USBN, nama baru UN

Nggak tega memberi kabar ini pada murid. 😦 Saya menghindari menciptakan ketakutan siswa pada ujian. Kenapa? Ujian itu hal yang wajar! Sekolah salah satu bentuk berproses dan untuk mengetahui sejauh mana proses yang kita lakukan, ya dengan ujian. Meskipun, saya kurang setuju dengan teknis ujiannya. :/

Kalau ada yang berpendapat, “sekolah 3 tahun hanya untuk ujian kelulusan 3 hari.” Kalau kita benar dalam berproses, 3 hari ujian nggak akan jadi masalah besar. Iya kan?

“Yang penting proses belajar 3 tahun itu..” kata sebagian orang mencari alasan. Menurut saya kurang tepat. Seseorang terlihat besar karena hasilnya. Prosesnya? Nggak ada yang peduli, kecuali nanti kalau mereka sudah punya nama. Sebut saja Steve Jobs dan Bill Gates kalau mereka tidak menghasilkan sesuatu, akan se-terkenal sekarang? Hmm..

Standar nasional sekarang belum optimal karena yang diujikan dalam UN hanya beberapa pelajaran. Dengan USBN maka akan dilakukan untuk semua pelajaran.~ Menteri Pendidikan

Yahh.. akhirnya, UN pasti dihapus. Tapi siswa tidak dapat tertawa lepas karena penggantinya jauh lebih kejam : USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional). Itupun, soal semua mata pelajaran akan diberikan dalam bentuk pilihan ganda dan essay.

Selain soal dari daerah setempat, ujian ini akan memuat beberapa soal dari pusat. “Soal sisipan dari pemerintah pusat itu, tak akan berbeda-beda di setiap daerah. Wong namanya standar nasional, masa dibeda-beda,” kata Pak Menteri.

Harusnya, kalau Pak Menteri bisa bilang, “masa dibeda- beda, kan standar nasional!” lah beliau juga seharusnya melihat pelaksanaan pendidikannya loh juga beda- beda. Ada yang kurikulum 2013 ada yang KTSP. Ada yang pelajarannya satu satu, ada yang tematik – semua pelajaran dicampur.

Daripada ribet nyelesaiin masalah UN yang ternyata cuman ganti nama dan mempersulit siswa, mbok mending rombak ulang sistem pendidikannya. Ini sudah akan 2017 sementara kurikulum 2013 aja belum 100% diterapkan di semua sekolah.

Ia menyatakan, persiapan USBN sudah mencapai 70 persen. Kemendikbud tinggal menunggu restu dari Presiden Joko Widodo yang kemungkinan akan diputuskan pada pekan depan, setelah menggelar rapat terbatas. “30 persen yang belum siap itu, ya tinggal membuat soal saja. Kan harus koordinasi dengan pemerintah daerah,”

Semoga kebijakannya ditinjau ulang, mengingat waktu yang kian terbatas. Apalagi kali ini bukan hanya 3, 4, dan 6 mapel. “Tinggal membuat soal saja” itu bukan perkara mudah. Jangan sampai kejadian 2014 lalu terulang, ternyata satu soal dicomot dari Programme for International Student Assessment (PISA). Dengan alasan : agar siswa terbiasa dengan soal yang bersifat aplikatif. Ihwal proses pembelajaran siswa yang tidak terbiasa dengan soal penalaran, disebutkan bahwa guru yang bertanggung jawab. Hmm…

Dan semoga semua siswa sudah berproses dengan benar, meskipun di sistem pendidikan yang carut marut, yang tiap ganti menteri ganti kebijakan. Bagus kalau memperbaiki keadaan, lah kalau malah buat masalah baru kemudian ujung- ujungnya yang dirugikan siswa lagi. Nah…

38 thoughts on “USBN, nama baru UN

  1. yah kasian juga mba pada siswanya, disamping harus memikirkan materi dan soal UASBN yang tentunya akan sangat menyulitkan si siswa itu mereka harus juga mempersiapkan beberapa persiapan di antaranya mental, ujian sekolah dan otak..

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s