Tentang Demo Damai (4/11/2016)

Melihat demo kemarin berlangsung sukses dan benar- benar damai, saya terharu sekali. Seruan mengagungkan kebesaran Allah dilantunkan setiap bibir ratusan ribu demonstran, yang saya lihat di beranda media sosial, sungguh menggetarkan. Relawan datang dari segala penjuru dengan berbagai peran. Bagian orasi, bersih- bersih, kesehatan, konsumsi, lengkap, bahu membahu. Indah ya..πŸ™‚ [Abaikan yang bakar- bakaran mobil diujung hari.]

Saya geram melihat cercaan dan candaan yang terlontar meremehkan usaha pendemo dan menganggap mereka sekumpulan bodoh sekaligus tolol, diperdaya politik rela berpanas- panas demi uang dan makan. Yang dibilang bayaran lah, dibilang mumpung ada fasilitas lihat monas gratis lah, eksis dengan foto- fotolah, dan sebagainya. Seolah mencari- cari lahan untuk menabur kebencian karena gagal mencari kesalahan dari demo damai yang berlangsung.

menistakan/meΒ·nisΒ·taΒ·kan/ v menjadikan (menganggap) nista; menghinakan; merendahkan (derajat dan sebagainya) ~KBBI Online

Demo ini menunjukkan betapa besar kecintaan ummat terhadap agamanya dan mengorbankan segalanya -nyawa sekalipun, demi membela kitabnya. Bukan main- main. Banyak tokoh politik dan ulama besar turun ke jalan. Mengawal proses jalannya demokrasi, suara rakyat memang seharusnya didengar petinggi negeri ini. Perihal niat, adanya di dalam hati, biar Allah yang menilai.πŸ™‚

Meski kalau kita membuka mata lebih lebar, sebenarnya banyak penistaan yang berlangsung terang- terangan. Sebut saja pejabat yang terjerat kasus korupsi pengadaan kitab suci atau korupsi dana penyelenggaraan Ibadah Haji. Juga mereka yang mengatasnamakan pondok pesantren lalu menjadikan narkoba dan seks sebagai ritual. Termasuk penggandaan uang dan pemujaan kepada seseorang yang katanya mendapat karomah dari Tuhan. Bahkan yang bersumpah di bawah kitab lalu menghianatinya, itupun termasuk menistakan!

Sudah ah, saya takut membahas masalah ini terlalu panjang, kuatir tidak objektif. Karena jujur saja, saya pendukung Pak Gubernur karena kinerjanya. Melihat sepak terjang beliau memperbaiki ibukota membuat saya berpikir, “pemimpin sebelum- sebelumnya ngapain aja?” Namun, karena bukan warga Jakarta, rasanya saya tidak patut untuk ikut dalam pusaran. Cukup dengan doa, semoga Bapak sabar dan masalahnya bisa diselesaikan dengan baik.

Kalaupun terbukti beliau menistakan agama, semoga hukumannya tepat. Jangan sampai karena beliau pejabat lantas bisa kebal hukum. Ini tidak benar. Pencuri sandal, ketela, dan kayu bakar juga meminta maaf berkali- kali tapi proses hukum tetap berjalan.πŸ™‚ TAPI bila bukan, semoga orang- orang yang memfitnah dan menyebarkan kebencian diganjar serupa. (Meskipun saya berharap -sangat berharap malah, Pak Ahok mau memaafkan.)

Jika sebuah mata harus dibalas dengan sebuah mata, hanya akan membuat seluruh dunia ini buta. ~Mahatma Gandhi.

Bagaimanapun juga, benar kata pepatah : Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Kebaikan yang beliau pernah lakukan kini menjadi tak ada artinya. Apalagi jaman sekarang, semua orang bisa mengakses dan menyebarluaskan informasi tanpa mengkroscek kebenarannya. Kalaupun satu periode saja, semoga upaya memperbaiki Jakarta bisa diteruskan dengan lebih baik oleh Gubernur selanjutnya.

Namun, bila memang (dengan keajaiban dan izin Allah) kembali terpilih, semoga beliau tetap amanah dan menjadikan ibukota kian baik lagi. Membuktikan pada pembenci bahwa semangat untuk memperbaiki negeri melampaui segala macam suku, ras, etnik, dan agama.

ahok2bpemimpin2bkontroversi2babad2bini

Ini jadi pelajaran buat semua, hati- hati dalam menjaga lisan. Yang lebih penting lagi, juga harus pula menjaga hati dan isi kepala. Karena seperti Aa Gym sampaikan di salah satu tweet-nya, “ingat teko hanya mengeluarkan isi teko, kata2 mencerminkan isi hati, hati yang baik akan mengatakan yang baik, begitu pula sebaliknya.”

Terakhir. Yuk, semangat membela Al Quran tetap diteruskan dengan membaca dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari!

Sekarang, mari kita kembali ke peran masing- masing dan bertanggung jawab sesuai peranan tersebut! *baliknyucibaju

Plong sudah ngeluarin uneg- uneg dari kemarin.πŸ™‚

24 thoughts on “Tentang Demo Damai (4/11/2016)

  1. Walau bukan warga Jakarta tapi entah knp saya juga ikut2an perhatian ama pilkada DKI wkwk…. 😁✌ sebenarnya ada juga sih uneg2 tapi disimpan sajalah,,, beranda FB dan TL saya lagi campur aduk masalah ini hehehe

    • ya memang itu yang harus dilakukan, mbak. kalau bawa sakit hati berkepanjangan dan diskusi melebar kemana- mana bisa tidak ada ujungnya.😦 malah permsuhan dan perpecahan dimana- mana.

  2. Saya juga suka dgn gubernur skg ini,karena benar” saya merasakan imbasnya,,, klo dulu mau ngurus apa” susahnya minta ampun blm bayar ini itu,tapi skg smua satu pintu datang langsung dilayanim dgn baik gak ada pilih” dan pungli sedikit sdh hilang,, dan penting lagi sekitaran sungai ciliwung rumah saya sdh bagua bgt bedaaaaaa bgt sama yg dulu.. Yah karena ada perkataan yg menurut banyak org tdk pantas,, meski saya sdh lihat dan memang ada perbedaan antara kata PAKAI tapi kebanyakan org tdk melihat itu karena sdh terlanjur dgn apa yg pertama kali muncul,,, mungkin mereka inginnya beliau langsung di sidang atau stop jd gubernur,tapi saya kira itu butuh proses begitu jg kasus surat al maidah ini, sabar dan tunggu saja serahkan kepihak yg lebih tau dan jgn kita yg hanya menerka” ujungnya jadi salah paham… Proses hukum tdk secepat seperti kita bikin mie instan,,, sabar dan berdoa bukan saling debat kusir yg gak akan ad ujungnya.. Salam damai…

    • Iya mbak, saya baca- baca tentang kinerja beliau dan angkat topi, salut sekali!
      Kata berita, ceramahnya ada yang dipotong ada yang tidak. Penggunaan ‘pakai’ ada yang bilang tidak berpengaruh pada kalimat dan ada yang tidak. hehe media aja dibuat tergantung pesanan dan kepentingan, mbak. semoga segera selesai mbak masalah di Jakarta.πŸ™‚ damai selalu disana.

      • Iya makasih ya doanya utk jakarta yg butuh perbaikan jadi lebih ok, kepingin kan liat jakarta jd keceh kaya dinegara” tetangga yg berkembang itu loh,hehehehe bermimpi ngpplah 😊😊

        • hehe.. iya. pemimpin- pemimpin kece berebut jadi gubernurnya Jakarta. harusnya maju lah mencalonkan di kota lain ben ke-kece-annya merata. iri lah sama jakarta.πŸ˜€
          Pak Ahok kalau disana nggak dipilih, pindah sini aja. Hehehe

  3. sebelum mengambil pendapat tokoh agama lain, baiknya ditimbang dulu dengan parameter agama kita terutama alquran, pas tidak pendapat itu kita ambil/sepakati.

    Jika sebuah mata harus dibalas dengan sebuah mata, hanya akan membuat seluruh dunia ini buta. ~Mahatma Gandhi. >> kalimat ini kontra dengan konsep qishosh dalam Islam. bahkan di almaidah 45 dikatakan “…mata dibalas dengan mata…”

    berpendapat apakah layak seseorang dipilih sebagai pemimpin atau tidak, juga diukur dulu dengan parameter agama kita. yiaaa…lagi2 almaidah 51.

    • ohya mbak,πŸ™‚ terimakasih masukannya jadi belajar tentang qishosh.
      tapi, kutipan itu saya ambil bukan untuk mata yang sebenarnya. hanya sebagai perumpamaan saja.πŸ™‚
      kalau yang masalah pemimpin non muslim itu mbak, jika diterapkan berarti akan tebang pilih. karena kalau berlaku di semua lini, harusnya perusahaan- perusahaan besar yang pemimpinnya non muslim tapi karyawannya muslim bagaimana? kan tidak bisa dihindari. ini bukan negara muslim, jadi ya tidak bisa dihindari kalau memang ada keberagaman agama. toh agamanya juga diakui. lagipula mbak, saya bukan warga Jakarta jadi bukan pemilihnya beliau. namun, kinerja beliau (terlepas dari apapun agamanya) memang bagus.πŸ™‚
      terimakasihh..

      • Beda. Yg masuk ke bahasan pemimpin harus muslim itu untuk skala ulil amri. Pemimpin yang membawahi hajat hidup orang banyak. Pemimpin pemerintahan contohnya. Beda dgn pimpinan perusahaan, atau semacamnya. Boleh hukumnya bekerja kepada orang kafir asal pekerjaannya halal dan tidak menghalangi ibadah. Namanya bukan tebang pilih, tapi memang begitu pemahaman dan aplikasinya. Semua ada dalilnya, ada penjabarannya bagaimana penerapannya. Kita bisa belajar lebih lanjut ^^

  4. Dan beberapa hari kemarin, timeline benar2 riuh membahas masalah ini. Ada yang membahas dengan tenang, ada yang berapi2.

    Misal, iseng nanya ke temen yg kmrn ikut demo, apa dia hari ini sudah tadarus apa belum, kira2 bakal tersinggung gak ya dia? *mancing perkara, ih*πŸ˜†

    • iya mbak, memang rame sekali, timeline facebook apalagi. mesti pinter- pinter nyaring info kalau nggak pengen kepancing sendiri. hehe…πŸ˜€ ya kalau memang niatnya betul, sepertinya nggak tersinggung, mbak.

    • Pertanyaan yg bagus. Coba gih. Ntar share jawabannya sini ^^

      Senada dengan komen yang berkata: “Membela alquran bukan dengan demo tapi membaca, menghafal, dan mengkajinya”. Padahal mereka yang demo hanya sehari kemarin turun ke jalan. Selebihnya, buanyuaaakk di antara para pendemo itu yang menghabiskan waktunya sehari-hari untuk belajar, mengajar, menghafal, dan mendakwahkan alqur’an. semisal syeikh Ali Jabir..siapa yg tak kenal beliau yg memasyarakatkan quran baik di masjid2 maupun di TV..daaan buanyaaak ustadz/ulama lainnya yg sibuk oleh alquran sehari2nya. Doakan semoga ghiroh juang kemarin ada atsarnya. Membekas menjadi kesadaran bagi para muslimin untuk lebih akrab dengan Alqur’an.

  5. Nice angel mbak, tulisannya mengambil sudut yang menarik tentang heboh demo kemarin. Saya punya pandangan pribadi, tapi tetap menghargai pendapat org lain juga. Isi kepala masingΒ² beda- beda. Yang jadi perhatian sy saat ini adalah hal besar dan bermanfaat apa yang akan terjadi setelah ini. Terkesan pasif sih, tapi rasanya itu sikap yg terbaik buat sy selaku warga luar jakarta. Hehe

    • iyyaa setuju mas. masing- masing kepala pandangannya beda2.
      justru itu yang paling bagus kan ya? daripada bikin malah rusuh kan mending ambil apa yang bermanfaat dari situ.πŸ™‚

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s