Tummy Time

Pagi itu, A masih 4 minggu. Oleh dsa A dijadwalkan untuk imunisasi BCG. Sayangnya, urung karena semalaman rewel dan badannya sedikit demam. Saya bilang sedikit karena hanya 37,6 😀 Bu Simbi bilang (lewat WA) itu bukan demam. 

Setelah saya ingat- ingat lagi, A memang belum poop sejak hari sebelumnya. Ia bahkan jarang sekali kentut. Fyi, frekuensi kentut bayi memang sangat- sangat sering, jadi terasa ada yang kurang jika mendadak kentut hanya sesekali. 

Karena kuatir, malamnya saya bawa ke Bu Simbi langsung. Setelah dicek ini itu, ternyata perutnya kembung. Usut punya usut karena pemakaian gurita yang terlalu ketat dan bertumpuk- tumpuk. Jadi sebelum gurita ada kainnya juga. 😦

Saya jadi menyesal karena ketidakberdayaan membantah nasehat orang tua. Sejak puput pusar (usia seminggu) sudah terus menerus mengingatkan ibuk dan mak untuk nggak perlu dipakaikan gurita

tapi dicuekin. Nah.. kalau sudah begini jadi tahu. Beruntung segera mendapat penanganan yang tepat.

Setelah lepas guritanya, A seketika kentut banyak dan panjang- panjang. Haha. Segera ia menyusu dengan lahap dan terlihat lebih sehat. 

Sepulangnya, saat malam dan hanya terjaga berdua, saya ajak A untuk tummy time (tengkurap) di dada saya. Dia semangat sekali, lonjak- lonjak. Suami bilang, “itu karena nggak nyaman.” Tapi saya ngeyel kalau A nggak nyaman pasti nangis. 😀

Besoknya, diulang lagi. Awalnya, sengaja kamar saya tutup untuk menghindari perdebatan yang tak perlu. Hehe. Sambil sesekali ngasih contoh bayi yang tengkurap sejak baru lahir beserta manfaatnya ke orang tua. Setelah terlihat mulai menerima ide itu, baru saya tunjukkan kalau A sering diam- diam saya tengkurapkan. 

Sumber : instagram @ibupedia

A dapat menendang- nendang kasur untuk berpindah dalam waktu cepat, bahkan bisa dari ujung ke ujung setelah beberapa kali sesi tummy time. Usia 6 minggu, lehernya sudah cukup kuat untuk menopang kepala, meskipun kurang seimbang. Sejak itu, kaki tangan A jadi kurang aktif, barangkali takut kepalanya jatuh. 😀

Umur 2 bulanan, kira- kira, A sudah bisa berguling dari posisi tengkurapnya. Meski begitu, hingga 4 bulan ini dia belum berhasil tengkurap sendiri, oh pernah sekali. Hehe, selebihnya hanya miring- miring saja.

Beberapa hari ini, A mulai menggerakkan lagi kaki tangannya. Sesekali membuatnya maju, mundur, atau memutar meskipun tak beraturan. Saya tak pernah menargetkan A segera bisa ini dan itu. Paling penting adalah dia mengeksplorasi setahun pertamanya dengan cara yang menyenangkan. Dan saya selalu membersamainya, tak pernah meninggalkan dia berjuang sendirian. 🙂

Perihal perkembangan anak, sensitif sekali bagi seorang ibu. Sudah pasti kalau bertemu ibu lain, yang ditanyakan pertama kali adalah : anaknya sudah bisa apa, Bu? 😀 Hehe.. saya sih seringnya santai aja jawab : sudah bisa nangis. Saya menghindari terjebak dalam obrolan membanding- bandingkan anak sendiri dengan anak lain supaya tidak kecanduan. Kita aja yang dewasa sakit hati dibanding- bandingin, apalagi bayi. Hmm…

4 thoughts on “Tummy Time

  1. Anakku pake gurita kalo di rumah, tapi gak pake kain lagi dan ikatnya gak kenceng. Masih bedongan juga. Menurutku ajaran ortu gak mutlak salah, namun disesuaikan dengan sikon bayi aja. Karena jaman kan berubah, jadi gak bisa plek ketiplek seperti ajaran orang lama.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s