harapanku menyublim

“Jahat! Jahat! Kamu jahat!” Ia memukuliku dengan kedua tangan saat pintu kubuka. “Kenapa handphone-mu mati? Kenapa semua private message-ku gak kamu balas, Hen?”

Aku teringat bagaimana kisahku dimulai. Aku mencintainya sejak kami berseragam putih biru. Ia, gadis berkuncir dari kelas tetangga yang mencuri hatiku pada pandangan pertama. Senyumnya bisa menyihirku. Renyah suaranya selalu kurindukan. Aku selalu berusaha mendekatinya. Sayangnya, cintaku bertepuk sebelah tangan.

SMA, takdir menjodohkanku dengannya. Kami sekelas hingga lulus. Bahkan juga se-ekstra, lebih tepatnya karena aku yang menyamai aktifitasnya. Sering aku berkunjung ke rumahnya, ia pun juga sama. Andai ia mencintaiku waktu itu, kami pasti sudah menikah kini. Tapi Tuhan tidak rela, kami diterima di universitas yang berbeda. Sejak itu, kami tak lagi berhubungan.

“Hen, aku ini apa sih?” Arus waktu melemparkanku kembali
Continue reading

Dek, merokok itu membunuhmu, cius!

If you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventuall come to believe it. –Joseph Goebbels Nazi

Begitulah cara propaganda. Kebohongan yang terus diulang akan dipercayai sebagai bentuk kebenaran yang baru. Iklan rokok, salah satunya. Ia mengkampanyekan gaya hidup keren, maco, gaul, percaya diri, dan setia kawan. Hal inilah yang menyesatkan fase pencarian jati diri yang umumnya dialami remaja. Gencarnya industri rokok juga menyasar acara- acara berkumpulnya remaja, misalnya event musik dan olahraga.

Akhir 2012, penelitian dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak terkait dampak iklan rokok terhadap minat anak untuk merokok. Hasilnya, 93 persen dari 10 ribu anak usia SMP di 10 kota tertarik merokok dari media televisi. Sebanyak 34 persennya, tertarik merokok pada saat acara musik.

Tahun 2013, sebuah data menunjukkan mayoritas siswa laki- laki di Sekolah Menengah Pertama Jakarta kedapatan membawa rokok saat sekolah. Itu sembunyi- sembunyi, kini lebih banyak lagi yang tak malu, terang- terangan, bahkan di depan orang tuanya sendiri. Di sekitar tempat tinggal saya, kecamatan kecil, remaja putra banyak merokok di warung- warung kopi pingir jalan pada Continue reading

wisudanya calon negarawan

Di post ini saya sudah cerita kalau Dek Afam barusan wisuda, nah sekarang mau cerita lengkap prosesi wisudanya. Kalau dibandingkan dengan wisuda saya, wisuda adek jauh-jauh-jauh lebih sakral. Suasana yang dibangun keren banget. Mungkin karena yang diwisuda hanya 160 an mahasiswa, sementara saya dulu 2000an. Hoho.

Bertempat di ballroom Hotel Atria Malang, acara dimulai pukul 7.00 dan sepanjang yang saya ingat, tidak ada yang ngaret dari jadwal. Ibu, bapak, mak (panggilan untuk nenek), Dek Fifi, dan saya mendapat tempat yang kurang begitu bagus, di pojok kanan yang tidak terlalu belakang, pun tidak terlalu depan. :D Sembari menunggu masuknya wisudawan, kami disuguhi suara apik dari paduan suara Universitas Brawijaya (yang saya lupa apa namanya). Cover lagu roar-nya Kety Perry bikin saya jatuh cinta! Bagus!

Acara dibuka dengan pantun- pantun oleh MC. Ada satu yang masih keinget (itupun dengan gubahan) :

Anak ayam ada sembilan
Mati satu tinggal delapan
Terlihat senyum tampan dan menawan
Selamat wisuda calon negarawan Continue reading

sudah lulus, lalu?

Selasa (5/11) lalu, Dek Afam diwisuda oleh sekolah tempatnya menimba ilmu setahun ini. Ia salah satu lulusan dengan predikat sangat memuaskan dari D1 Kapabean dan Cukai STAN. Arus waktu menyeret saya kembali ke Oktober tahun lalu. Ya.. hari wisuda saya. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saya, adek tinggal menungu tanggal TKD (Tes Kemampuan Dasar) untuk kemudian penempatan dan resmilah statusnya sebagai pegawai negeri sipil. Sedang saya? Terus menerus bertanya, setelah ini mau kemana?

Sepanjang perjalanan Surabaya – Kertosono, mata saya tak dapat terpejam. Apa arti wisuda saya? Apa arti selembar kertas dengan gelar di belakang nama saya? Bagaimana saya akan melanjutkan hidup? Kelulusan ini, apa ada maknanya?

Sanak saudara jauh saya hubungi, sejak lama beliau- beliau menawari kerja ke luar Jawa. Namun, impian itu tampak terlalu muluk. Ketakutan demi ketakutan menghantui sepanjang malam. Bagaimana jika iming- iming kerjaan itu bualan? Bagaimana jika nasib saya di perantauan berakhir dengan Continue reading

harinya Dek Fifi

Akkk… Adek Fifi udah genap 10 tahun hari ini (11/11). Selamat ulang tahun! :)

Sepanjang yang saya ingat, kami bertiga tak pernah bertengkar. Iri satu sama lain mungkin ada tapi tak jadi soal besar. Yang hebat tentu saja orang tua kami! Tapi, Dek Fifi belakangan ini sedikit marah. Ia mengeluh ulang tahunnya tak pernah dirayakan. Maklumlah, Dek Afam ulang tahun tanggal 15 bulan ini pula, jadi pasti dibarengin sekalian di tanggal itu. Hoho. Nah, tahun ini harus beda.

Sebelum hari ini datang, adek saya terkena sedikit masalah. Keikutsertaannya pada pertandingan bulutangkis Lamongan dibatalkan. Ceritanya panjang, intinya dia didaftarkan atas nama klub lain tanpa seijin PB (Persatuan Bulutangkis) resminya. Adek saya punya potensi dan bakat besar, jadi wajar dia jadi rebutan klub tempatnya berlatih. Yaa.. Adek punya tambahan latihan privat selain di PB nya. Ini yang membuat hari- harinya belakangan ini murung. Kecewa? Pasti!

Ibu bingung, enaknya diapain di hari ulang tahunnya supaya dia senang. Rencananya akan dibelikan sepeda lipat kalau Continue reading