matahari dan bulan

Anisa datang pada Adrian dengan raut berbinar. “Kak Adrian sudah menunggu lama?” Adrian menatapnya, berharap Anisa tahu bahwa ia menunggu sejak matahari masih mengintip malu hingga akan bersemayam kembali di peraduannya.

“Maaf ya Kak, aku masih ada keperluan di rumah.” Adrian mengangguk dan menggeser duduknya. Anisa mengambil tempat di sebelah Adrian.

“Kak Adrian? Ada sesuatu?” wajah Anisa berubah.

“Tidak, hanya saja.. Aku merasa tidak enak badan.”Adrian membuang pandangnya jauh.

“Kak Adrian bohong. Aku kenal kakak lama, coba tanyakan padaku apa yang tidak ku tahu dari Kak Adrian?” Sahut Anisa bangga. Adrian diam tak ingin menanggapi.

“Kak Adrian seperti matahari. Dan aku melihatnya dari segala sisi setahun ini. Jadi bagaimana bisa ada yang terlewat olehku?” Anisa tersenyum.

“Ohya.. Kalau Kak Adrian matahari, aku gag mau jadi manusia. Aku bulan saja, ya Kak? Kak Adrian jangan diam saja..” Pintanya manja.

“Iya.. Anisa bulan.” Adrian mengambil jeda, “Yang meskipun aku mengenalnya lama dan senantiasa menghujaninya dengan sinar cinta, masih saja ada sisi gelap yang aku tak bisa melihatnya.” Ucapnya lebih pada dirinya sendiri. Anisa menunduk dalam diam.

“Anisa berbeda. Apa Anisa benar bulan?” Adrian menatap Anisa, “apa Anisa benar bulan yang sudah menghamba pada buminya?”

Anisa tak kuasa menahan tangis. Ia membekap mulutnya, menatap Adrian lama dan berlari pergi.

**ceritanya gag jelas se-gag-jelas yang nulis.

2 thoughts on “matahari dan bulan

^^Siilahkan berKomentar.. ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s