Belanja Sama Anak Tanpa Drama

Saya punya sepupu dengan selisih usia cukup jauh dan pernah tinggal bersama. Bagaimana mereka diperlakukan oleh orangtuanya, bikin saya belajar, jauuuuhhh sebelum A ada. Jadi, sepupu saya ini sering diajak belanja ke minimarket dan boleh ambil yang dimau. Lama- lama makin banyak dan makin banyak. Bisa ditebak dong kelanjutannya? Mereka seneng jajan dan sulit untuk dikontrol kalau sudah ada maunya.

Nah! Ternyata, sekarang, fenomena anak tantrum di depan kasir, nangis saat diajak pulang, sudah ndak berbilang. Sering banget saya jumpai di minimarket. Oleh karena itu, saya kulik gimana caranya supaya A ndak begitu. πŸ˜€ Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan?

Caranya?

Pertama : briefing. Sebelum berangkat, kasih tahu A. “Nanti, mama mau beli sabun mandi dan shampoo.” Saat di Alfam*rt langsung cari dan ambil itu, ndak pake keliling- keliling lihat ini itu. Terus langsung kasir dan bayar. Itu sudah diterapin sejak A setahun.

Pernah, suatu kali ngajak A, yang masih 18 bulan, sepedahan ke Alfam*rt. “Disana beli susu sama roti ya, nak?” Sesampainya, ya hanya beli sesuai arahan. Bahkan saat mau ambil air, untuk minum saya sendiri, dikembalikan lagi sama dia. See?

Kedua : konsisten. Apa yang dikatakan ya sesuai dengan apa yang dilakukan. Kadang, tiba- tiba pengen minum mumpung promo atau keinget kalau pasta gigi habis, ya teteupp mesti tunda dulu. Mungkin nanti balik lagi.

Ketiga : sepakat untuk tidak sepakat. Ketika A sama kakek neneknya (kanek) pasti keadaan menjadi tidak seideal kalau bersama saya. Beberapa kali saya dongkol kalau A dibelikan jajan atau susu berlebih. Tapi itu menguras energi. Jadi, yasudah.. Biar. Dan efeknya? Bersama kanek justru A sulit dikelola.

Semisal, suatu hari Ibu cerita : A tiba- tiba mengambil mainan dari minimarket lalu ngibrit keluar. Diminta sudah ndak bisa dan daripada nambah masalah, ya dibelikan. Cerita dari Bapak saya : A ngambil susu ini (bundle isi 6) sama es krim, gak kenek dipengeng. Saya bilang : ya salah sendiri. πŸ˜€

Keempat : fleksibel dengan batasan. Beberapa waktu lalu, A lihat ada kacang di display dekat pintu. Tadinya, kami sepakat untuk beli susu tapi A ngambil kacang sebelum ke kasir. Saya bilang, “Adek mau kacang? Apa susu? Pilih satu.” Dia pilih kacang. Saya minta dia untuk kembalikan susu ke tempatnya. Saya sembunyi- sembunyi ikutin tanpa sepengetahuan. Dan yes sesuai intruksi. Senangnya. πŸ˜€

Melihat betapa mudahnya A dikelola kalau sama saya. Kaneknya juga jadi ikutan. Kemarin, ibu dan bapak cerita hal yang sama dalam kesempatan berbeda : A tak ajak ke Sur*a minta susu. Sudah diambil. Terus lihat es krim. Minta es krim. Eh.. langsung lari, susunya dibalikin.

Nah! Kayaknya sih itu semua cara saya mencegah anak drama saat belanja. πŸ˜€ Kalau buibu, bagaimana tipsnya? Sama kah?

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s