Belanja Sama Anak Tanpa Drama

Saya punya sepupu dengan selisih usia cukup jauh dan pernah tinggal bersama. Bagaimana mereka diperlakukan oleh orangtuanya, bikin saya belajar, jauuuuhhh sebelum A ada. Jadi, sepupu saya ini sering diajak belanja ke minimarket dan boleh ambil yang dimau. Lama- lama makin banyak dan makin banyak. Bisa ditebak dong kelanjutannya? Mereka seneng jajan dan sulit untuk dikontrol kalau sudah ada maunya.

Nah! Ternyata, sekarang, fenomena anak tantrum di depan kasir, nangis saat diajak pulang, sudah ndak berbilang. Sering banget saya jumpai di minimarket. Oleh karena itu, saya kulik gimana caranya supaya A ndak begitu. πŸ˜€ Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan?

Caranya?

Pertama : briefing. Sebelum berangkat, kasih tahu A. “Nanti, mama mau beli sabun mandi dan shampoo.” Saat di Alfam*rt langsung cari dan ambil itu, ndak pake keliling- keliling lihat ini itu. Terus langsung kasir dan bayar. Itu sudah diterapin sejak A setahun.

Continue reading

Weaning Story

Pertama kali membaca nama Sigmund Freud, langsung terlintas Maya, seri Bilangan Fu milik Ayu Utami. Tapi, bukan tentang itu, cerita saya kali ini. πŸ™‚ Ini tentang teori psikoseksualnya. Menurutnya, perkembangan kepribadian seseorang ditentukan oleh 5 tahun pertama kehidupannya. Jika perkembangan  psikoseksual-nya lancar, seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat. Sebaliknya, bila ada kendala akan menghasilkan fiksasi.

Fiksasi adalah perilaku menetap yang dibawa dari kecil hingga perjalanannya menuju dewasa. Sampai konflik tersebut diselesaikan, individu akan tetap β€œterjebak” dalam tahap ini. Contohnya adalah seseorang yang tidak menyelesaikan tahap oralnya dengan baik maka ketika ia dewasa ia akan terpaku pada tahap oral.

Tahap oral dimulai saat bayi lahir hingga 24 bulan. Pada fase ini, mulut menjadi sumber kenikmatan utama yang salah satunya adalah menyusu. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada ibu, jadi saat itulah bayi mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral. Konflik kemudian terjadi pada saat penyapihan. Penyapihan yang terlalu cepat ataupun terlambat, bahkan proses yang salahpun dapat mengakibatkan fiksasi. Fiksasinya seperti apa? Seorang dewasa yang mencari kepuasan pada mulutnya, seperti : merokok, menggigit kuku, dan sebagainya.

Continue reading

Kok Belum Bisa Ngomong?

Saat A usia 15 bulan saya akhirnya belajar tentang apa, mengapa, dan bagaimana speech delay. Sebelumnya, saya curhat sana sini, di whatsapp grup ini itu, kenapa A belum juga mengoceh? Bahkan panggil mama pun belum. Padahal milestone perkembangan bahasa di usia ini harusnya sudah bisa mengucapkan 4- 5 kata. Jawaban yang saya dapat selalu sama : sering- sering bacain cerita dan ajak ngobrol, yang sejujurnya sudah selalu saya lakukan. Hingga semua orang yang mengenal saya sepakat, bahwa saya jadi banyak ngomong, cerewet malah, sejak ada A.

Berulang kali dibesarkan hatinya oleh keluarga, β€œyang penting kan kalau dipanggil nyahut. Kalau diperintah tanggap. Ditanyain, tahu maksudnya.” Ditambah : anaknya orang bisa ngomong ya mestinya bisa ngomong. Dan lagi riwayat adek saya yang juga terlambat ngomong hingga usia 2 tahun, bikin saya abai dan makin terlena.

Hingga suatu hari saya baca tentang betapa kompleksnya seseorang untuk bisa mengeluarkan suara. Mengajak ngobrol dan bercerita adalah proses input data. Bila tidak ada hambatan pada kognitifnya, anak yang sering diajak ngobrol, kemampuan bahasa reseptif-nya, kata yang dimengerti, bagus. A mengerti instruksi sederhana. Misal : buang bungkusnya di tempat sampah. Itu bisa dia lakuin. Perintah untuk tunjuk anggota tubuh juga lancar. Mengenali orang, juga oke. Nah, bisa saya simpulkan A tidak memiliki ganguan kognitif.

Continue reading

Welcome Back!

Halo halo halooo… Lama ndak nulis. Kangen? Banget! Tapi, entah kenapa kalau udah depan laptop, mau nulis tuh malesnya luar biasa.

Sibuk apa? Angon anak. Kayaknya baru kemarin hamil, lahiran, bisa jalan, eh tau- tau sudah 2 tahun aja. Makin pinter semuanya. Dan makin menguji kesabaran.

Dulu, seneng buka- buka wordpress app di hape buat nulis. Sekarang udah kayak- kayak ndak ada waktu. Sibuk di grup wa ibu- ibu. FYI, saya join beberapa support grup ibu- ibu, dua diantaranya jadi adminnya. Hmm… ternyata begini rasanya.

Jadi ya gitu lah, pas nganggur mikirnya : materi apa ya buat jadwal jaga minggu depan supaya ndak krik krik. πŸ˜€ Kalau sudah nemu materinya, cari di IG orang yang kompeten di bidang tersebut. Lanjut PDKT in lewat DM. Kalau cocok ya undang ke grup, kalau ditolak ya cari orang lain. Begitu terus. Maklumlah, ini kan grup wa non profit jadi ndak bisa ngasih feedback berupa materi.

Continue reading

Cerita MPASI si A

Sepanjang masa A MPASI, A relatif tanpa keluhan alergi atau pilih- pilih makanan. Kalau dirunut dari awal, memang sejak hamil dan menyusui saya makan tanpa pantangan. Lagi- lagi saya bersyukur berada di tengah- tengah keluarga dan suami yang berpikiran terbuka. Jadi kalau ada nasehat ini itu dari kanan kiri, langsung  wa Dokter dan Bidan, tanya dulu. πŸ˜€ Atau cepetnya,  konsul sama mbah gugel.

Masa MPASI A tiba pada usia 5 bulan 11 hari. Tadinya was- was karena belum 6 bulan tapi Bidan bilang β€œGak apa- apa Bund, A sudah butuh, kuatirnya malah telat.” Dan saya yang kurang pengalaman sekaligus tidak memiliki ketrampilan memasak, pasrah menu pertamanya diracik Yangti-nya. Menu pertama A sangat tidak instagrammable, tidak layak dipamerin, dan beresiko dihujani komentar netijen. Apakah itu? Bubur diublek sama kuning telur. Saya aja nggak bisa makan saking amisnya, gitu kok dikasih ke anak. 😦 Maaf ya A.

Dari rasa bersalah itu, hari berikutnya saya buatkan bubur yang memenuhi 4 bintang ditambah lemak tembahan. Seminggu kemudian, saya beralih ke bubur homemade pinggir jalan. Hehe. Why? Lebih praktis dan hemat. Rasanyapun enak dan menunya ganti terus tiap hari. Lagipula penjualnya banyak, jadi seminggu beli di merk ini, minggu depan disana, dan seterusnya. πŸ˜€ Itupun nggak lama. A delapan bulan, kalau siang dan malam sudah makan menu rumah yang disaring. Paginya? Ya teteuupp ke langganan tapi sudah naik tekstur ke nasi tim. Hihihi.

Continue reading