batal main

tulisan ini panjang dan menebarkan kebencian. ditulis hanya untuk melegakan pikiran.

Saya baru saja menjejak kaki di depan rumah saat diberi kabar, “adekmu nggak bisa main, Mbak.”

Masalah intinya adalah tidak ada yang ikut TM. Barusan saya kontak guru olahraganya, “loh? kan yang ikut TM njenengan Mbak.” Padahal undangan TM sudah saya kirimkan 9 Des lalu via WA ke gurunya.

Saat saya sertakan screen capture-nya, beliau bilang, “oh iya mbak, hapenya dibuat mainan anak saya jadi nggak tahu.” :/ *ambil nafas panjang

Bapak juga nggak datang TM, “gampang. Nanti titip Pak Z.” Beliau pelatih di klub lain dan teman baik Bapak. Lagipula info lomba juga dari beliau, jadi pasti Pak Z memihak adek. Sayangnya, pada saat TM, Pak Z berhalangan hadir.

Nah, yang jadi sasaran telah lalai dari tugas adalah saya. Seharusnya saya yang ikut TM. Ahh!

Continue reading

Advertisements

rak buku, workshop, dan surat kerjasama

Sepertinya lama sekali saya nggak nulis, hehe. Kepala penuh dan bingung mengurai cerita satu persatu.

3 minggu lalu murid UAS gantian. Jadwal ngajar saya penuh, pagi juga. Si mas bilang, “nggak usah nemen- nemen kerjanya, Dek.” Padahal saya mikirnya nggak sedang kerja. Saya senang ketemu anak- anak dan belajar bareng mereka.

Lalu, mulailah andalan si mas, “seneng mana sama ketemu aku?” Duh! 😆

Kemarin hari terakhir ngajar semester ini dan jadi sedih sendiri karena akan nganggur sampai 2 Januari. Lama sekali. Padahal minggu- minggu sebelumnya rindu liburan, eh pas libur beneran bingung juga mau diisi apa, selain nungguin suami pulang. :/ Ahh..

Yasudahlah, kerjakan nanti apa yang ada. Bersih- bersih kelas dan rak buku misalnya.

Yah.. Akhirnya, untuk pertama kali, setelah Continue reading

Kabar Gembira, UN Batal Dihapuskan

Sore tadi dapat kiriman WA dari murid. Katanya, “Mbak, akhirnya… ” disusul gambar berita dari TV dengan tagline : Moratorium UN Ditolak. USBN yang kabarnya siap 70% tidak diterima presiden. Semoga ini keputusan final. Pasalnya, 5 bulan bukan waktu yang lama, kasihan anak- anak tidak kunjung mendapat kepastian.

Kalau UN tetap dilaksanakan, yang harus diingat oleh pemerintah adalah pelaksanaannya diperbaiki. Jangan lagi ada alasan : distribusi terlambat, salah soal, soal kurang, dan sebagainya.

Dan lagi.. satu hal yang juga bapak menteri ingat : menaikkan standar nilai tanpa disertai perbaikan kualitas pendidikan hanya akan memperbesar kemungkinan adanya kecurangan. 🙂

Ah..petinggi- petinggi disana pasti sudah tahulah langkah terbaik.

Semoga UN tahun ini berjalan lancar.

**Besok UAS hari terakhir. Jadi anak- anak, selamat liburan!

mood booster

Sabtu yang mendung. Sepagian saya mandeg di depan laptop, berusaha bisa nulis artikel buat majalah yang tenggatnya tanggal 5 besok. Mas pimred sudah ngirim pesan di WA tanggal 1 lalu, “mbak, empat hari lagi ya.” Duh!

Sementara, kertas berisi kisi- kisi UAS SMP dan SD numpuk di meja minta segera dijamah untuk berubah menjadi soal latihan pertemuan seminggu kedepan. Tapi kepala masih kosong. Ditambah lagi kenyataan kalau si mas kesininya besok pagi.

Tetiba, semesta seperti mengerti kalau mood saya sedang dalam titik 0 – minus malah, ia membuat hape berbunyi. Kekasih! My own mood booster!

“Halo.. bisa bicara dengan Bu Tutus? Saya komandan intelejen NKRTI, Negeri Kesatuan Rumah Tangga Indonesia, meminta Ibu untuk menjalani pemeriksaan di Surabaya. Segera. Kalau menolak, akan diciduk paksa dan tidak dipulangkan.” 😀

“Salah sambung, Pak!”

Lalu rentetan cerita menemukan muaranya. Dan.. Continue reading

USBN, nama baru UN

Nggak tega memberi kabar ini pada murid. 😦 Saya menghindari menciptakan ketakutan siswa pada ujian. Kenapa? Ujian itu hal yang wajar! Sekolah salah satu bentuk berproses dan untuk mengetahui sejauh mana proses yang kita lakukan, ya dengan ujian. Meskipun, saya kurang setuju dengan teknis ujiannya. :/

Kalau ada yang berpendapat, “sekolah 3 tahun hanya untuk ujian kelulusan 3 hari.” Kalau kita benar dalam berproses, 3 hari ujian nggak akan jadi masalah besar. Iya kan?

“Yang penting proses belajar 3 tahun itu..” kata sebagian orang mencari alasan. Menurut saya kurang tepat. Seseorang terlihat besar karena hasilnya. Prosesnya? Nggak ada yang peduli, kecuali nanti kalau mereka sudah punya nama. Sebut saja Steve Jobs dan Bill Gates kalau mereka tidak menghasilkan sesuatu, akan se-terkenal sekarang? Hmm..

Standar nasional sekarang belum optimal karena yang diujikan dalam UN hanya beberapa pelajaran. Dengan USBN maka akan dilakukan untuk semua pelajaran.~ Menteri Pendidikan

Yahh.. akhirnya, UN pasti dihapus. Tapi Continue reading