Angin

Satu kata pertama yang terlintas tentangnya adalah romantis. Kau terkejut karena kata cinta ternyata bisa diumbar sesering yang kamu bisa. Setiap pesan, yang ia kirimkan, tak pernah lepas dari sekedar ‘i love u’ atau kalimat lebih kompleks lain yang sama maknanya. Kau juga terkejut karena jarak bisa ditekuk sedemikian rupa, video call dan sejenisnya telah menjadi menu rutin kala malam.

Tak jarang, di sela- sela kesibukan yang ia punya, sebuah foto mendarat di layarmu. Gambar yang mengabarkan ia sedang apa dan dimana. Ketika rindu tak terbendung, kalian saling menatap di video call. Iya.. tanpa kata. Kau kini tahu, romantis yang dulu kau sebut alay dan kekanakan ternyata sesuatu yang membahagiakan. :D

Saat kalian bertemu, Continue reading

skyscraper

*judul ditulis tepat saat Boyce Avenue menyanyikan ini untuk saya*

Hai haiii… Lebih dari sebulan gak update! Banyak banget nget nget cerita dalam hidup yang gak sempat saya abadikan. :) Tak apa, hanya sederet luka- luka kecil.

Ah.. Sudah!

Hari ini saya mau cerita kalau tadi siang terima gaji! (meski ini terhitung gaji kedua) Hahaha.. Beda ya rasanya gaji dari tempat saya ngajar dan gaji dari murid saya langsung.

Saya tidak sedang ingin menghitung- hitung antara gaji dan perjuangan PP Kediri- Kertosono setiap hari. Tidak! Sudah dari wawancara dulu saya pernah diingatkan tentang gaji yang tidak seberapa. Waktu itu saya menjawab, “materi dari LBB di rumah sudah bisa dibilang cukup, Pak. Saya butuh status.” Ya, itulah kenyataannya. Orang hanya melihat dari luar saja, akan tampak lebih keren lulusan kuliahan menyandang gelar Dosen daripada Pengusaha. Ya kan? Ya kan?

Hidup di tengah- tengah masyarakat itu gampang- gampang susah. Saya beruntung karena keluarga sepenuhnya Continue reading

harapanku menyublim

“Jahat! Jahat! Kamu jahat!” Ia memukuliku dengan kedua tangan saat pintu kubuka. “Kenapa handphone-mu mati? Kenapa semua private message-ku gak kamu balas, Hen?”

Aku teringat bagaimana kisahku dimulai. Aku mencintainya sejak kami berseragam putih biru. Ia, gadis berkuncir dari kelas tetangga yang mencuri hatiku pada pandangan pertama. Senyumnya bisa menyihirku. Renyah suaranya selalu kurindukan. Aku selalu berusaha mendekatinya. Sayangnya, cintaku bertepuk sebelah tangan.

SMA, takdir menjodohkanku dengannya. Kami sekelas hingga lulus. Bahkan juga se-ekstra, lebih tepatnya karena aku yang menyamai aktifitasnya. Sering aku berkunjung ke rumahnya, ia pun juga sama. Andai ia mencintaiku waktu itu, kami pasti sudah menikah kini. Tapi Tuhan tidak rela, kami diterima di universitas yang berbeda. Sejak itu, kami tak lagi berhubungan.

“Hen, aku ini apa sih?” Arus waktu melemparkanku kembali
Continue reading

Dek, merokok itu membunuhmu, cius!

If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventuall come to believe it. –Joseph Goebbels Nazi

Begitulah cara propaganda. Kebohongan yang terus diulang akan dipercayai sebagai bentuk kebenaran yang baru. Iklan rokok, salah satunya. Ia mengkampanyekan gaya hidup keren, maco, gaul, percaya diri, dan setia kawan. Hal inilah yang menyesatkan fase pencarian jati diri yang umumnya dialami remaja. Gencarnya industri rokok juga menyasar acara- acara berkumpulnya remaja, misalnya event musik dan olahraga.

Akhir 2012, penelitian dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak terkait dampak iklan rokok terhadap minat anak untuk merokok. Hasilnya, 93 persen dari 10 ribu anak usia SMP di 10 kota tertarik merokok dari media televisi. Sebanyak 34 persennya, tertarik merokok pada saat acara musik.

Tahun 2013, sebuah data menunjukkan mayoritas siswa laki- laki di Sekolah Menengah Pertama Jakarta kedapatan membawa rokok saat sekolah. Itu sembunyi- sembunyi, kini lebih banyak lagi yang tak malu, terang- terangan, bahkan di depan orang tuanya sendiri. Di sekitar tempat tinggal saya, kecamatan kecil, remaja putra banyak merokok di warung- warung kopi pingir jalan pada Continue reading

wisudanya calon negarawan

Di post ini saya sudah cerita kalau Dek Afam barusan wisuda, nah sekarang mau cerita lengkap prosesi wisudanya. Kalau dibandingkan dengan wisuda saya, wisuda adek jauh-jauh-jauh lebih sakral. Suasana yang dibangun keren banget. Mungkin karena yang diwisuda hanya 160 an mahasiswa, sementara saya dulu 2000an. Hoho.

Bertempat di ballroom Hotel Atria Malang, acara dimulai pukul 7.00 dan sepanjang yang saya ingat, tidak ada yang ngaret dari jadwal. Ibu, bapak, mak (panggilan untuk nenek), Dek Fifi, dan saya mendapat tempat yang kurang begitu bagus, di pojok kanan yang tidak terlalu belakang, pun tidak terlalu depan. :D Sembari menunggu masuknya wisudawan, kami disuguhi suara apik dari paduan suara Universitas Brawijaya (yang saya lupa apa namanya). Cover lagu roar-nya Kety Perry bikin saya jatuh cinta! Bagus!

Acara dibuka dengan pantun- pantun oleh MC. Ada satu yang masih keinget (itupun dengan gubahan) :

Anak ayam ada sembilan
Mati satu tinggal delapan
Terlihat senyum tampan dan menawan
Selamat wisuda calon negarawan Continue reading

sudah lulus, lalu?

Selasa (5/11) lalu, Dek Afam diwisuda oleh sekolah tempatnya menimba ilmu setahun ini. Ia salah satu lulusan dengan predikat sangat memuaskan dari D1 Kapabean dan Cukai STAN. Arus waktu menyeret saya kembali ke Oktober tahun lalu. Ya.. hari wisuda saya. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saya, adek tinggal menungu tanggal TKD (Tes Kemampuan Dasar) untuk kemudian penempatan dan resmilah statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Sedang saya? Terus menerus bertanya, setelah ini mau kemana?

Sepanjang perjalanan Surabaya – Kertosono, mata saya tak dapat terpejam. Apa arti wisuda saya? Apa arti selembar kertas dengan gelar di belakang nama saya? Bagaimana saya akan melanjutkan hidup? Kelulusan ini, apa ada maknanya?

Sanak saudara jauh saya hubungi, sejak lama beliau- beliau menawari kerja ke luar Jawa. Namun, impian itu tampak terlalu muluk. Ketakutan demi ketakutan menghantui sepanjang malam. Bagaimana jika iming- iming kerjaan itu bualan? Bagaimana jika nasib saya di perantauan berakhir dengan Continue reading