SC Tanpa Trauma

Perkenalan saya dengan gentle birth adalah dari foto lahiran Andien di instagramnya. Pencarian saya lanjut di akun- akun lain hingga ketemu @bidankita. 

Obsesi tentang melahirkan spontan, lembut, hangat, dan minim intervensi sudah menjadi obrolan sehari- hari dengan ibu, bapak, dan suami. Saya kemudian mengingat kembali sewaktu membuat kamar mandi lengkap dengan bathtub dan pemanas air. “Jangan- jangan saya ditakdirkan untuk melahirkan di rumah.” πŸ˜€

Lanjut, saya membeli buku tentang gentle birth beserta CD tutorial pernafasan dan gerakan yang dibutuhkan untuk persiapan persalinan. Lebih dari itu, saya juga cari informasi doula (pendamping persalinan) di seputaran Kertosono, yang ternyata adanya di Surabaya. :/ Biaya untuk mendatangkan beliaunya ke rumah tidak murah, jadi urung. 

Saya mencari di Kediri – Nganjuk – Jombang praktisi senam pranatal. Tak mendapat hasil,

saya putuskan belajar sendiri dari youtube. Hingga suatu hari (halah) teman Dek Afam, Adel, menghubungi saya menanyakan kabar. Obrolan berlanjut karena saya mencari guru pengganti untuk lahiran, siapa tahu Adel bisa mengajar atau punya kenalan. Eh, ternyata Adel ini lulusan fisioterapi UNAIR.

Lalu? Dia menawarkan untuk memberi pendampingan senam pranatal. Nah! Sejak didampingi senam, rasanya kepercayaan diri meningkat untuk persalinan normal. Ditambah lagi, setiap kali periksa ke dokter ataupun bidan selalu dibilang posisi janinnya bagus

Tiba minggu ke 37, sewaktu USG di obgyn dibilang harus SC. Saya pendek, pinggul sempit, sementara bayi besar : 3199 gr (menurut perhitungan dari alat USG nya). “Kalau bayinya dibawah 3 kg masih bisa diusahakan normal, Bunda. Kayaknya kok mustahil untuk menurunkan BB bayi. Jadi, baiknya SC saja, silahkan pilih tanggal sampai 31 Agustus sebelum masuk usia 39 minggu.” Perbincangan selanjutnya antara ibuk dan dokter adalah tentang prosedur SC dengan BPJS.

Kepala saya mendadak pusing berat. Impian melahirkan versi saya sudah hancur berantakan. Sedih? Pasti. 

Saya bilang ke ibuk untuk nggak operasi, “dokter tu beda sama bidan, Bund. Maunya cepet, langsung gunting, keluarin bayi aja. Kalau lahir normal kan bisa lebih dari sehari. Kelamaan. Bisa- bisa nggak keurus pasien yang lain. Makanya aku tak lahiran di bidan.” 

Ibu jawab, “dokter itu sekolah mbak, pasti punya pertimbangan untuk memutuskan lahiran normal apa operasi. Nggak asal. Nyawa ibu dan bayinya dipikirin semua. Kalau misal saman (sampeyan, bahasa jawanya ‘kamu’) nekat lahiran di rumah, terus ada apa- apa, yang tanggung jawab siapa?”

Saat merajuk ke suami, si mas bilang, “lahiran normal apa SC tu sama, Dek. Yang penting sehat bayi sama ibunya. Jangan mikir senam dan belajarnya jadi sia- sia, nggak sama sekali. Kan Adek jadi lebih sehat selama hamil, semoga juga nanti lebih cepat sehat setelah lahiran.”

Saat merenung lama dan menghayati gentle birth lebih dalam juga membaca bukunya lebih banyak. Saya kemudian mendapatkan pemahaman bahwa yang utama dalam persalinan adalah kesadaran sang ibu menyambut buah hati. Metode apapun yang dipakai, entah normal, caesar section, water birth, lotus birth, dan banyak lainnya, prinsipnya adalah ibu-bayi selamat, sehat, dan bersukacita.

Barangkali kondisinya memang tidak bisa plek ketiplek dengan ketentuan gentle birth yang lampunya temaram, suasana syahdu, musik mengalun, ditemani suami, dan lain sebagainya. Tapi ketenangan bisa diciptakan di segala suasana. πŸ™‚ Dan saya akan berusaha menciptakannya di meja operasi. 

Saya rajin mengobrol dengan A, yang masih dalam perut, bahwa ia akan dikeluarkan ‘paksa’ dari tempat nyamannya. Berulang kali saya elus sembari minta maaf dan meminta dia memilih tanggal kelahirannya, hingga diputuskan 28 Agustus. 

Hari berlalu membuat saya kian siap. Saya menyambut A hadir dalam kehidupan dengan suka cita. Bayang- bayang jarum, gunting, ruang operasi yang dingin, dan sendirian dengan orang asing sama sekali tak membuat saya takut. πŸ˜€ Tuhan mengabulkan doa- doa orang yang menyayangi saya dan membuat proses SC berjalan singkat dan lancar.

Dalam salah satu kuliah live di instagram, Bidan Yesie pernah menjelaskan beberapa tanda trauma melahirkan (yang saya ingat) : tidak ingin menceritakan kembali atau mengingat- ingat proses persalinan, sering mimpi buruk dan seperti mengalami teror, kepribadiannya berubah menjadi pemarah, tidak sabaran, dan lain sebagainya. Syukur, sejauh ini tidak ada gejala trauma yang saya alami. πŸ™‚

Kalau ada yang nyinyir tentang SC, saya nggak ambil pusing. Dan lagi saya nggak ingin tergabung di mom war, apapun materi debatnya. Menurut saya, yang diinginkan setiap anak adalah ibu yang bahagia. Apapun pilihannya, semua ibu pasti tidak ingin mencelakakan anaknya. Wong, nyawanya aja rela dipertaruhkan. Tul nggak? πŸ˜‰

5 thoughts on “SC Tanpa Trauma

  1. Sbg seseorg yg sdh memahami SC dan GB, saran saja sih mba lepas dari mana yang lebih baik secara sains (yg terkadang bisa sama atau berlawanan dgn pilihan kita), bila sesuatu sudah diputuskan dan terjadi, jgn menoleh lagi ke belakang dgn what if…nya. Kalau perlu mute org2 yg bersuara negatif. Lalu fokus bgmn kedepannya agar anak bisa mendapat yg terbaik. Salam hangat.

  2. selamat mbaa atas kelahiran babynya.semoga semua sehat selalu 😊 bener bgt mau apapun cara ngeluarin bayinya yg penting kesehatan ibu dn bayi yg harus di dahulukan

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s