Games : Mengenal Anggota Tubuh

Sebelumnya, setiap mandi A hanya main air saja. Entah tuang menuang, pukul- pukul air, keluar masuk bak mandi, dan lainnya. Belakangan, karena tambah besar dan saya makin kualahan, kepikiran untuk ngenalin anggota tubuhnya selama mandi. Ternyata itu efektif bikin A duduk tenang mendengarkan.

Sambil usap- usap punggung bilang, “ini punggung, ya Dek. Kalau ini pundak. Yang Mama sampoin ini rambut, dan seterusnya.” A juga paling seneng kalau sambil nyanyi, “ibu jari berkata telunjuk yang kesatu… (lanjut sampai selesai)” sambil sabunin jari- jari tangannya.

Nah, waktu bagian alat kelamin saya lompatin karena masih belum kepikiran mau dinamakan apa. Apa burung? Atau titit? Atau penis? Kemudian saya baca- baca ig story-nya @mamamolilo (yang sebagian besar gaya parentingnya saya ikuti :D) tentang edukasi sex sejak dini. Lalu menyimpulkan memang baiknya harus dikenalkan apa adanya sesuai namanya, sebagaimana kita menyebut mata adalah mata atau jempol adalah jempol. Hehe.

Bagi saya ini satu lompatan besar karena nyebut namanya saja sudah saru, malu, tabu, apalagi ngenalin itu ke anak. Nah.. PR kan ya. Tapi memang harus dilakukan.

Budaya tabu untuk membahas organ reproduksi harus selesai hanya pada saya, jangan berlanjut ke A.

Kenapa?

Cerita sedikit tentang pengalaman saya. September 2013 saya ke Bali, berkunjung ke pasar tradisional. Sambil menunggu yang lain belanja, saya dan beberapa teman duduk di gazebo depan ATM. Di dalam ruang ATM ada dua anak laki- laki kecil, ada yang pakai celana SD, satunya mungkin TK. Si anak yang lebih kecil mengulum penis temannya yang tiduran.

Saat melihatnya badan terasa kaku. Saya lantas buang muka. Tak tahu harus bagaimana, bahkan tidak bertanya apa teman sebelah saya juga ikut melihat. Dan sama sekali tidak ingin membahasnya. Saya menyimpan adegan itu hanya di kepala hingga tulisan ini dibuat.

Lalu kini saya membayangkan bagaimana jika mereka adalah anak saya. Perih sekali hati ini rasanya.

Pornografi memang sudah mengintai anak kita dari setiap sisi, apalagi kecanggihan teknologi masa kini. Mungkin A tidak diberikan akses terhadap hape, laptop, atau bahkan TV sampai usianya cukup, tapi bagaimana dengan teman- temannya? Apa semuanya steril? Bagaimana kalau temannya sudah terpapar pornografi? 😦 Dan apa jadinya kalau sebagai orang tua, saya justru menganggap organ reproduksi adalah sesuatu yang saru, tabu, dan bikin malu?

Yes!

Anak pasti menutupi hal tersebut dan sungkan untuk berdiskusi dengan orang tuanya. Padahal rasa penasarannya besar dan ingin terpuaskan. Kemudian, kemana anak akan lari? Ya ke teman- temannya yang sudah mengenal pornografi itu.

Untuk itu saya merasa HARUS mengenalkan ke A yang sebenar- benarnya tentang tubuhnya sendiri. Karena kalau nggak kenal, nggak akan sayang, dan kalau nggak sayang pasti nggak tahu bagaimana cara menjaganya dengan benar.

Tul nggak? 😀

Tentu masing- masing orang tua punya pandangan sendiri tentang pendidikan seks usia dini. Kalau kata mbak @watiekiedo : keterbukaan namun masih sesuai batasan adalah kunci utama dalam menyampaikan informasi.

Nah, sebelum terlambat.. yuk ah kita sama- sama mulai mengenalkan anggota tubuh anak dengan benar.

ig.jpg

postingan di IG @watiekiedo

6 thoughts on “Games : Mengenal Anggota Tubuh

  1. Saya jg mulai mengenalkan alat kelamin Ihsan dengan istilah2 itu. Karena kalau mau bilang burung, dia akan rancu sama burung aslinya. Dan semenjak umur 2 tahun kami mengusahakan tidak ganti baju di depan anak. Sex education sejak dini sangat penting dilakukan.

Leave a Reply to fitrahmp Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s