rak buku, workshop, dan surat kerjasama

Sepertinya lama sekali saya nggak nulis, hehe. Kepala penuh dan bingung mengurai cerita satu persatu.

3 minggu lalu murid UAS gantian. Jadwal ngajar saya penuh, pagi juga. Si mas bilang, “nggak usah nemen- nemen kerjanya, Dek.” Padahal saya mikirnya nggak sedang kerja. Saya senang ketemu anak- anak dan belajar bareng mereka.

Lalu, mulailah andalan si mas, “seneng mana sama ketemu aku?” Duh! 😆

Kemarin hari terakhir ngajar semester ini dan jadi sedih sendiri karena akan nganggur sampai 2 Januari. Lama sekali. Padahal minggu- minggu sebelumnya rindu liburan, eh pas libur beneran bingung juga mau diisi apa, selain nungguin suami pulang. :/ Ahh..

Yasudahlah, kerjakan nanti apa yang ada. Bersih- bersih kelas dan rak buku misalnya.

Yah.. Akhirnya, untuk pertama kali, setelah Continue reading

Advertisements

mood booster

Sabtu yang mendung. Sepagian saya mandeg di depan laptop, berusaha bisa nulis artikel buat majalah yang tenggatnya tanggal 5 besok. Mas pimred sudah ngirim pesan di WA tanggal 1 lalu, “mbak, empat hari lagi ya.” Duh!

Sementara, kertas berisi kisi- kisi UAS SMP dan SD numpuk di meja minta segera dijamah untuk berubah menjadi soal latihan pertemuan seminggu kedepan. Tapi kepala masih kosong. Ditambah lagi kenyataan kalau si mas kesininya besok pagi.

Tetiba, semesta seperti mengerti kalau mood saya sedang dalam titik 0 – minus malah, ia membuat hape berbunyi. Kekasih! My own mood booster!

“Halo.. bisa bicara dengan Bu Tutus? Saya komandan intelejen NKRTI, Negeri Kesatuan Rumah Tangga Indonesia, meminta Ibu untuk menjalani pemeriksaan di Surabaya. Segera. Kalau menolak, akan diciduk paksa dan tidak dipulangkan.” 😀

“Salah sambung, Pak!”

Lalu rentetan cerita menemukan muaranya. Dan.. Continue reading

Persekutuan Misterius Benedict

H +18 ; Series – Bookstagram KBI 2016

Mungkin maksud tema kali ini adalah buku berseri. Kalau salah, ya maafkan. 😀

Novel fiksi dengan jumlah buku lebih dari 2 di rak saya cukup banyak jadi agak bingung mau pilih yang mana. Hehe. Buku jenis ini selalu saya buru. Kenapa? Karena jaminan bagusnya. Kalau nggak bagus, nggak mungkin terbit seri- seri selanjutnya. Ya kan? 😀

Dan lagi… saya kalau terlanjur suka dengan cara bertutur penulis satu, agak susah move on ke penulis berikutnya. Karena itulah, buku berseri begini selalu jadi santapan yang lezat. 🙂 Sebut saja The Maze Runner, Klan Otori, Hunger Game, dan entah apalagi. Nah, yang sekarang (setelah lama ditimang- timang) terpilih untuk diceritakan adalah The Mysterious Benedict Society – Persekutuan Misterius Benedict.

p_20161117_114854

Continue reading

Milea – Suara Hati Dilan

H +17 ; Currently Reading – Bookstagram KBI 2016

Sewaktu menghabiskan liburan di rumah suami, kerjaan saya hanya membaca sembari menunggu si mas pulang. Stok buku terbatas dan nggak bisa kemana- mana, menjadikan download ebook sebagai jalan keluar. Hehe.

Awal mulanya, saya ketemu trilogi Jingga dan Elegi milik Esti Kinasih. Penulis ini pernah sangat memesona saya karena “Cewekk!!!” dan “Still…” jauh sebelum kenal Ayu Utami. Kemudian lanjut ke trilogi Fifty Shades of Grey (saya sudah nikah, sah- sah saja baca buku erotis begitu 😆 ). Nah, saat blogwalking ke kebomandi, nemu ulasan tentang Dilan. Kebetulan, novel itu juga ada versi ebook-nya. Saya unduh langsung!

Sayangnya, versi ebook hanya 75% dari keseluruhan novel. Rasa penasaranpun mengendap sampai Sabtu (4/11) tempo hari, saya ketemu ketiga seri Dilan di salah satu sudut bazaar buku. Namun, karena beberapa hal, bungkusnya baru saya sobek kemarin. Lalu dengan lahap menuntaskan dua sekaligus! Continue reading

narsis

Dunia ini nggak sempit, hanya saja kamu terlalu banyak punya teman – atau mungkin terlalu terkenal?

Jadi, ceritanya.. Waktu pertama kali datang meeting KEO, ketemu teman- teman seangkatan (yang dulunya bahkan tak saling sapa).

Si F : Oohh.. ini Mbak Tutus, inget- inget. Dulu pas SD, si aaa sering cerita ke aku tentang samean, Mbak.
Tutus : Iya, hehe.. (nggak ngerti mesti jawab apa.)
Si A : Tutus mbiyen juga booming banget di kelasku, inget nggak yang ngejar- ngejar kamu, Tus?
T : Iya inget, hehe.. si bbb? (duh..)

Dua hari berikutnya, pas ketemuan apaa gitu. (Saya lupa.) Continue reading