Persalinan Dengan BPJS

Faskes 1 saya adalah pusat pelayanan kesehatan UNAIR. Suami yang daftarin di sana padahal saya domisili masih Kertosono dan berniat lahiran di sekitar sini saja.

Atas usulan Tante, yang kebetulan nakes, njagani kalau nanti ada apa- apa sewaktu persalinan, saya pindah faskes 1 di Puskesmas Jabon Jombang. Syaratnya mudah, langsung saja ke website BPJS, pindah domisili, langsung akan diberi kartu dalam bentuk pdf. Kartu ini dicetak dan dibawa ke puskesmas tersebut.

Persyaratan puskesmas dalam memberi rujukan adalah setelah 3 kali kontrol. Pas banget! Dalam perhitungan saya sudah rencana : kontrol pertama saat hamil 8 bulan, 9 bulan, dan 9 bulan 2 minggu.

Saya waktu itu mikirnya, faskes 1 kan tidak melayani persalinan, jadi mungkin ketika hari H saya bisa langsung dirujuk ke

RSIA Muslimat. Ternyata tidak. Prosedurnya adalah puskesmas merujuk ke bidan yang kerjasama dengan BPJS dan Puskesmas Jabon terlebih dulu. Sekiranya, bidan tidak sanggup baru dirujuk ke RS.

Kan, ya sulit, di posisi sedang kontraksi terus dioper sana sini. šŸ˜¦ Suami bilang, “nggak usah pakai BPJS lah, Dek. Aturannya gitu, mana jarak Kertosono Jombang juga jauh.” Ibu Bapak juga setuju.

Pertemuan ketiga di puskesmas, saya minta rujukan untuk USG di RS. Pernah mencuri dengar kalau peserta BPJS bisa minta rujukan ke RS untuk USG pada tiap trimester kehamilan. Setelah negosiasi yang alot, tetap tidak diberi dengan alasan saya sudah kesana pada trimester ketiga (dengan biaya sendiri). Makin pesimis lahiran gratis. Hehe.

Singkat cerita, saya ke RSIA untuk kontrol terakhir yang kemudian divonis harus SC. Langsung dibuatin rujukan untuk UGD-nya. Sudah tidak perlu rujukan dari faskes 1 lagi. šŸ™‚ Persyaratannya mudah : fotokopi KTP (suami dan saya), KK, akta lahir saya, akta nikah, kartu BPJS yang asli, maupun yang sudah pindah faskes, dan paling penting : surat rujukan. Suami menyiapkan masing- masingnya 10 supaya nggak kuatir kurang.

Saya mendapat pelayanan kelas 2 sesuai dengan BPJS nya. Bila berminat naik kelas VIP atau VVIP (kelas 1 tidak tersedia), aturannya adalah menambah sebesar 75% dari selisih harga kelasnya. Saya bilang ke suami, “nggak usah lah, mas. 3 hari mesti nambah 8 juta padahal beda ukuran ruangan aja. Mending buat beli kebutuhan lain.”

Fasilitas yang didapat dari BPJS sangat memuaskan. Setelah pulang, masih dapat jatah 2 kali kontrol gratis ke dokter yang menangani persalinannya. Obatnyapun gratis. šŸ™‚ Selama 3 hari hanya keluar uang untuk membeli perban anti air, masih dibawah 100 ribu.

Baiknya, janin dalam kandungan didaftarkan di BPJS pada saat trimester akhir dengan menyertakan hasil USG, supaya benar- benar gratis tiss tiss. Sayangnya, suami dan saya sudah nggak sempat. Sehingga saat keluar RS masih mesti bayar untuk keperluan bayi, kurang lebih 1.5 juta sudah termasuk biaya imunisasi hepatitis dan dsa nya. 

Persalinan dengan BPJS ini mudah bagi yang mendapat kendala untuk normal seperti saya. Kalau untuk normal memang agak berputar- putar prosedurnya. Tapi, terakhir kali saya ke puskesmas, sempat membaca ada caranya meminta rujukan hanya dengan mengirim SMS. Nama programnya sijari, kalau tidak salah ingat.

Cukup sampai sini dulu, semoga bermanfaat. šŸ™‚

8 thoughts on “Persalinan Dengan BPJS

  1. Ada teman yg lahiran normal dgn BPJS, di Bidan. Dia jg udah pernah share pengalamannya. Alhamdulillah dimudahkan kok. Coba googling ke blognya mamah-etty jika ada yg butuh referensi

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s