Cerita MPASI si A

Sepanjang masa A MPASI, A relatif tanpa keluhan alergi atau pilih- pilih makanan. Kalau dirunut dari awal, memang sejak hamil dan menyusui saya makan tanpa pantangan. Lagi- lagi saya bersyukur berada di tengah- tengah keluarga dan suami yang berpikiran terbuka. Jadi kalau ada nasehat ini itu dari kanan kiri, langsung  wa Dokter dan Bidan, tanya dulu. 😀 Atau cepetnya,  konsul sama mbah gugel.

Masa MPASI A tiba pada usia 5 bulan 11 hari. Tadinya was- was karena belum 6 bulan tapi Bidan bilang “Gak apa- apa Bund, A sudah butuh, kuatirnya malah telat.” Dan saya yang kurang pengalaman sekaligus tidak memiliki ketrampilan memasak, pasrah menu pertamanya diracik Yangti-nya. Menu pertama A sangat tidak instagrammable, tidak layak dipamerin, dan beresiko dihujani komentar netijen. Apakah itu? Bubur diublek sama kuning telur. Saya aja nggak bisa makan saking amisnya, gitu kok dikasih ke anak. 😦 Maaf ya A.

Dari rasa bersalah itu, hari berikutnya saya buatkan bubur yang memenuhi 4 bintang ditambah lemak tembahan. Seminggu kemudian, saya beralih ke bubur homemade pinggir jalan. Hehe. Why? Lebih praktis dan hemat. Rasanyapun enak dan menunya ganti terus tiap hari. Lagipula penjualnya banyak, jadi seminggu beli di merk ini, minggu depan disana, dan seterusnya. 😀 Itupun nggak lama. A delapan bulan, kalau siang dan malam sudah makan menu rumah yang disaring. Paginya? Ya teteuupp ke langganan tapi sudah naik tekstur ke nasi tim. Hihihi.

Meski ada sedikit sesal, di satu sisi saya bersyukur A tidak jadi diberikan 14 hari menu tunggal sesuai anjuran salah satu mamagram. Kenapa? Ternyata ini berbahaya. Penundaan protein hewani bisa bikin anak kurang zat besi. Nah, kekurangan zat besi bikin lidah tidak sensitif terhadap rasa dan cenderung malas makan. CMIIW (Lebih lengkapnya, sila baca HL IGS Dokter @metahanindita aja. Disana lengkap.) Untuk resiko alergi, bisa dilihat sejak kehamilan dan selama menyusui. Oleh karenanya, selama ibu dan janin sehat, penting untuk makan segala, tentunya yang halalan thayyiban ya. 😀

Nah, A sembilan bulan sudah seneng makan nasi diulet. Tepat setahun, full nasi biasa. Biarpun tiap kali awal- awal naik tekstur, durasi makannya jadi tambah lama, tak jadi soal. Saya dampingi terus, sambil sesekali kasih contoh mengunyah dan nyanyi, “nyam nyam nyam nyam, gleg gleg gleg gleg”. Ohya, pemberian makanan bertekstur bubur sampai lebih dari usia setahun beresiko anak malas ngunyah dan hobi ngemut makanan.

Untuk alat dan bahan MPASI, seadanya saja di pasar terdekat. Saya nggak beli slow cooker, food blender, dst. Pun nggak beli EVOO, EVCO, chia seeds, kabocha, UB, dan entah bahan apaaa lagi itu yang lihat wujud aslinya, saya belum pernah, apalagi makan. Tapi sangat nge-hits! Memang kalau nurutin apa- apa yang di media sosial tanpa cari tahu dulu betulnya gimana tuh bikin ribet sendiri. Khususnya buat saya yang berada di wilayah pinggiran begini.

Pernah sulit makan? Pernah! Kadang sedih, emosi, dan ngamuk sendiri, kalau A mulai lepeh makanannya atau mingkem mulu. Makin nambah umur A, makin santailah saya. Karena… Ini macam siklus dalam sebulan setidaknya ada 7 – 14 hari susah makan, nggak selalu berurutan tapi pasti ada. Beberapa hari lahap dan doyan banget makan, seolah- olah apapun yang dikasih masuk semua ke perutnya. Ntar hari berikutnya menurun, sampai makannya cimit cimit aja, lalu membaik. Dan berulang lagi.

Barangkali yang tetap bikin saya waras saat pertama kali menghadapi A susah makan adalah banyaknya orang di rumah. Jadi, semisal pagi A saya suapin dilepeh mulu. Dua jam kemudian Yangtinya. Siangnya Tantenya. Sore Maknya. Gitu. Hehe. Mungkin saya nggak bisa sesantai itu kalau nyuapin sendiri lima kali dalam sehari. Dilepeh mulu.. siapa yang nggak emosi. Makanya, saya maklum banget kalau ada ibu- ibu yang stress berat gegara anak GTM.

Selain itu, saya juga percaya kalau bayi ya sama kayak orang pada umumnya. Ada kalanya emang nggak mood makan. Sayapun sering begitu (sebelum hamil dan menyusui), hari tahu- tahu sudah malam padahal belum sarapan. Ntar besoknya lahap makan lagi. Yahh… Lagipula ciri makhluk hidup kan : makan. Jadi kalau tidak ada yang salah pada tubuhnya, pasti dia butuh makan. Sebagai yang lebih tua, kitanya yang rajin- rajin nawarin makan, variasiin menu, bikin acara makan menarik, kasih kegiatan yang banyak supaya lapar, dan seterusnya.

Nah… sekian cerita panjang lebar tingginya ya… 🙂

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s