a sudden reminder of the past

Sinar matahari tampak pecah saat ku tatap, terik menyilaukan mata. Aku kembali ke meja dengan buku- buku berserak, ada tugas belum terselesaikan. Lalu, entah karena terlalu berkosentrasi atau apa, langit berubah gelap saat kembali ku dongakkan kepala ke jendela. Aku bergegas keluar, menuruni tiga lantai. Bangunan ini sama sekali tidak asing, gedung utama SMA-ku.

R, teman sekamar waktu SMA, menyapa. Kemudian kami bercerita tentang banyak hal. Lama kami tak bertemu, aku masih terkejut dengan ini. Ya.. karena bahkan saat masih sekamarpun kurasa kami tak pernah seakrab ini.

Aku baru akan menyalakan motor saat seorang senior mengagetkanku, tak perlu kusebut namanya
Continue reading

hay fever

Beberapa hari ini, hal yang saya lakukan di pagi hari adalah menggulung daun suruh lalu memasukkannya pada kedua lubang hidung. Sambil menengadahkan muka, saya terbayang bagaimana jika suruh ini adalah kapas. Pikiran semacam itu membuat saya ngeri. Bagaimanapun juga, saat itu akan datang, entah mau atau tidak.

Belum ada perubahan, sejauh ini, malah saya merasa hasilnya percuma. Saya tetap alergi dengan debu dan masih alergi dengan dingin. Saat menyentuh air untuk berkumur sebelum sahur saja sudah membangkitkan alergi, membuat saya bersin hingga kelelahan. Sejujurnya, itu menyiksa.

Ibu pernah berkata suatu kali, “lah sampean iku lek wes menikah pie? Pas cuci baju apa cuci piring, bersin- bersin. Pas bersihin kamar, nyapu rumah, ya bersin terus. Lha kalau di sini aku ngerti, tak tandangi kabeh. Lah kalau punya suami yang gak kasihan, pie?” Saya gak ngerti mesti jawab apa. Ibu ada benarnya.

Sebelum tidur, saya mengambil sarung atau sprei baru untuk alas tidur, kalau tidak, saat pagi Continue reading

playlist

Saya sedang tidak ada ide akan menulis apa. Entah sudah berapa ratus detik saya habiskan hanya untuk menatap putih layar new post. Kenapa? Rasanya ada yang kosong disini (*nunjuk dada) tapi ada sesuatu.. ya sesuatu! Yang kerap membuat bernafas menjadi kian berat. Sudahlah. Mari bersenang- senang. :)

Belakangan, sudah beberapa murid kembali mengisi hari- hari saya. Senang? Sudah pasti! Tapi saya sedang tidak ingin membahasnya lebih panjang meski saya masih belum tahu akan menceritakan apa.. :lol:

(inhale.. exhale.. inhaleee.. exhaleeee.. inspirasi kumohon datanglah!)

Nah.. Begini. Saya mau pamerin playlist saja yaa. Barangkali dengan melihat lagu yang menemani hari- hari saya, pembaca sekalian (*tsaahh) bisa tahu perasaan saya. Jadi keinget penah baca : listen carefully to the song i sing because the lyrics mean everything iam trying to say.

^We Can’t Stop – Saya gak tahu kenapa lagu ini Continue reading

meracau

Saya sedang ingin menulis malam ini. Tentu saja akan, lagi- lagi, tanpa isi, maafkan ya! :D

Belakangan ini saya sedang getol menonton serial Coffee Prince. Serial ini terbilang so yesterday¸biar saja, wong memang saya baru tahu. Sejak lama saya benci menonton serial karena pemotongan per-episodenya bikin penasaran hingga hampir gila #halah. Terakhir kali saya nonton drama beberapa tahun lalu, 49 days. Saya ikutin dari awal, setiap hari kepikiran apa yang akan terjadi, ehh… episode terakhirnya anti klimaks banget! Menyebalkan. Saya kapok.

Lalu, apa yang membuat Coffee Prince berbeda? Pertama karena episodenya sedikit (setelah saya browsing), cuma 17. Sehari tayang 3 kali, untuk episode yang sama. Jadi kalau saya ketinggalan yang siang, bisa nonton malam, kalau ketinggalan juga, masih ada yang tengah malam. Dan yang lebih menyenangkan lagi adalah tidak ada iklannya! Berasa nonton dari DVD. :D

Drama Korea hampir selalu mempunyai cerita dengan 2 tokoh lelaki dan 2 perempuan. Di awal cerita, 2 lelaki ini menyukai satu perempuan yang sama, anggap saja si A. Lalu masuklah tokoh sentral, si B, yang membuat dua tokoh lelaki jatuh hati. Namun, pada akhirnya masing- masing tokoh mendapat pasangannya dan bahagia selamanya. Begitu juga di Coffee Prince ini, sama! Saya tidak akan menyebut nama tokohnya karena gak hapal meski ini sudah jalan 10 episode :lol:, tapi saya jatuh hati dengan tokoh lelaki yang berkacamata. Memang bukan tokoh utama sih tapi menurut saya lelaki berkacamata selalu tampak lebih Continue reading

ulang tahun

Hari itu Jumat, kamu berulang tahun, begitu kata mereka. Aku bahkan tidak tahu usiamu berapa. Pun tak sempat menyiapkan hadiah. Aku mengirimimu doa pada sebaris pesan. Malah kamu memberiku kitab. Ahh.. aku masih menyimpannya.

Tahun berikutnya, aku tertarik untuk mengirim pesan suara. Aku hanya tak ingin seperti teman- temanmu yang lain.

Ingatanku melemah,beberapa ulang tahun setelahnya aku lupa. Selalu, aku ingin menjadi yang pertama mengirimkan ucapan selamat. Fitur handphone membantuku : pesan terjadwal. Lebih praktis daripada terbangun tengah malam, kilahku. Waktu itu aku bukan orang manis untuk hubungan penuh aksesoris, yang penting efisien.

Lalu kamu menyindirku, aku terganggu. Kuputuskan untuk menanti pergantian malam tiba, parahnya aku justru tertidur saat merangkai ucapan selamat. Saat terbangun, matahari sudah tinggi dan meski malu, kukirimkan juga ucapan itu. Kamu memaklumi. Seperti biasa.

Detak jam di kamar ini berjalan malas. 60 detik sebelum ulang tahunmu tahun ini. Kulirik handphone di meja sekilas, malam ini ia tak kuperlukan. Aku menarik selimut dan Continue reading