Diapers #2

(Sebelumnya, saya menulis tentang diapers disini…)

Saya tentu saja berharap bisa menjadwal jam BAK dan BAB si A seperti ibuk yang sukses melakukannya pada ketiga anaknya. Sayangnya, saya sudah terlanjur ketergantungan dengan nikmatnya pospak (popok sekali pakai) a.k.a diapers ini. Ahh..  

A sejak di RS sudah dipakaikan diapers untuk newborn. Sewaktu di rumah, saya coba tanpa pospak. Hasilnya? A tidak bisa tidur, setiap pipis kebangun karena risih popoknya basah. Malah kasihan. 😦 Belum lagi, cucian menumpuk yang bikin si mas kwalahan. 

Jadi, saya mencari- cari pembenaran penggunaan pospak untuk A. :p Pertama adalah problematika bentuk kaki yang cenderung mengangkang saat memakai pospak, ternyata telah terbantahkan. Anatomi kaki bayi sejak di rahim memang berbentuk M. Ini populer bagi ibu- ibu penganut aliran

Continue reading

Advertisements

Begadang? No More!

Saya menjalani hari- hari begadang setiap malam selama 2 bulan. 😀 Ini sukses menurunkan berat badan pasca persalinan. Hehe. A tidak pernah menangis berlebihan, hanya saja dia tidak mau ditaruh, alias maunya gendong kemana- mana. 

Mungkin… karena kebiasaan dari minggu pertamanya, saya tidak bisa menyusui sambil tiduran. Dan kalau dengan dot, nggak tega semisal dia minum dalam posisi terlentang, kuatir keselek. 😀

Segala cara dicoba, mulai dari rutinitas ganti baju tidur, membersihkan tubuh pakai air hangat, baca buku, sudah semua. Matiin lampu? Jangan ditanya. A tidur dengan lampu redup sejak tiba di rumah. Masih belum berhasil.

Ajaibnya, kebiasaan A begadang hilang hanya dalam satu malam. Sejak saya resmi relaktasi dan minta A full asi, ia tidur dengan baik sepanjang malam. Setiap selesai saya ngajar, jam setengah 8 langsung bersih- bersih badan sebentar, masuk kamar, matiin lampu, tidur. 😀 A bangun jam 7 pagi, sekiranya saya masih capek, A juga akan bubuk lagi kalau disusui. Hehe.  

Perubahan pada diri saya juga terjadi dalam semalam tersebut. Sebelumnya, saya adalah orang terakhir yang bangun kalau A menangis. Suami sampai kesel sendiri, bisa- bisanya saya tidur nyenyak. 😀 Barangkali relaktasi membuat insting keibuan saya ter-install dengan baik. Seringnya malah sudah nggak ingat lagi berapa kali A menyusu dalam semalam. Dan heran juga bagaimana saya bisa tahu A lapar lalu berpindah posisi di sebelah kanan atau kiri A secara tidak sadar. Haha. 

Saat kembali membaca kenapa bisa begini dan begitu, saya ketemu dengan tulisan yang berbunyi, “di asi ada tryptophan yang digunakan tubuh untuk memproduksi melatonin. Hormon tersebut membantu bayi tidur nyenyak di malam hari. Bagi ibu, direct breast feeding saat malam membantunya tidur lebih lama.” Nah! Kenapa baru nemu ini setelah dua bulan lamanya. :/

Hal lain yang bikin A sulit tidur adalah kekenyangan. Jangankan bayi, orang dewasa saja kalau perut kenyang terus dibuat tidur kan nggak nyaman. :/ Padahal selalu saat malam, apabila A menangis diberi dot karena dikira kelaparan dan asi kurang. Faktanya, bayi menangis bukan hanya karena lapar. Bisa jadi ia memang butuh kenyamanan, yang biasanya ia dapat dari menghisap. Baik menghisap tangannya sendiri, empeng, atau PD ibu.   

Kini, saya percaya bahwa menjadi ibu ada ilmunya, meskipun nggak ada sekolahnya. Beruntunglah ibu jaman sekarang, akses informasi ada di genggaman, mau tanya segala hal, google sudah sedia beraneka jawaban. 😀 Yuk ah, jadi ibu yang berdaya. 

Sukses Relaktasi

Gagalnya A asi eksklusif murni karena kesalahan saya yang kurang ilmu. Yes, meng-asi-hi itu ada ilmunya. Dan sebagai ibu baru, seharusnya 9 bulan kehamilan saya belajar tentang asi, tidak melulu fokus tentang lahiran normal yang ujungnya SC juga. 😦 Ahh…

Syukur A tidak mengalami bingung puting, malah saya menganggap A tahu persis apa yang dia mau. Pernah sewaktu menangis, asi sudah keluar tapi tidak mau minum. Bisa tenang setelah diberi dot. Di lain waktu, ia diberi dot sufor nggak mau minum, maunya menyusu. Hehe.

Alasan besar yang membuat saya menunda- nunda relaktasi adalah karena tidak ada dukungan. Seringnya justru diremehkan. Apalagi A pernah kuning akibat saya kekeuh asi x. Tapi saya terus berpikir, kalau asi cukup kenapa mesti ditambah sufor? Ya kalau dulu PD masih kosong, sekarang kan nggak.

Saya membaca kutipan dari akun instagram @asiku.banyak bunyinya kurang lebih begini :

Continue reading

SC Tanpa Trauma

Perkenalan saya dengan gentle birth adalah dari foto lahiran Andien di instagramnya. Pencarian saya lanjut di akun- akun lain hingga ketemu @bidankita. 

Obsesi tentang melahirkan spontan, lembut, hangat, dan minim intervensi sudah menjadi obrolan sehari- hari dengan ibu, bapak, dan suami. Saya kemudian mengingat kembali sewaktu membuat kamar mandi lengkap dengan bathtub dan pemanas air. “Jangan- jangan saya ditakdirkan untuk melahirkan di rumah.” 😀

Lanjut, saya membeli buku tentang gentle birth beserta CD tutorial pernafasan dan gerakan yang dibutuhkan untuk persiapan persalinan. Lebih dari itu, saya juga cari informasi doula (pendamping persalinan) di seputaran Kertosono, yang ternyata adanya di Surabaya. :/ Biaya untuk mendatangkan beliaunya ke rumah tidak murah, jadi urung. 

Saya mencari di Kediri – Nganjuk – Jombang praktisi senam pranatal. Tak mendapat hasil,

Continue reading

Si Minion-nya Mama

(Sambungan dari tulisan ini…)

Segera cari informasi ini itu di google tentang kuning bayi. Ternyata sesuai dengan yang Bu Simbi bilang, “asal masih 14 hari pertama wajar. Rutin disusui setiap 2 jam dan dijemur pagi 15 menit, nanti sembuh sendiri.” Benar, berangsur- angsur kuning A berkurang. Supaya tidak berlarut dalam sedih, A berubah panggilan menjadi minion. Bayi kecil mama yang kuning. ;D

Tentang begadang setiap malam, pernah saya alami dengan suami. Malam pertama di rumah, kami sempat bertengkar karena A menangis dan susu yang dibuat sampai ganti 2 kali masih terlalu panas bagi saya. Begitulah… mama papa baru. Hehe.

Asi mulai lancar saat A berusia 4 hari. Namun, A masih diberi sufor karena kuatir kurang. Sufor diberikan hanya saat saya tidur atau kecolongan dibuatin eyang utinya sewaktu ditinggal ngajar. :/ Fyi, A sudah full asi sejak 2 bulan setelah proses yang panjang. 

Suami masuk kerja setelah seminggu cuti. Hari- hari berdua dengan A saya lewati tanpa kesusahan yang berarti. Selain karena memang A tidak merepotkan juga karena banyak yang membantu. A cucu sekaligus buyut pertama di keluarga saya. 😀

Di usia 7 hari, kontrol pertama ke dsa (dokter spesialis anak) A disarankan untuk uji lab karena

Continue reading