7 Februari 2016

Hari ini sebenarnya saya pengen buat cerita yang manis atau puisi romantis. Tapi urung, mood saya terjun bebas.

Cerita ini dimulai dari minggu lalu, kekasih bilang : liburan imlek ke Surabaya ya, belanja seserahan. Saya lihat kalender, imlek tanggal 8 Februari, langsung deh berkhayal si mas pasti milih tanggal itu gara- gara tanggal 7 nya pengen sama saya. Hoho.

Karena satu dan lain hal, rencana itu batal. Si mas kecewa, saya juga.

Semalam saya sindir- sindir kekasih, besoknya tanggal berapa. Tapi dia nggak nanggepin apa- apa. Masih berprasangka baik. Sorenya, saya resmi ngambek.

(BBM an)
Saya : ini tanggal berapa bulan apa? Lupa lak an.
Mas : loh,
Continue reading

calon manten datang ke mantenan

Bulan- bulan ini mungkin bulan bagus. Bagus untuk menikah, bagus untuk melahirkan. Hehe.

Semalam saya cerita sama kekasih, kalau sedang ngerasa nggak enak hati setiap kali buka media sosial. Gimana nggak? Isinya nikahan, bulan madu, lahiran, dan anak- anak yang lucu. Saya ngiri.

Kekasih bilang : ya itu temen- temennya adek udah tua semua.

Saya ketawa, iyyaa benar juga.

Hari ini, kekasih sama ibuk ke rumah. Apalagi kalau bukan nentuin tanggal. Duh, kok jadi deg- deg an to. :D

Kemarin sudah Continue reading

Guru Baru Kimia

Saya percaya, semua hal akan indah pada waktunya. :)

Beberapa bulan yang lalu, dua guru kimia resign untuk semester genap. Ini petaka buat saya. Untuk pelajaran lain, saya masih bisa ambil alih. Tapi kimia? Mustahil. Sudah meluangkan waktu untuk belajar, tapi hasilnya nihil.

Sampai habis liburan semester, tak kunjung mendapat guru kimia. Sudah tak berbilang kawan yang saya hubungi, hingga bertemu dengan Bu A. Beliau menjanjikan untuk mencarikan guru kimia, kebetulan Bu A senang sekali melihat saya, muridnya dulu, sukses kini. :)

Semester genap berjalan satu minggu tanpa guru kimia. Guru senior yang saya target masih dirayu oleh Bu A, dan bersedia menjawab Senin pada minggu ke dua. Oke, saya menunggu.

Di Kertosono, ada dua guru bagus yang saya tahu. Selain guru kimia senior adalah Iska, teman SMP merangkap sebagai rekan kerja. Suaranya lantang dan penjelasannya mudah dipahami. Sayangnya, dia sudah dikontrak LBB ternama. Sedangkan, murid saya terlanjur jatuh hati dan susah move on dari dia.

Hari- hari berjalan lambat, Senin datang bersama kabar buruknya. Pinangan saya ditolak. Sedih? Pasti! Di Kertosono mustahil untuk bertemu guru kimia lebih bagus lagi. Sedang murid saya, menuntut terus menerus segera ada guru pengganti. :/

Selasa, saya menghubungi 3 guru lagi, rekomendasi dari Bu A. Semuanya merespon dengan sangat lambat, bahkan pesan saya tidak dijawab.

Rabu, saya sudah habis akal dan Continue reading

Sengkuni

Sedih menggantung di langit- langit rumah lebih dari sebulan ini. Dulu, dibahas sembari lalu. Kini, mewujud dan kian mengganggu.

Pertama- tama.. ini penting untuk diketahui : Bapak dan ibuk saya PKL. Menjajakan buah di tepian jalan. :)

Seingat saya, awal Desember lalu, semua PKL dikumpulkan dan diberi pengarahan bahwa mereka sangat mengganggu. Selain berbahaya untuk pengguna jalan, juga untuk penjualnya sendiri. Setelah basa basi yang berbusa- busa, PKL dilarang.

Seandainya ada relokasinya tentu saja orang tua saya setuju. Tapi, mereka tidak diberi pilihan lain. Alhasil, seperti yang sudah- sudah – ini bukan kali pertama. Penyuluhan itu mungkin untuk Continue reading

Tahun Baruan #5 – end

Butir- butir hujan jatuh tepat setelah kembang api terakhir padam diiring decak kagum dan tepuk tangan. Jalanan mulai ditinggalkan. Kami melangkah menerobos keramaian. Antrian berjalan begitu lambat di jalan sempit, itupun dibagi menjadi dua arah.

Kekasih sempat ingin berteduh, sebelum saya bilang, “yang penting ketemu motor dulu lah, mas.”

Sesampainya parkiran, motor aman, jaket juga aman. Kami berteduh di emperan sebuah bank. Sebenarnya, tidak seberapa deras, hanya saja nekat menerobos jalan pasti membuat kami basah. Apa pasal? Motor bejubel hampir dipastikan kemacetan membuat kami terjebak di bawah hujan.

Pemotor mulai surut. Kami bergegas pulang. Sepanjang jalan, saya merayu kekasih untuk beli maem. Saya tahu, si mas pasti kelaparan. Maem malemnya tadi cuma pasta yang bahkan nggak cukup buat ngganjal perut. Hehe. Dan, meskipun butuh perjuangan, akhirnya berhasil. :D Nasi bebek kesukaan kekasih meluncur bersama kami ke rumah.

Jam 2 tepat. Setelah menemani kekasih maem, saya terlelap.

Paginya, saya terkejut saat melihat jam! Continue reading

Tahun Baruan #4

“Lah itu Mas Waras, Dek. Ada Reza juga.” Kekasih menuntun saya pelan menuju tepian jalan.

“Mana sih, Mas?” Saya belum nemu. Hebat juga kekasih ini telepatinya sama si masnya. Hehe. Yyah.. disitu ada banyak sekali orang, jalanan juga trotoar segitu panjang, dan nggak terang- terang banget. Sampai ini ditulis, saya masih nggak habis pikir bagaimana bisa, kekasih notice ada Mas Waras disitu?

Reza dan ibu bapaknya terkejut bisa bertemu kami. Keberuntungan berturut- turut, karena selain dapat duduk, kami juga disuguhi beragam camilan. Hehehe. Tempatnya stategis, berada di belakang komunitas sepeda tua yang menyetel lagu- lagu koesplus. Sangat mendingan, daripada Continue reading