Bilangan Fu

 H +7 ; Author From Indonesia – Bookstagram KBI 2016

Tantangan menyebut penulis buku Indonesia ini membuat saya langsung terbayang Ayu Utami. Semua bukunya memenuhi rak dan yang paling favorit adalah seri Bilangan Fu. Pertama kali kenal di 2013, buku setebal kamus Inggris Indonesia itu sukses mengalihkan perhatian saya dari skripsi.😦 Lalu sekarang bukunya entah dimana. Saya lupa dipinjam siapa dan sudah dibalikin atau belum.

Bilangan Fu merupakan seri ke 0 dan akan disusul 12 seri lanjutannya, sekarang baru terbit tiga buku. Dan kalau Supernova, Dewi Lestari, menunggu 15 tahun untuk menjadi lengkap 6 seri, saya tidak bisa membayangkan pada umur berapa petualangan Marja, Parang Jati, dan Yuda saya tamatkan. Hehe.

p_20161107_104153

Manjali Dan Cakrabirawa

Seri ini bercerita banyak tentang peninggalan berupa arca di dalam hutan di Jawa Timur. Mengungkap sejarah jaman kerajaan yang dipimpin Prabu Airlangga dan permusuhannya dengan Calwanarang. Lebih dari itu, juga mengungkap kekejaman G 30-S PKI dalam kemasan yang berbeda.

Semua informasi yang didapat dari buku ini dibungkus apik dengan percintaan (atau perselingkuhan?) Marja dengan Parang Jati. Juga pengkhianatan Yuda terhadap kekasih dan sahabat baiknya.

…kita mungkin tidak punya kemampuan untuk mengampuni. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai. Berdamai dengan sisi lain manusia yang tak kita mengerti itu. Setiap kita punya sisi gelap, Marja. ~Parang Jati

p_20161107_104443

Lalita

Melanjutkan seri sebelumnya, Lalita mengajak kita mengenal Borobudur. Destinasi tour wajib bagi SD dan SMP ini punya sejarah yang panjang dan tak banyak terungkap. Bahkan saya pertama kali mendengar kitab Lalitavistara dan Jataka yang reliefnya dimasukkan ke dalam Borobudur.

Dari buku ini, saya mulai kenal Freud dan tokoh psikologi lainnya. Kakek si kembar Lalita dan Jataka mengatakan, ” betapa menakjubkan pengetahuan para pembuat Borobudur mengenai struktur jiwa manusia. Apalagi dilihat dari kacamata psikoanalisa modern.” Nah! Kerennya nenek moyang kita. Ini kadang bikin saya nggak percaya, masa sih kita dijajah 350 tahun?

Semua anak Indonesia merasa tahu apa itu Borobudur. Tapi sesungguhnya Borobudur mengajari kita bahwa jauh lebih banyak yang tidak kita ketahui tentang dia daripada yang kita ketahui. ~Lalita

p_20161107_104315_hdr

Maya

Buku ini berlatar peristiwa Reformasi 1998. Bila telah membaca dwilogi Saman – Larung, akan lebih mudah memahami akar masalah dari Yasmin yang membawa putrinya ke padepokan Suhu Budi, Ayah Parang Jati, untuk menerjemahkan surat Saman.

Bagi saya, buku ini yang paling keren dari buku lainnya, well meskipun saya selalu bilang begitu saat tamat membaca semua bukunya.😀

Reformasi 1998 yang saya tahu hanya bungkusnya, disini dijabarkan detil kejadiannya. Mengapa supersemar? Dan mengapa diantara semua punakawan harus semar? Bahkan batu supersemar, yang kabarnya dapat memperkukuh kekuasaan, ditawarkan di sebuah situs internet awal 2013.

Pemilihan tempat dan informasi membawa kita pada keyakinan utuh ini cerita nonfiksi, atau jangan- jangan memang nonfiksi? Nah!

Modernisme adalah alat untuk memperalat. Takhayul adalah alat untuk diperalat. ~Bilangan Fu

p_20161107_104555

Pada setiap buku yang ia tulis, membuat pembaca (lebih tepatnya, saya) memikirkan teka- teki yang disebar sepanjang buku. Saat halaman terakhir sudah tuntas, buku tertutup, segera ceritanya meledak di kepala, sensasi ini tidak dapat ditemukan pada buku lain. (Barangkali karena buku yang saya baca pun tidak banyak.)

Akhirnya, menemukan susunan yang pas untuk puzzle cerita yang Ayu acak.🙂 Ini alasan buku Ayu Utami selalu saya lahap dalam sekejap. Hehe.

Kalau teman- teman, siapa penulis favorit kalian?

20 thoughts on “Bilangan Fu

  1. Aku pertama kali berkenalan dengan Ayu Utami waktu buku Saman. Setelahnya wajib beli kalau dia ngeluarin buku. Dee suka sejak dia nyanyi, trus wajib beli juga setiap bukunya. Bahkan pernah foto bareng di Frankfurt Book Fair. Kalau penulis favorit sejauh ini Dee, Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono, Leila S.Chudori, Emha Ainun Najib, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu.

  2. Aku ada semua bukunya lengkap. Tapi waktu pindah ke Belanda untuk penulis2 favorit bukunya aku simpan di rumah orang tua. Untuk buku2 dari penulis lainnya aku berikan ke rumah baca milik adik kelas. Lumayan ada 400an buku. Soalnya dulu waktu sudah kerja, seminggu sekali wajib beli buku. Rencananya dulu bikin rumah baca. Eh ga kesampaian karena musti pindah. Akhirnya buku2 dihibahkan biar lebih bermanfaat. Sekarang ngumpulin lagi, tukang timbun buku haha.

    • wowww.. keren banget mbak.🙂 saya juga dulu pas akhir- akhir kuliah nimbun buku pengen buat rumah baca.
      Nah, sekarang bukunya ngumpul, tapi pas murid pinjam gitu saya gondok gegara baliknya buku sudah lecek.😦 jadinya, sekarang saya simpan bukunya dan nggak ada yang boleh pinjem. *parah ini pelitnya

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s