Weaning Story

Pertama kali membaca nama Sigmund Freud, langsung terlintas Maya, seri Bilangan Fu milik Ayu Utami. Tapi, bukan tentang itu, cerita saya kali ini. 🙂 Ini tentang teori psikoseksualnya. Menurutnya, perkembangan kepribadian seseorang ditentukan oleh 5 tahun pertama kehidupannya. Jika perkembangan  psikoseksual-nya lancar, seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat. Sebaliknya, bila ada kendala akan menghasilkan fiksasi.

Fiksasi adalah perilaku menetap yang dibawa dari kecil hingga perjalanannya menuju dewasa. Sampai konflik tersebut diselesaikan, individu akan tetap “terjebak” dalam tahap ini. Contohnya adalah seseorang yang tidak menyelesaikan tahap oralnya dengan baik maka ketika ia dewasa ia akan terpaku pada tahap oral.

Tahap oral dimulai saat bayi lahir hingga 24 bulan. Pada fase ini, mulut menjadi sumber kenikmatan utama yang salah satunya adalah menyusu. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada ibu, jadi saat itulah bayi mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral. Konflik kemudian terjadi pada saat penyapihan. Penyapihan yang terlalu cepat ataupun terlambat, bahkan proses yang salahpun dapat mengakibatkan fiksasi. Fiksasinya seperti apa? Seorang dewasa yang mencari kepuasan pada mulutnya, seperti : merokok, menggigit kuku, dan sebagainya.

Atas dasar hal- hal tersebut, saya merasa menyapih A harus dilakukan dengan sebaik mungkin baik proses maupun timing-nya. Dari situ, saya kenal gentle weaning. Kemudian, sering baca  tulisan pengalaman ibu- ibu lain tentang weaning with love atau self weaning. Meski begitu, saya masih clueless banget. Kepikiran, nanti gimana kalau mau tidur? Gimana kalau bangun tengah malam? Dan gimana- gimana yang lain. Teman bilang, “ya digendong!” Sejujurnya saya tak sanggup menggendong lama karena A tumbuh makin besar, sementara saya segini- segini aja :/ Belum kalau ditambah dengan tangisan. Duuh.

Menghadapi anak adalah tentang bagaimana kita menghadapai diri sendiri. Seorang teman bercerita proses sapih yang terus- menerus gagal berawal dari perasaan kehilangannya sendiri. “Anak tinggal ngikutin, Tus. Kalau ibu dan ayah siap, ke anak juga nyetrum.”

Entah harus berasa beruntung atau tidak, rasa mellow dan sedih karena kehilangan momen menyusui tidak pernah saya rasakan. Sapih justru menjadi momen yang saya tunggu saat A menginjak 20 bulan, bagi saya, 24 bulan saja : cukup. Saya sudah rindu memakai kaos yang nyaman di rumah atau saat bepergian, bosan memakai babydoll dan kemeja berkancing. 😀 Lagipula, kegiatan menyusui kalah asyik dengan kegiatan main bersama kami.

Usia 21 bulan, saya mulai sering kasih A pengertian, “Adek nanti kalau sudah 2 tahun ndak boleh mimik, ya? Minum air pake gelas.” Herannya, frekuensi menyusunya malah meningkat. Provokasi dari sekitar, agar tidak menyusu, justru bikin A makin posesif. Mungkin terlalu mendadak, saya kira. Jadi sounding tentang sapih mulai saya kurangi, yang biasanya kapan saja dimana saja, jadi lebih ke waktu- waktu efektif. Misalnya : diselipkan di dongeng sebelum tidur.

Sebulan menjelang ulang tahun ke-2, tiba- tiba A bisa tidur sepanjang malam. Iya! Malam sudah tidak bangun untuk menyusu. Kalaupun kebelet pipis, bangun untuk ke kamar mandi dan saat diatas kasur ditepuk- tepuk aja sudah tidur lagi. Dua minggu berikutnya, menyusu dua kali : menjelang tidur siang dan malam saja. Itu hanya modal sounding, loh. Saya tidak menolak kalau A minta menyusu tapi juga tidak menawarkan.

Seminggu menuju hari H, A sudah beberapa kali tidak menyusu seharian. Saya mulai alihkan perhatiannya, saat minta nenen. Yaa.. dikasih UHT, camilan, diajak makan, main, lari- lari. Untuk tidurnya, karena belum bisa self soothing, ia diajak keliling- keliling dulu naik motor. Kalau sudah lemes, sewaktu diangkat ke kasur tinggal puk- puk. Nggak jarang, malah sudah ketiduran di atas motor.

Kendala saat proses sapih adalah karena saya gak bisa lihat anak nangis. Kalau sudah nangis minta menyusu, meskipun sudah berhasil sapih 2 – 3 hari, saya turuti. Meski ada perasaan was- was kuatir sapih gak kelar- kelar karena saya tidak konsisten,saya percaya, A menyiapkan dirinya sendiri untuk ini. Proses ini bukan milik saya saja tapi kami berdua. Untuk itu, kami harus kompak. Seminggu setelah ulang tahunnya, kami berhasil.

Untuk buibu yang akan memulai sapih, koentji nya :

  1. Kurangi frekuensi.
  2. Kurangi durasi.
  3. Perbanyak sounding.

Kesiapan anak berbeda- beda. Pun, masing- masing ibu juga kesiapannya berbeda. Bersabar dan menurunkan ekspektasi sangat membantu untuk tetap waras selama prosesnya. Seringkali, sapih ini lebih berat bagi ibu daripada anak. Kenapa? Karena menyusui adalah jalan pintas semua masalah. Anak rewel, susuin jadi tenang. Anak ngantuk, susuin jadi tidur. 😀

Semangat, pejuang sapih!

*Lebih lengkap tentang psikoseksual : bisa klik disini.

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s