknum penjagaan soal yang dirunut bisa sampai ke percetakan dan pembuat soalnya.

Lantas kecurangan bisa dihindarkan? Tidak! Ada kenalan yang bahkan mengambil  ketakutan siswa sebagai peluang. Membuat kunci ‘asal’ lalu diedarkan demi uang. Urusan lulus tidak konsumennya perkara nanti. Lagipula jual beli kunci ini rahasia dan resiko sepenuhnya tanggungan sendiri. Akhirnya masa depan siswa taruhannya.

Kurikulum 2013 lebih tidak manusiawi lagi, menurut saya. Jumlah bab mereka diperbanyak, bahkan sebagian materinya sulit dicerna. Itupun mereka harus mencari sendiri bagaimana rumusnya diperoleh. Bisa dibayangkan? Yang dijelaskan langsung oleh guru, banyak nggak nyantol. Apalagi nyari sendiri!

Saya tidak meremehkan murid tapi memang begitu nyatanya. Iya, kalau waktu yang diberikan cukup. Ini nggak! 1 Semester mereka belajar 6 bab Matematika (untuk kelas 9) dengan waktu kurang dari 6 bulan karena dipotong- potong kegiatan sekolah dan liburan.

Derita pun ditambah karena UN nya adalah irisan kurikulum materi 2006 dan 2013! Kan tidak masuk akal! Sangat tidak adil untuk siswa. Mereka belajar ini lalu yang keluar ujian itu. Dan karena nilai tinggi dibutuhkan untuk persaingan mencari sekolah lanjut, jalan keluar dipilih adalah berbuat curang. Karena apa? Karena sistemnya!

Lalu, apa solusinya? Memberantas budaya curang sejak awal adalah yang paling tepat. Memberikan siswa materi yang layak sesuai kapasitasnya dan memberikan ujian yang pas. Tidak perlulah memampatkan bab, toh pada akhirnya pendidik tahu kalau murid mereka tidak mampu.

Bukankah di negeri ini banyak orang pandai? Universitas dimana- mana, yang bisa dibilang setiap 6 bulan mengeluarkan lulusan baru. Lantas, mengapa masalah ini tidak kunjung selesai dalam 3 tahun?

Bahkan masalah baru muncul, ada sekolah yang ujian tulis ada pula yang ujian berbasis komputer. Kesenjangan mulai muncul bahkan di dunia pendidikan. Maka, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” hanya sebatas pemanis Pancasila.

UN 2017 tinggal beberapa bulan lagi, semoga ada perubahan yang berarti.🙂

Jika pendidikan begini- begini terus, jangan disalahkan kalau justru yang berpendidikan tinggi malah korupsi, atau orang yang shaleh kini terlibat kasus pelecehan seksual dan penyalahgunaan narkoba. Orang- orang cerdas memilih membodohi orang lain dan yang pengetahuan agamanya luas membenarkan kebejatan.

40 thoughts on “Abu Nawas dan Ujian Nasional

  1. bukan hanya muridnya, fasilitas yang mengajarinya juga tambah binggung. wkwkwk
    jadi, kurikulum sekarang, mengharuskan siswanya untuk les private ke gurunya, berarti tambah biaya lagi, dan tambah rezeki bagi gurunya. hahahaha
    ingatkan kalau asal njeplos aja

  2. pada substansinya, muatan kurikulum 2013 ini cukup bagus dan integral, namun belum meratanya pendidikan kita membuat penerapan sistem ini jadi carut marut, alhasil masih jadi kurikulum campur-campur. dan betul, yang jadi korban ya siswa jadi kebingungan, belajarnya apa yang diujikan apa. bahkan sekolah yang sudah menerapkan K13 pun pada akhirnya ketika UN ya tetap mengikuti standar pemerintah yang ternyata masih campur2 dengan KTSP😀 alibinya sih biar beririsan dan adil. eh justru malah jadi repot.. hehe

  3. Dulu, awal kurikulum 13, saya juga sempat mencak-mencak sebagai orangtua, perpustakaan sekolah ga ada, jaringan internet lemot, anak suruh menyelesaikan materi pelajaran sumbernya darimana? Ngayal? *emak2 tukang protes.

  4. Betul banget tuh mbak.. Banyak yang dikatakan membuat kunci jawaban dengan ‘asal’ yang dikarenakan hanya demi kepentingan pribadi yaitu menghasilkan uang, padahal kasian dengan siswa-siswinya sudah mengeluarkan uang hasilnya juga nihil masa depanpun yang jadi taruhannya juga. Apalagi sekarang ada saja dengan unsur paksaan untuk membeli kunci jawaban dengan iming-iming beginilah begitulah duhhh😦 semoga ada perubahan yang lebih baik lagi deh kedepannya amin..

  5. Wah Abu Nawas! Persis kamu mba, waktu SD/SMP gue ga bisa ketawa baca itu cerita. Tapi skrg jadi yang mesem sendiri hahaha
    Dan soal pendidikan Indo, tau deh mba gue jg salah satu korban gonta-ganti kurikulum, dan sampai skrg juga masih gonta ganti jg ternyata. OMG
    Orang indo itu mesti nyoba api dulu baru percaya klo panas, meskipun di luar sana uda ada yang bilang api itu panas karena sblmy pernah nyoba. Tinggal lihat negara2 yang sistem pendidikannya baik, contek. Ini mah “GENGSI BOOOOS!” Hahahaha

    • ya itulah mungkin namanya pertumbuhan. hehe.. ternyata otak kita (kita? lo aja kali😆 ) numbuh juga selera humornya.😀
      hahaha itu dia.. malah ribet nyari- nyari solusi lain, padahal masalahnya bukan disitu.😦 susah memang ya masalah pendidikan ini. kayak benang kusut, tarik sini, mbulet disana, dan seterusnya.

      • Iya mba, padahal klo mau bagus, benerin dulu aja fasilitas dan aksesnya. Kadang suka sedih klo liat dedek2 imut jalan berkilo2 ke sekolahan, belum yg lewat sungai. Aduh kesiannyee *klo kata upin*

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s