batal main #2

Siang kemarin, saya hubungi ketua panitia kejurkab. Minta konfirmasi, adek saya sudah daftar, uangnya diterima tapi kok namanya dicoret dari daftar lomba. Pak ketua bilang, beliau tidak ikut TM dan tidak bisa memutuskan kesalahan ada di pihak mana. Intinya, masalah ini akan dibawa saat evaluasi di penutupan kejurkab.

Bikin makin geram, saat saya minta pertangungjawabannya dijawab begini, “kalau nggak bisa main, uang pendaftarannya bisa diambil di kesekretariatan.” Saya bukan mau minta uang! Ini adek saya dihapus haknya secara sepihak tanpa konfirmasi apa- apa. Meskipun, tidak bisa disangkal juga ketidakhadiran wakil atlet sewaktu TM juga salah satu pemantik masalahnya. Ahh!

Malamnya, saya ke Pak T. Ibuk Bapak sih dari awal bilang, “nggak usah lah, Mbak.” Nah sayanya ngeyel pengen masalah ini nggak berlarut- larut. Capek kan ya kita mikir dan benci orang tapi nggak ada penyelesaian.

Pak T cerita kalau yang kurang profesional panitianya. Edaran yang disebarkan pada poin ke 4 jelas kalau yang diundang adalah klub se-kabupaten. Artinya, kalau tidak mewakili klub, atlet tersebut dilarang ikut main. Penyelenggara kejuaraan ini adalah PBSI, lain kalau penyelenggaranya Dinas. Dinas mengundang sekolah- sekolah. “Beda, Mbak.”

Lah, kalau memang yang diundang klub, kenapa sekolah juga dikasih edaran? Artinya, sekolah diminta mengirimkan wakilnya. Diundang! Saya bahkan sewaktu datang ke Nganjuk untuk mendaftar, dimintain tolong untuk nyebarin edarannya ke sekolah di Kertosono! Saya juga yang nganter edaran itu ke Pak T.

Dan lagi, aturan ini tebang pilih! Putranya Pak Z, klub dan sekolahnya ikut Kediri. Daftar dan bisa main di kejurkab karena punya identitas warga Nganjuk.

Lawan adek saya, sebut saja S, sudah terdaftar di klub besar Jakarta tinggal disana pula, bahkan punya ID Card resmi PBSI atas klubnya. Namun, bisa ikut kejurkab karena masih status warga dilihat dari akte kelahiran.

Beberapa anak SMPN 1 Kertosono mewakili sekolah dan bisa ikut main. Padahal sewaktu TM wakil atletnya juga nggak hadir!

Perlu disebutkan yang lain lagi?

Lalu, Pak T beralasan, “kebetulan kok yang saya kenal ya Fifi ini, ya tak laporkan. Kan saya tahu banget.” HAHAHAHAHAHAHAHAHA #ketawasampejupiter. Terimakasih banyak lah, Pak.

Sebelumnya, Ibuk sempat menghubungi ketua PBSI Nganjuk. Kebetulan, istrinya adalah teman baik ibuk. Beliau bilang, “bebas kok ini Bu. Ini kan gawenya kabupaten Nganjuk. Semua warga ya berhak ikut. Njenengan kalau ngasih kabarnya sebelum namanya diplot saya bisa bantu.”

Tiga panitia yang kemarin ikut TM cerita ke Bapak, “TM kemarin awalnya damai, Pak. Pas bahas nama Insyatul Fitri ini agak panjang dan rusuh, karena Pak T minta dicoret dengan alasan nggak dapat rekomendasi dari klubnya. Panitia ya pengennya masukin aja, wong sudah diterima pendaftarannya berarti kesalahannya ada di panitia. Tapi ya njenengan juga salah, sewaktu TM kok nggak datang.”

Oke, tadinya kami nggak ada perasaan buruk apa- apa dengan orang lain. Tapi, sekarang nggak. Ini jadi pelajaran buat kami sekeluarga : jangan berbaik sangka pada orang, bikin nggak waspada.

30 thoughts on “batal main #2

  1. Greget bacanyaa mbaak! Kok bisa ya aturannya gak jelas gitu. 😦 Dek fifi semangat yha! Ini salah satu rintangan yang harus dihadapi untuk jadi atlet handal. Mupuk mental. Semangaat! #pompompompom

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s