jadi yang spesial itu siapa?

Fascinate : to cause (someone) to be very interested in something or someone

Vngnc pernah bilang, “kalau semua orang spesial, jadi yang spesial itu siapa?” Ini menohok sekali! Setiap manusia pasti bersosialisasi. Sedikit demi sedikit bagian dari dirinya barangkali menjadi pengaruh untuk orang lain dan sebaliknya. Untuk itu, ‘menjadi diri sendiri’ adalah ungkapan paling klise yang pernah ada.😀

Kepribadian yang kita miliki terbentuk dari latar belakang keluarga, sekolah, lingkungan, dan bahkan tontonan sehari- hari. Jangan heran kalau ada ungkapan : Siapa diri kita 5 tahun lagi terlihat dari teman- teman terdekat kita dan buku yang kita baca hari ini.

Kalau kita buang semua bagian diri kita yang merupakan hasil dikte orang lain, apa yang tersisa? Masih adakah yang tersisa?

Ngomong apa sih ini saya? Intinya saya mau bilang kalau yang membuat Continue reading

Tok tok tok.. Yyuuu! Bayu!

laughter

Kalau LDP (salah satu channel favorit) bilang : sepasang kekasih mempunyai humornya sendiri. Benar! Ini yang mau saya ceritakan. Sesuailah dengan tema kali ini, 5 kata/ kalimat yang bisa membuat saya tertawa kalau diucapkan kekasih.

“Melluuuu!” Artinya : ikut. Kenapa ini lucu? Jadi, waktu itu saya sakit dan minta dihibur, kekasih cerita begini. “Suatu keluarga, Bapak, Ibu, dan Anak, tinggal di kos-an sempit. Nah, pas malam- malam, anaknya disuruh tidur. Berapa menit kemudian anaknya dipanggil- panggil. Lah, karena si anak takut dimarahin kalau belum tidur, dia diam saja.

Nggak berapa lama, Bapak sama Ibunya matiin lampu, terus bercinta. Nah, si bapak bilang, Continue reading

something that I miss

Saya merindukan masa- masa kuliah. Hehe..

Saya rindu bangun tidur dan terburu- buru mandi kilat, ambil baju seadanya, jaket, tas kumal, cus berangkat. Lalu, saat melintasi sekre hima, semua santai, dan saya menyadari kalau salah jadwal.

Saya rindu saat ngantin (ngobrol sambil makan di kantin) untuk menunggu jam kelas berikutnya. Obrolan sekenanya tentang dosen, nilai, mata kuliah, gosip, kegiatan hima, dan entah apa.

Saya rindu sewaktu mendengar penjelasan dosen, juga suasana saat mereka memberikan soal. Saya pun rindu suasana kelas yang riuh dengan keluhan ruang panaslah, laper, capek naik lantai 3, hingga dosennya overtime, dan membosankan.

Saya rindu sampai di kos, kemudian bingung mesti ngerjakan Continue reading

superheroes

Bagaimana saya telah berubah 2 tahun ini? Saya merasa sudah jauh berubah tapi parameter perubahannya apa itu yang masih bingung. Hehe. Dan, akhirnya sebelum nulis ini saya lihat- lihat tulisan di blog ini dulu.😀

Apa yang saya dapat? Sedih! Saya buka tulisan sejak Januari 2014, banyak tulisan yang isinya sekedar menghibur perasaan sendiri. Cerita tentang murid yang hanya beberapa. Pengalaman mengajar di sekolah dengan gaji sangaat kecil. Perpisahan, yang sebagian besar tulisannya sengaja saya hilangkan.

Membacanya satu persatu membuat air mata kembali mengalir. Mengingat kenangan sedih, sama dengan kembali merasakan sedihnya. Berlaku sama juga ketika kita mengenang kebahagiaan. Yahh… membaca semua tulisan di 2015, sukses membuat senyum- senyum sendiri.

Benar ternyata :

Continue reading

ada saran tempat seru di Malang?

Semalam, saya nggak ada semangat sama sekali untuk nulis. Hehehe. Karena malam sebelumnya suara sudah habis bis bis, mau telponan sama suami jadi nggak bisa, makanya kemarin dipuas-puasin.😀 Itu juga si mas marah- marah, “adek makan apa aja to? sudah berapa hari ini nggak balik- balik suaranya? jangan cari uang aja, istirahat!”

Bagi suami, saya termasuk orang yang terlalu pekerja keras. “Mbok kalau waktunya istirahat ya dipake. Jangan mumpung bisa dijadiin uang, terus terima murid lemburan sana sini.” Yang si mas nggak tahu, saya begitu bukan untuk uang tapi menyibukkan diri supaya nggak kepikiran dia terus. “Lah emang mas ngapain, dipikir terus?” Begitu jawabnya.

Minggu ini, si mas ikut rapat kurikulum atau semacamnya di Continue reading

seperempat abad

Sewaktu kecil, saya memang sering sakit. Kelas 4 SD, tidak terpilih seleksi kelas unggulan hanya karena alasan itu. Bagaimana jika waktu itu saya terima saja hal tersebut? Bukannya malah pulang, menangis, dan minta ibu agar membujuk guru supaya memberikan ijin saya mendapat kesempatan seleksi ~ yang pada akhirnya saya lolos.

Bagaimana jika saya lebih memilih SMA di Kertosono, bukannya ke Kediri? Toh, banyak juga sejawat yang lebih sukses saat sekolah di SMA kecamatan ini.

Bagaimana jika saya tidak pernah memilih jurusan Fisika di formulir masuk PTN? Mungkin akan tetap gigih berjuang menjadi dokter. Mungkin juga saya malah menyerah dan beralih ke jurusan yang entah.

Bagaimana jika dalam kesepian dan terabaikan itu, saya tidak Continue reading