Cerita Imunisasi Si A

Semenjak gagal imunisasi oleh dsa karena A sakit, yang sudah ditulis disini. Suami dan saya memutuskan untuk ke puskesmas saja, karena sudah hampir terlambat sementara berturut- turut dsa libur. Tapi ini ada baiknya sebab ternyata di puskesmas gratis. Hehe, minggu lalu saat mendapat daftar harga vaksin, sempat meringis juga. πŸ˜€

Daftar harga vaksin di Kediri

Pertama kali menemani A divaksin adalah saat BCG. Suntik di tangan kanan, yang sampai 4 bulan ini bengkaknya belum hilang. BCG ini enaknya adalah tidak menyebabkan demam. Hehe. Bengkaknya-pun kalau kesenggol nggak masalah, jadi mungkin nggak sakit

Beda dengan BCG, DPT 1 bikin kuatir. Sejak dari puskesmas A seketika

lemas. Bu Bidan bilang, “langsung diminumin obat sampai rumah ya Bu.” Dan betul, segera saya minumin parasetamol setiap 8 jam. Alhamdulillah, A bebas rewel dan demamnya hilang dalam 24 jam.

DPT2, berbeda. Di komunitas ibu yang saya ikuti diingatkan untuk tidak segera ngasih parasetamol pada bayi, tunggu demam dulu (suhu tubuh > 38,5). Sampai di rumah, A masih aktif hingga jam 3 sore. Selanjutnya, digendong nangis, ditaruh apalagi. Saya bingung mesti gimana, apalagi dirumah nggak ada ibuk. Jadi kerasa banget. Hehe.

Panas A mulai meningkat. Saya menyerah pada suhu 38,1, parasetamol masuk. Malamnya, dua jam sebelum sesi minum obat berikutnya, A sudah demam. Barangkali badannya mulai tidak nyaman, nangis kalau ditaruh. Saya gendong kemana- mana di dalam baju. Upaya skin to skin contact ini katanya bisa meredakan panasnya, tapi tidak. 

Hampir tiap 10 menit saya ukur suhunya. Tetap rutin juga selalu kasih asi, sampai nggak lepas- lepas. Sejam kemudian panasnya sudah 38,5. Wajah A merah dan lemah sekali. Seketika langsung saya minumkan penurun panas, meski belum jadwalnya. 8 jam berikutnya sudah terkendali dan A benar- benar fit setelah 4 sesi minum obat.

DPT3 masih 2 minggu lagi dan sepertinya saya lebih memilih cara yang pertama. 😦 Saya bukan tidak sabar menghadapi rewelnya. Hanya saja benar- benar nggak tega lihat A kesakitan. Sebenarnya sudah baca di beberapa artikel, bahwa wajar demam karena tubuh sedang beradaptasi dengan zat baru. Tapi sekali lagi, saya nggak tega. 😦

Orang tua harus melakukan tepat seperti yang mereka yakini sebagai yang terbaik, tidak lebih dan tidak kurang sedikitpun. -Glenn Doman

Ohya, yang selalu bikin nyess saat imunisasi adalah A tidak pernah nangis berlama- lama. Nangisnya hanya saat kesakitan jarum suntik masukin obat ke tubuhnya. Setelah diangkat langsung tenang kembali. Sering ditanyain ibu lain yang ngantri, “sudah mbak? Kok nggak kedengeran nangisnya.” πŸ˜€ 

Mungkin karena jauh- jauh hari selalu saya ingatkan A tentang waktunya imunisasi. Berulang kali saya bilang, “nanti vaksinnya disuntik di sini ya (sambil pegang lokasi suntiknya, hasil cari di google)… rasanya sakit, Dek. Tapi nggak apa- apa, kan ada mama.” Di lain waktu saya ceritain kalau imunisasi bikin dia sehat karena bla bla bla (panjang lebar).. πŸ˜€ Nyontek cara jelasin Kak Ros ke Ipin Upin.

Nah, A juga minum obat tanpa drama. Sebelum minum, saya beritahu kalau obatnya namanya Parasetamol, rasanya pahit, dan manfaatnya untuk penurun panas. Saya ulang beberapa kali. Selesainya minum obat, dia kecap- kecap sambil ngriyip. Hehe. “Itu namanya pahit, Dek. Adek sekarang tahu kan? Nanti jam …. (8 jam lagi) mimik ini lagi ya.” Sesi berikutnya minum, sudah santai, bahkan nggak perlu digendong, cukup dipangku.

Saya percaya, anak sangat bisa diajak ngomong. Seberapa kecilnya-pun dia layak untuk diperlakukan secara hormat, seperti halnya kita ingin diperlakukan. Pernah lihat cara meminumkan obat, bayinya dikekep (dipegang rapat- rapat supaya nggak bergerak) terus diposisiin berbaring dalam gendongan. Ya wajar kalau dia nyemburin obatnya. Kita saja, yang besar, kalau begitu caranya ya jelas berontak, nggak mau, dan trauma. :/ Tapi ya lagi- lagi kembali pada pilihan masing- masing. Tidak ada ibu yang ingin mencelakai buah hatinya. πŸ™‚

15 thoughts on “Cerita Imunisasi Si A

  1. Dulu pas kecil dikasih imunisasi apa ya yang gratisan itu wkwk. Kok kaget juga ngeliat harga non puskesmas itu
    Sama mbak. Saya juga tipe yang ga tegaan nyekokin obat ke bayi/balita

  2. Metode komunikasi dengan baby sebelum melakukan sesuatu di luar kebiasaan memang manjur loh mbak. Seperti keponakan sy yg baru 3 bulan mau perjalanan jauh jakarta-purwokerto. Dibilangin sama ayah ibunya dulu h-7 hari. Biar si anak ini siap fisik dan mental. Dan alhamdulillah selama mudik ga rewel dan sehat sampai pulang lg ke rumah 😊

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s