wisudanya calon negarawan

Di post ini saya sudah cerita kalau Dek Afam barusan wisuda, nah sekarang mau cerita lengkap prosesi wisudanya. Kalau dibandingkan dengan wisuda saya, wisuda adek jauh-jauh-jauh lebih sakral. Suasana yang dibangun keren banget. Mungkin karena yang diwisuda hanya 160 an mahasiswa, sementara saya dulu 2000an. Hoho.

Bertempat di ballroom Hotel Atria Malang, acara dimulai pukul 7.00 dan sepanjang yang saya ingat, tidak ada yang ngaret dari jadwal. Ibu, bapak, mak (panggilan untuk nenek), Dek Fifi, dan saya mendapat tempat yang kurang begitu bagus, di pojok kanan yang tidak terlalu belakang, pun tidak terlalu depan. :D Sembari menunggu masuknya wisudawan, kami disuguhi suara apik dari paduan suara Universitas Brawijaya (yang saya lupa apa namanya). Cover lagu roar-nya Kety Perry bikin saya jatuh cinta! Bagus!

Acara dibuka dengan pantun- pantun oleh MC. Ada satu yang masih keinget (itupun dengan gubahan) :

Anak ayam ada sembilan
Mati satu tinggal delapan
Terlihat senyum tampan dan menawan
Selamat wisuda calon negarawan Continue reading

sudah lulus, lalu?

Selasa (5/11) lalu, Dek Afam diwisuda oleh sekolah tempatnya menimba ilmu setahun ini. Ia salah satu lulusan dengan predikat sangat memuaskan dari D1 Kapabean dan Cukai STAN. Arus waktu menyeret saya kembali ke Oktober tahun lalu. Ya.. hari wisuda saya. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saya, adek tinggal menungu tanggal TKD (Tes Kemampuan Dasar) untuk kemudian penempatan dan resmilah statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Sedang saya? Terus menerus bertanya, setelah ini mau kemana?

Sepanjang perjalanan Surabaya – Kertosono, mata saya tak dapat terpejam. Apa arti wisuda saya? Apa arti selembar kertas dengan gelar di belakang nama saya? Bagaimana saya akan melanjutkan hidup? Kelulusan ini, apa ada maknanya?

Sanak saudara jauh saya hubungi, sejak lama beliau- beliau menawari kerja ke luar Jawa. Namun, impian itu tampak terlalu muluk. Ketakutan demi ketakutan menghantui sepanjang malam. Bagaimana jika iming- iming kerjaan itu bualan? Bagaimana jika nasib saya di perantauan berakhir dengan Continue reading

harinya Dek Fifi

Akkk… Adek Fifi udah genap 10 tahun hari ini (11/11). Selamat ulang tahun! :)

Sepanjang yang saya ingat, kami bertiga tak pernah bertengkar. Iri satu sama lain mungkin ada tapi tak jadi soal besar. Yang hebat tentu saja orang tua kami! Tapi, Dek Fifi belakangan ini sedikit marah. Ia mengeluh ulang tahunnya tak pernah dirayakan. Maklumlah, Dek Afam ulang tahun tanggal 15 bulan ini pula, jadi pasti dibarengin sekalian di tanggal itu. Hoho. Nah, tahun ini harus beda.

Sebelum hari ini datang, adek saya terkena sedikit masalah. Keikutsertaannya pada pertandingan bulutangkis Lamongan dibatalkan. Ceritanya panjang, intinya dia didaftarkan atas nama klub lain tanpa seijin PB (Persatuan Bulutangkis) resminya. Adek saya punya potensi dan bakat besar, jadi wajar dia jadi rebutan klub tempatnya berlatih. Yaa.. Adek punya tambahan latihan privat selain di PB nya. Ini yang membuat hari- harinya belakangan ini murung. Kecewa? Pasti!

Ibu bingung, enaknya diapain di hari ulang tahunnya supaya dia senang. Rencananya akan dibelikan sepeda lipat kalau Continue reading

sehari bersama Ayu Utami

Rasanya seperti nemu segunung duren jatuh di depan mata, gampang bukanya, ditambah lagi enak! :D Senang kan ya? Banget! Nah, sesenang itu juga pas saya ketemu Ayu Utami kemarin (11/10) di perpustakaan Kota Malang. *ini post emang telat tayang*

Dulunya, saya sekedar baca buku terus bilang ini bagus dan ini tidak. Ada pula pengarang yang masuk blacklist tapi belum juga nemu pengarang siapa yang saya idolakan. Sampai akhirnya Bilangan Fu mengubah pandangan saya *halah. Buku setebal kamus Inggris – Indonesia itu sukses membuat saya langsung jatuh hati pada pengarangnya, Ayu Utami.

Beberapa bulan setelahnya, hampir semua bukunya sudah ada di rak. :D Susah milih mana yang favorit karena selesainya membaca buku satu, saya merasa itu karya terbaik. Eh, baca buku berikutnya, itu karya terbaik juga. Begitu seterusnya, sampai ketemu Seri Bilangan Fu terakhir, Maya. Kini, saya tidak sabar menunggu 9 seri lanjutan yang dijanjikan. :D

Mungkin pengarang yang saya kenal tidak banyak, sehingga berlebihan dalam menilai. Tapi gimana ya? Jatuh hati beneran sih. Jadi kalau bandingin sama pengarang yang lain, pasti ujungnya Continue reading